Home Buku Kesuksesan Adalah Hak Semua Orang

Kesuksesan Adalah Hak Semua Orang

1192
0
SHARE
Cover Buku Andy Noya diambil dari Bukukita.com

Sudah lama sekali saya selesai membaca buku “Andy Noya, Kisah Hidupku” terbitan Penerbit Buku Kompas Agustus 2015. Tapi baru kali ini saya membuat ringkasan. Buku setebal 436 halaman ini sangat ringan. Mirip sebuah novel yang berisi kisah nyata. Penuturannya juga sangat jujur. Tidak ada yang disembunyikan. Detail dan tidak bertele-tele. Tidak perlu mengernyitkan dahi untuk menyelesaikan buku ini. Setelah membaca sampai habis, saya mencoba meringkasnya dengan satu kalimat: Kesuksesan Adalah Hak Semua Orang, seperti saya tulis pada judul di atas. Mengapa? Andy Flores Noya adalah orang susah yang kemudian sukses baik sebagai seorang wartawan maupun presenter televisi.

Meski keturunan Londo (Ambon, Jawa, Belanda, Portugis), masa kecil hingga remaja Andy Noya sangat memprihatinkan. Bukan hanya susah secara ekonomi tapi juga harus hidup terpisah dari ayahnya, Ade Wilhelmus Flores Noya. Ia lahir di Surabaya 6 November 1960 dan menghabiskan masa kecil dan remaja bersama ibunya, Nelly Mady Ivonne Klaarwater, di kota pahlawan itu. Sementara sebagian masa remaja, ia tinggal bersama sang ayah di Jayapura. Semua dilewati dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan.

Di Surabaya, Andy harus tinggal di ruang sempit bersama ibu dan dua saudarinya. Mereka berbagi ruang dengan neneknya pada sebuah rumah kecil di sebuah gang kecil. Ia juga sempat tinggal di rumah kontrakan bersama ibu dan satu saudarinya. Satu saudari lainnya tinggal dalam asrama di Malang. Ibunya sempat bekerja sebagai seorang karyawati sebuah restoran sebelum kemudian berprofesi sebagai tukang jahit. Andy pernah dihadiahi baju baru yang terbuat dari bahan bekas sisa jahitan ibunya pada hari ulang tahunnya. Meski terlalu ketat, ia senang bukan kepalang mendapat hadiah dari sang bunda.

Masa kecilnya, Andy terbilang nakal dan pemberani. Ia melawan anak-anak di gang yang suka meledeknya karena bentuknya yang lain dari mereka. Ia juga sempat bergabung dengan sebuah kelompok geng di gang tempat tinggalnya di Surabaya. Andy juga gonta ganti sekolah mulai dari Surabaya hingga Malang. Yang paling berkesan adalah ketika ia pindah ke Malang. Pasalnya, bakat menulisnya sudah terendus di kota ini oleh ibu gurunya. Inilah cikal bakal moncernya karier jurnalistik Andy di kemudian hari. Belakangan, ibu guru ini diundang Andy sebagai nara sumbernya di acara Kick Andy. Andy juga membantu ibu ini secara finansial.

Hingga remaja, Andy tidak pernah tahu seperti apa wajah ayahnya. Sampai pada suatu ketika, ayah Andi yang tinggal di Jayapura datang ke Surabaya untuk berkumpul bersama keluarganya. Tapi kebersamaan ini tidak berlangsung lama karena sang ayah yang dilukiskannya sebagai pria yang kurus kembali ke Jayapura. Belakangan Andy menyusul ayahnya ke Jayapura naik kapal laut selama satu minggu. Ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Teknik Menengah STM. Meski sekolah di STM, Andi tidak pernah berhenti menulis. Malahan, ia semakin jago.

Di Jayapura, kehidupan Andy tidak kalah susahnya. Ayahnya hanya bekerja sebagai tukang perbaik mesin tik di kantor-kantor pemerintah. Keduanya tinggal di kamar kontrakan yang sangat sederhana. Ketika komputer mulai menggantikan peran mesin tik maka profesi ayah Andy semakin susah. Kehidupan ekonomi pun makin sulit.

Ibu Andy juga pernah datang ke Jayapura untuk tinggal bersama sang suami dan Andy. Tapi tidak bertahan. Hidup susah membuatnya kembali ke Jawa. Hanya Andy yang kemudian bertahan tinggal dengan sang ayah. Keputusan ini sangat tepat karena ayahnya kemudian meninggal dunia di tangannya. Setelah kehilangan ayah, Andy merantau ke Jakarta dan melanjutkan pendidikan di STM 6 Jakarta hingga tamat.

Di Jakarta, ia nebeng dengan kakak perempuannya yang sudah menikah. Biaya kuliah dan transportasi pun dibantu oleh sang kakak. Karena memiliki bakat menulis, Andi memilih kuliah di Sekolah Tinggi Publistik, sekarang menjadi IISIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Kemampuan menulisnya semakin terasah selama menempuh pendidikan di tempat ini

Selama kuliah, anggaran dari sang kakak sangat-sangat terbatas. Ia harus pandai-pandai mengatur uang saku yang begitu minim. Sering kali ia naik turun bis tanpa bayar atau jalan kaki berkilo-kilo meter menuju kampus. Andy mulai sedikit terbantu setelah mendapat honor dari tulisan yang ia kirim ke berbagai media Ibukota. Kepiawaiannya menulis makin menjadi saat ia diterima untuk sebuah proyek buku “Apa dan Siapa Orang Indonesia” di Majalah Tempo. Di sini, ia berkenalan dan mewawancarai tokoh-tokoh penting republik ini. Selama menjalani proyek ini, Andy bukan hanya dapat gaji tapi juga pacar yang kemudian menjadi istrinya. Ia “menembak” sekretaris, Retno Palupi, yang usianya lebih tua.

Menapaki Kesuksesan

Kinerja Andy dalam proyek ini tergolong sangat bagus. Setelah proyek usai, ia kemudian menjadi rebutan. Ia ditawari bekerja di sebuah koran ekonomi yang baru akan terbit saat itu, Bisnis Indonesia. Pada saat bersamaan, Surya Paloh menawarinya bekerja di Harian Prioritas bentukannya. Andy Noya bingung. Akhirnya ia memilih bekerja di Bisnis Indonesia hingga menjabat sebagai redaktur sebelum akhirnya dibajak dan bergabung dengan Si Berewok di Grup Media.

Karier kewartawanan Andy selanjutnya banyak dihabiskan di Grup Media. Kariernya terus melesat hingga menjadi pemimpin redaksi Media Indonesia. Setelah jenuh di koran, ia lalu ingin berkarier di dunia televisi. Tapi Surya Paloh tidak mengizinkan Andy pergi karena Surya Paloh akan mendirikan televisi sendiri. Belakangan Surya Paloh mengirim Andy untuk “belajar” dunia televisi ke RCTI dan menjadi pemimpin redaksi di sana. Kebetulan saat itu RCTI sedang bermasalah dengan program Seputar Indonesia. Singkat cerita, Andy juga menuai sukses di televisi ini.

Setelah mendapat ilmu yang cukup dan Surya Paloh sukses mendapat izin siar untuk Metro TV, Andy Noya dipanggil pulang. Ia didapuk sebagai pemimpin redaksi televisi berita pertama di Indonesia itu. Di sini pun Andy menuai sukses besar. Puncak kesuksesannya adalah ketika ia memiliki acara sendiri bernama Kick Andy di Metro TV. Ini adalah acara berkelas dan tontonan berkualitas serta berkali-kali meraih penghargaan.

Setelah “bosan” di Grup Media dan ingin mencari tantangan baru, Andy memutuskan keluar. Meski dengan berat hati, Surya Paloh akhirnya rela melepaskan Andy. Sebelumnya, berkali-kali Andy ingin keluar tapi selalu dihalangi Surya Paloh. Andy sudah dianggapnya seperti adik sendiri dan bertangan dingin dalam memimpin media, meski sering kali Andy melawan keputusan Surya Paloh.

Kini Andy tidak lagi di Metro TV, tapi ia masih mengampu acara Kick Andy yang memiliki share tinggi. Selain itu, ia sibuk dengan karya kemanusiaan lewat Kick Andy Foundation. Ia berkeliling Indonesia membantu banyak orang dan masih banyak kegiatan lainnya. Ia juga memiliki acara lain di Kompas TV, meskipun gaungnya belum sebesar Kick Andy di Metro TV.

Intinya, Andy adalah seorang yang sangat sukses di dunia jurnalistik baik cetak maupun elektronik. Ia menapaki kariernya dari tingkat paling bawah hingga duduk di posisi paling puncak. Sejak awal, fokusnya hanya satu, yaitu jurnalistik. Tapi siapa sangka, hidup Andy Flores Noya cukup susah pada masa kecil, remaja, hingga mendapatkan pekerjaan pertama. Karena itu, jangan pernah takut bermimpi menjadi sukses. Cerita dan kisah sukses Andi Flores Noya menunjukkan bahwa kesuksesan itu adalah hak semua orang. Yang terpenting, jangan takut bermimpi menjadi orang sukses. (Alex Madji)