Home Inspirasi Kisah di Balik Calon Bintang Sepakbola Keturunan Indonesia di Brasil

Kisah di Balik Calon Bintang Sepakbola Keturunan Indonesia di Brasil

376
SHARE
Welber (kanan) mencoba menjaga lawan saat masih membela klub futsan Palmeiras FC. (Foto: Dokumen Keluarga/Istimewa)

Pater Klemens Naben SVD atau Pater Emen dari Sao Paulo, Brasil, tiba-tiba kirim slide foto pemilik akun Istagram @lielyana ke akun Istagram saya. Isinya, beberapa foto seorang bocah mengenakan jersey sepakbola dengan beberapa trofi di tangan. Di bawah slide foto itu Pater Klemens menulis pesan begini, “Ini mamanya org (orang-red) Palembang, bapanya dlu (dulu-red) pemain di liga indonesia… Skrg (sekarang – red) dia jadi pemain di klub sao Paulo…”

Mendengar nama klub Sao Paulo, saya langsung terbelalak. Wou…ada anak keturunan Indonesia menempuh pendidikan bola di klub besar Brasil itu? Pikiran saya langsung terbang ke bintang besar dari klub itu seperti Ricardo Kaka atau Marcos Cafu yang gemilang bersama klub Italia, AC Milan, dan Timnas Brasil. Bayangan saya, anak yang ada dalam foto tadi akan seperti mereka. Pikiran saya mungkin berlebihan.

Sayang, saya tidak bisa membuka lebih jauh akun instagram tersebut karena belum berteman. Lalu, Pater Emen menginformasikan kepada pemilik akun bahwa saya sudah meminta pertemanan dengannya di Istagram. Dibumbui pula dengan secuil cerita tentang saya kepada sang pemilik akun.

Setelah di-confirm, saya bisa berselancar melihat seluruh foto dan video yang dipajang di akunnya. Saya memperkenalkan diri. Singkat cerita, kami bercakap panjang lebar melalui fasilitas percakapan Instagram selama beberapa hari. Saya lebih banyak bertanya dan dia menjawab. Hasil wawancara itu saya tulis untuk media tempat saya bekerja. Versi daringnya seperti ini: Ini Dia Welber, Bakal Calon Bintang Indonesia di Brasil

Akun @lielyana rupanya bagian dari nama aslinya. Lengkapnya, Lielyana Halim. Ia perempuan kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang menikah dengan seorang pesepakbola asal Brasil bernama Elisangelo de Jesus Jardim atau yang akrab disapa Liu. Liu merumput di Liga Super Indonesia tahun 2000-an. Pernah berseragam Barito Putera (2004-2005), Badung FC (2005-2006), dan Persiba Balikpapan (2007-2009).

Dari perkawinan mereka, lahirlah anak sulung dari tiga bersaudara bernama Welberlieskott de Halim Jardim di Banjarmasin 25 April 2007. Ketika berusia empat tahun, Welber mulai belajar sepakbola bersama Liu yang berhenti bermain di Vietnam. Melihat bakat besar sang anak, pasangan ini kemudian memilih pindah ke Brasil, negerinya sepakbola, tepatnya di Kota Sao Paulo pada 2013. Saat itu, Welber berusia enam tahun.

Setahun berada di Sao Paulo, Lielyana dan Liu memasukkan Welber ke klub Palmeiras FC, salah satu klub terkenal Brasil. Bersama klub itu, ia bermain di kelompok futsal sejak U-7, U-8, U-9, dan U-10. Ia meraih sukses bersama tim futsal Palmeiras FC. Ditandai dengan berbagai piala dari kategori-kategori di atas. Ia juga menjadi pencetak gol terbanyak untuk timnya. Sebagai “hadiah”, fotonya dipajang di halaman sampul majalah internal klub. Hebat bukan?

Masuk Sao Paulo FC
Mulai 2017, Lielyana dan Liu mendaftarkan Welber ke klub besar Brasil lainnya yang juga bermarkas di Kota Sao Paulo, Sao Pauo FC. Ini klub tersukses di Brasil dengan fans fanatik paling besar. Harapannya, ia bisa bermain di lapangan besar. Kebetulan juga, Welber sangat menggemari klub tersebut. Setelah mengikuti seleksi yang ketat, Welber diterima dan terdaftar sebagai anak didik Sao Paulo FC. Sao Paulo dipilih karena dinilai paling bagus dan memiliki fasilitas terbaik untuk anak-anak usia dini. Sebenarnya, di Kota Sao Paulo, masih ada klub tenar lainnya yang menjadi rival abadi Sao Paulo yaitu Corinthians. Pemain Timnas Brasil saat ini yang membela Barcelona, Paulinho, berasal dari klub ini. Namun, menurut Lielyana, untuk pembinaan usia dini, Sao Paulo lebih bagus. Untuk senior, Corinthians paling baik.

Welber berseragam Sao Paulo sedang menendang bola (Foto: Dokumen keluarga/Istimewa)

Welber sudah diikat kontrak Sao Paulo, meskipun belum mendapat gaji. Ia baru menerima sebatas bantuan untuk transportasi. Nanti, kalau sudah berusia 15 tahun, ia dikontrak dan menerima gaji dari klub. Terlepas dari itu, kini, ia sudah mengenakan seragam Sao Paulo FC bernomor punggung 8 dan terdaftar di Federasi Sepakbola Paulista. Federasi sepakbola untuk negara bagian Sao Paulo. Welber sekarang sibuk mengikuti kompetisi anak usia dini di Negara Bagian Sao Paulo.

Lelyana juga ikut sibuk. Mulai dari mengantar Welber yang sekarang berusia 11 tahun dan duduk di kelas enam sekolah dasar ke sekolah pagi hari sampai mengantar ke markas Sao Paulo untuk menjalani latihan selepas sekolah. Juga ikut memberi dukungan dari pinggir lapangan saat berkompetisi. Meski demikian, Lielyana menjalaninya dengan suka cita. “Syukur punya anak seperti dia karena yang terdaftar di federasi itu harus seleksi benar-benar. Iya betul, sangat bangga saya sebagai seorang ibu,” tulisannya dalam percakapan kami.

Lielyana dan Liu akan semakin sibuk ke depan, bila prestasi Welber di lapangan hijau makin mengkilap. Keduanya akan menjadi manajer dan agen. Apalagi, Liu adalah mantan pesepakbola yang sekarang hanya bermain antara kampung atau tarkam di Sao Paulo. Dia paham betul soal urusan menjadi agen pemain. Dan, banyak pemain elite Brasil yang agen dan manajernya adalah orang tua atau kakak sendiri. Neymar da Silva Jr, misalnya, menjadikan ayahnya sendiri, Neymar Senior sebagai agen. Dulu, Ronaldino juga mengangkat kakak kandungnya sebagai agen. Masih banyak contoh lain.

Nah, saya membayangkan, Welber akan menjadi seorang pemain besar dan hebat di masa mendatang. Tentu saja syaratnya adalah ia berlatih sangat keras untuk mengejar impian tersebut. Meskipun, kalau sudah besar dan sangat kompetitif, ia bisa saja membela Timnas Brasil. Kalau kalah bersaing, karena begitu banyak pemain berbakat di negeri Samba tersebut, Welber bisa pulang kampung ibunya untuk membela Timnas Indonesia. Apalagi, Lielyana tetap menjaga api nasionalisme anak-anaknya dengan tetap berbicara Bahasa Indonesia di rumah. Lebih-lebih saat memarahi mereka. 100% Bahasa Indonesia.

Oh iya. Saya kenal Pater Emen sejak Piala Dunia 2014. Saat meliput pesta sebakbola tertinggi sejagat itu di Brasil, saya menginap di pastoran tempatnya bekerja di pinggiran Kota Sao Paulo. Dia pastor paroki di sana dan dibantu seorang pastor rekan dari Afrika. Pater Martin SVD namanya. Keramahan keduanya membuat saya begitu betah. Apalagi Pater Emen bersedia mengantar saya keliling Sao Paulo, termasuk ke Stadion Itaquerao, tempat pembukaan Piala Dunia 2014 yang sekarang menjadi markas Corinthians. Juga mengantar ke terminal bus saat hendak ke Rio de Janeiro. Juga ajak pada kunjugan misa ke stasi. Hanya kata terima kasih yang bisa saya sampaikan kepada Pater Emen atas informasi tentang calon pesepakbola van Indonesia di Brasil bernama Elber ini. Kita tunggu saja perkembangan lebih jauh dari anak itu. Semoga dia sukses besar. (Alex Madji)