Home Makanan Ketika Warung Kopi Mengepung Pasar Modern

Ketika Warung Kopi Mengepung Pasar Modern

129
0
SHARE
Salah satu warung kopi di Pasar Modern BSD (Foto: Ciarciar.com)

Minggu 18 November 2018, saya bergabung dengan beberapa wartawan Kompas sarapan bareng di Pasar Modern Bumi Serpong Damai (BSD). Setelah sarapan nasi tim di warung Bakmi Prima di Pintu Barat, kami bergeser ke warung kopi Rosso. Biar ngobrol-nya agak lebih enak. Sebab banyak pelanggan Bakmi Prima yang antre menunggu tempat duduk.

Warung kopi Rosso itu, tempatnya kecil. Dua lantai. Di depan pintu utama, hanya ada dua meja. Khusus bagi mereka yang ngopi sambil merokok. Begitu masuk, di lantai bawah, juga hanya ada satu atau dua meja. Tempatnya sudah dipenuhi sebuah mesin giling kopi arau grinder dan tempat meracik kopi dengan berbagai rasa oleh para barista muda.

Lalu kami diarahkan ke lantai dua. Saat itu, tempatnya penuh. Semua meja terisi. Ada sebuah meja kecil di ujung tangga, tapi kursinya cuma dua. Sementara kami bertujuh. Sempat menunggu, akhirnya ada pelanggan yang pergi. Tempat mereka kami isi.

Sebelum naik, kami pesan minum. Saya sebenarnya pengen coba kopi hitam yang rasanya strong. Tapi istri melarang karena sudah habis satu gelas kopi hitam dari satu warung kopi lain di pasar tersebut beberapa menit sebelumnya. Nanti saya ceritakan di bagian bawah. Makanya baca terus sampai abis.

Akhirnya, pagi itu saya nikmati segelas kopi Americano. Rasanya lebih ringan dari kopi hitam. Begitu kata barista yang cantik saat saya pesan. Meski demikian, saya masih juga pakai gula. Maklum, saya belum menjadi penikmat kopi sesungguhnya. Saya memang minum kopi setiap hari, tetapi masih dua banding satu. Dua sendok kopi berbanding satu sendok gula.

Sambil menikmati kopi, saya mengamati dinding lantai dua warung kopi tersebut. Seluruh dinding penuh tulisan. Isinya, kesan dan pesan dari para pengunjung. Mulai dari yang manis-manis sampai yang “pahit”, seperti ‘rasa kopinya biasa saja’. Selain itu, juga ada beberapa buku yang bisa dibaca sambil menyeruput kopi. Ada pula lego yang bisa dimainkan anak-anak.

Pagi itu, ada satu keluarga. Bapaknya bule, ibu orang Indonesia. Anaknya, masih kecil, berambut pirang. Cantiknya bukan main. Ia dikasih buku sama bapaknya. Setelah bosan baca, bocah itu mengembalikan buku tersebut ke rak dekat tangga. Pintarnya. Lalu ia mengajak ayahnya bermain ular tangga. Padahal di meja-meja lain, anak-anak – termasuk anak-anak saya – tidak bisa lepas dari gadget. Orang-orang dewasa juga lebih banyak lihat gadget daripada ngobrol. Padahal ngopi itu enaknya sambil ngobrol, mulai dari yang remeh temeh sampai hal paling serius.

Unik

Sebelum menikmati satu gelas americano di warung kopi Rosso, saya sudah menghabiskan segelas kopi hitam dari rumah kopi by Selebes yang terletak di dalam pasar. Warung kopi ini unik. Ia tidak menyediakan banyak tempat duduk. Hanya ada satu meja panjang yang menempel ke dinding. Tetapi Pilihan kopinya banyak. Kopi nusantara, kata seorang pria yang melayani kami pagi itu. Anda bisa pesan kopi apa saja dari seluruh wilayah Indonesia dan di-take away alias bawa pulang.

Keunikan lain di warung kopi ini adalah cara menyeduh dan menyajikan kopi yang amat berbeda. Ia tidak meracik kopi ala barista yang menggunakan macam-macam alat dan berbagai teknik. Di sini, air untuk satu gelas kopi cukup dididihkan di atas kompor lalu masukan kopi, diaduk lalu dituangkan dalam gelas plastik dan bawa pulang. Harganya juga cuma Rp 7.500.

Cara bikin kopi seperti itu sama persis membuat kopi di kampung saya. Kata pria tersebut, ini cara buat kopi tradisional. Bedanya, di kampung saya kopinya masih pakai gula. Di sini, tanpa gula. Dan, mereka tidak menyediakan gula saset untuk di-take away. Maka, jadilah saya minum kopi pahit Minggu 18 November pagi itu. Rasanya? Ya enak. Pahitnya mantap dan tentu saja dominan. Asam dan manisnya juga terasa. Nah, ini baru ngopi yang sebenarnya. Tanpa gula.

Di Pasar Modern BSD, masih ada beberapa warung kopi lain yang perlu dijajal pada kunjungan berikutnya. Jumlahnya lebih banyak daripada di Pasar Segar Bintaro, dekat tempat tinggal saya. Di dalam Pasar Segar Bintaro, hanya ada dua warung kopi yang rutin buka dengan penyajian ala barista. Bukan tradisional. Terlepas dari tempat dan bagaimana penyajiannya, ngopi itu memang selalu nikmat. (Alex Madji)