Ketika Ninok Leksono Telanjangi Jakob Oetama

Ketika Ninok Leksono Telanjangi Jakob Oetama

616
SHARE
Foto: Ciarciar.com

Saya baru selesai membaca buku “Yuk, Simak Pak Jakob Berujar” terbitan Penerbit Buku Kompas 2016. Seperti judulnya, buku ini berisi berbagai pepatah atau peribahasa yang diujarkan Pak JO di berbagai kesempatan, termasuk dalam pertemuan-pertemuan internal Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Ungkapan-ungkapan itu ada yang berbahasa Latin, Prancis, Inggris, hingga Bahasa Jawa. Semuanya memperlihatkan keluasan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki sang Bapak Pendiri KKG.

Sebagai penulis, Ninok tidak hanya menempatkan diri sebagai seorang wartawan. Sebab ia tidak hanya mencatat apa saja peribahasa yang diucapkan sang bos. Tapi pada saat bersamaan, ia memberi pemaknaan atas ucapan-ucapan itu. Istilah metafisikanya, ia mengabstraksi apa yang diucapkan. Lebih dari itu, ia juga memperkaya peribahasa atau istilah-istilah itu dengan kajian historis. Ninok tidak hanya menyodorkan teks tapi juga konteks. Itulah sebabnya, saya menilai, Ninok sungguh-sungguh “menelanjangi” Pak JO.

Apa yang dilakukan Ninok itu membuat peribahasa-peribahasa yang diucapkan Pak JO menjadi kaya makna dan nilai. Hebatnya lagi, nilai-nilai tidak bergelantungan begitu saja tapi juga dianut dan dijalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, Pak JO mengatakan apa yang ia jalankan atau mengerjakan apa yang ia ujar.

Karena itu pula, nilai-nilai tersebut tidak hanya menjadi konsumsi karyawan KKG tapi juga semua orang yang membaca buku ini. Semuanya menjadi nilai universal. Bisa dipakai siapa saja yang ingin menjadi sukses seperti Pak JO.

Ninok mengelompokkan peribahasa-peribahasa yang diucapkan Pak JO dalam empat bab yaitu tentang Media dan Pers, Politik, Etos Kerja, dan Falsafah Hidup. Pembagian ini mencerminkan kepenuhan hidupnya. Sebab, apa yang dia ucapkan sungguh mencerminkan kepribadiannya yang unggul dalam banyak hal.

Di bidang jurnalistik, ia bukan hanya contoh, model, dan teladan bagi para jurnalis, tapi juga inspirator. Ia adalah contoh wartawan yang sukses. Ia memulai karier dari bawah hingga memegang posisi puncak sebagai pemimpin redaksi. Karya-karya jurnalistiknya juga dibaca, menjadi referensi, dan memengaruhi banyak orang.

Ia juga seorang pengusaha sukses. Daripadanya bisa dipetik nilai-nilai positif dalam mengelola perusahaan yang baik dan benar. Dengan intuisi yang kuat ia bisa membangun Grup KKG menjadi perusahaan pers yang besar dan paling disegani di republik ini. Dengan caranya sendiri ia bisa membawa Kompas selalu lolos dari lubang jarum baik karena ancaman breidel dari penguasa maupun krisis ekonomi yang menimpa negeri ini.

Dalam dunia politik, JO memang tidak terjun dalam politik praktis. Beda dengan pengusaha pers lainnya yang mencicipi politik praktis. Tapi ia memiliki daya tarik yang hebat dalam bidang yang satu ini. Dengan caranya, terutama lewat tulisan dan pemilihan isu di ruang redaksi, ia ikut membangun kultur politik yang bagus dan sehat di republik ini.

Ketika usia makin senja, banyak pepatah yang digunakan sebagai falsafah hidup. Salah satu yang paling sering digunakan adalah istilah Latin, Providentia Dei atau penyelenggaraan Ilahi. Ini menjadi semacam rangkuman perjalanan hidup Pak JO yang datang dari desa kecil di sekitar Borobudur dan mula-mula “hanya” ingin menjadi guru tapi karena ada campur tangan Pater JW Oudejans OFM lalu berbelok menjadi wartawan dan akhirnya menjadi pengusaha media massa yang paling sukses. Di ujung kesuksesan itu, Pak JO merefleksikan bahwa ini semua hanya karena penyelenggaraan Ilahi. Sekali lagi, Porividentia Dei.

Buku ini sangat enak dibaca karena disajikan secara ringan. Anda tidak perlu mengernyitkan dahi untuk memahaminya. Walau ada satu dua salah ketik. Tapi rugi kalau tidak membaca buku ini. Apalagi, kalau Anda seorang wartawan. Selamat membaca. (Alex Madji)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY