Home Umum Ketika Rasa Kemanusiaanku Bergetar

Ketika Rasa Kemanusiaanku Bergetar

173
0
SHARE
Sumber Foto: Detik.com

Bom tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, 13 Mei 2018 sudah lewat seminggu lebih. Namun getaran kemanusiaan masih terasa. Terutama ketika foto, video, dan tulisan tentang para korban masih berseliweran di berbagai platform media sosial. Setiap kali melihat video dan foto atau membaca tulisan terkait korban, rasa kemanusiaan saya bergetar.

Padahal saya bukan orang Surabaya. Juga tidak pernah tinggal di kota pahlawan tersebut. Paling hanya berkunjung satu dua kali karena tugas liputan. Namun, hati saya ikut hancur begitu melihat video para korban bom di Gereja Katolik Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia (GKI), dan Gereja Pentekosta di Minggu kelabu tersebut. Begitu juga saat terjadi serangan bom di Poltabes Surabaya sehari setelahnya dan Polda Riau hari berikutnya.

Yang paling membuat saya tanpa sadar menitikkan air mata adalah ketika melihat Ibu Weny Angelina yang masih duduk di atas kursi roda dengan infus yang belum dicabut serta luka-luka akibat serpihan bom belum kering benar. Ia memeluk jasad dua putranya. Vincentius Evan Hudoyo dan Juandiego Nathanael Ethan Hudoyo sedang terbaring di atas tempat tidur dan sudah dipakaikan jas. Rapi. Mereka adalah korban bom di Gereja Katolik Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya. Dengan setengah memaksa dan dibantu, ia mencium kedua putranya. Satu demi satu. Setelah melihat itu tanpa sadar air mata meleleh.

Keesokannya, saya dan beberapa teman di kantor membicarakan video ini. Teman saya, seorang laki-laki dan memiliki dua anak, matanya berkaca-kaca. Bahkan, teman lain, seorang perempuan sampai terisak dalam tangis. Teman lain lagi melihat versi berbeda tentang korban bom yang sama. Ia mengaku juga menitikkan air mata saat menyaksikan adegan itu.

Padahal, baik saya maupun tiga teman tadi tidak punya hubungan dengan ibu yang kehilangan dua anak akibat bom Surabaya tersebut. Mereka bukan siapa-siapanya kami. Tidak ada hubungan darah. Meski begitu, kami adalah saudara dalam kemanusiaan.

Saya kira, orang dari agama apa pun, bila melihat rekaman video yang saya ceritakan tadi, pasti sedih. Hati juga tersayat. Kita yang melihat dari jauh saja begitu, apalagi sang ibu dan suaminya yang harus kehilangan dua buah hati mereka secara bersamaan. Ibu Weny itu sendiri juga belum pulih. Saat penguburan kedua putranya, ia datang masih dengan kursi roda. Terbayang, betapa hancur hatinya. Namun di tengah situasi seperti itu, ia bersama keluarganya justru memaafkan pelaku. Sebuah sikap yang luar biasa dan lahir dari kedalaman hati.

BACA JUGA:

Ya, rasa kemanusiaan memang mengatasi apa pun. Termasuk perbedaan agama. Kita boleh berasal dari dari macam-macam agama, tapi nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal menyatukan setiap insan. Nilai-nilai kemanusiaan ini juga mengatasi ruang dan waktu. Meski kejadiannya nun jauh di Surabaya, tapi kami yang di Jakarta dan (mungkin juga) di berbagai belahan lain nusantara bisa meneteskan air mata.

Nilai-nilai itu pula yang membangkitkan solidaritas kemanusiaan yang terjadi di Surabaya selama beberapa hari setelah bom. Bahkan, rasa kemanusiaan itu menjadi sumber kekuatan yang melahirkan gelombang perlawanan terhadap aksi terorisme dalam berbagai tagar di media sosial selama satu minggu pascakejadian teror bom.

Pada saat bersamaan, solidaritas kemanusiaan haruslah menjadi modal bersama dalam melawan setiap aksi teroris di berbagai daerah. Sebab, aksi bom bunuh diri dan berbagai jenis serangan para teroris lainnya pada dasarnya adalah serangan terhadap kemanusiaan. Karena itu, seharusnya nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal itu pula menyatukan setiap insan, bersama aparat keamanan, untuk melawan teroris. (Alex Madji)