Home Buku Kisah Sukses Seorang Anak Pengusaha Kaya

Kisah Sukses Seorang Anak Pengusaha Kaya

2514
3
SHARE

Kisah Ken Dean Lawadinata dalam buku “Ken & Kaskus, Cerita Sukses di Usia Muda” karya Alberthiene Endah adalah kisah perjuangan, passion, dan kerja keras anak seorang kaya raya yang sangat terobsesi dengan Kaskus bentukan Andrew Darwis. Ini adalah kisah sukses dari anak seorang paling sukses.

Ken Dean Lawadinata adalah cucu dari seorang pengusaha kaya. Kakeknya menjadi pengusaha sukses berkat ketekunan dan kerja yang sangat keras. Mula-mula dari seorang pengumpul mur bekas dan pedagang kaki lima kemudian menjelma menjadi pengusaha otomotif yang sukses. Dari sini usahanya kemudian beranak pianak ke berbagai jenis usaha lainnya.

Ayah Ken Dean Lawadinata kemudian menjadi putra mahkota kerajaan bisnis ini. Sebagai anak tertua, dia dididik secara keras oleh bapaknya atau kakek Ken. Dia tidak bisa dengan mudah mendapat tanggung jawab mengurus bisnis keluarga. Tetapi akhirnya dia lulus ujian dan diserahi tanggung jawab mengurus perusahaan keluarga. Di tangannya, usaha ini lalu berkembang lebih pesat lagi karena kelihaiannya memadukan manajemen modern dengan prinsip konvensional ayahnya. Dia pun lulus mengemban tugas sebagai penanggung jawab keberlangsungan usaha keluarga.

Ken Dean Lawadinata sebagai cucu laki-laki pertama tadinya disiapkan sebagai pewaris tahta kerajaan bisnis ini di generasi ketiga. Maka dia disekolahkan jauh-jauh ke Australia sejak sekolah menengah pertama hingga kelas satu SMA. Kelas dua dan tiga SMA dilanjutkan di Jakarta karena ingin lebih dekat dengan pacarnya hingga selesai 2003. Ken yang menyebut diri sebagai anak yang ngocol dan suka membolos dari sekolah kemudian, melanjutkan pendidikan tinggi di Seattle, Amerika Serikat pada 2004.

Meski tidak terlalu antusias dengan sekolah formal, Ken Dean Lawadinata menghormati dan menghargai keinginan orang tuanya untuk menyelesaikan pendidikan formal. Tetapi perjumpaan dengan Andrew Darwis di Seattle, Amerika Serikat mengubah dan membuyarkan segala rencana dan keinginan orang tuanya. Pasalnya, di tengah jalan, Ken tiba-tiba memilih berhenti kuliah dan menaruh perhatian secara penuh pada Kaskus.

Sebelum bertemu Andrew Darwis, Ken sudah mengetahui dan akrab dengan Kaskus. Begitu bertemu dengan pendirinya di daerah perantauan, dia pun seolah tak percaya. Ternyata Kaskus yang begitu besar di Indonesia dibikin oleh seorang pria pendiam berbadan kurus yang juga sepupu jauhnya bernama Andrew Darwis.

Dari Andrew baru Ken mengetahui bahwa Kaskus yang merupakan kependekan dari Kasak Kusuk berawal dari tugas kuliah Andrew Darwis di Seattle pada 1999. Mereka ditugasi dosennya untuk membuat personal website. Teman-teman kelasnya betul-betul membuat personal website yang kemudian diisi dengan kisah-kisah dan foto pribadi. Sedangkan Andrew membuat website komunitas. Sempat dipertanyakan dosennya, tetapi setelah dijelaskan alasan pemilihannya, sang dosen pun menerima tugas Andrew. Bahkan belakangan sang dosen mendukung.

Dari situ, Andrew terus merawat dengan mengisi situs bentukannya itu. Sempat dibantu tiga teman akrabnya yang menggoda Andrew datang ke Seatttle, kemudian ketiganya mundur perlahan karena tidak tahan dengan kerja gratisan yang tak kenal juntrungannya.

Sementara Ken bagaikan terbius sejak bertemu dengan pendiri Kaskus. Ken lalu lebih sering nongkrong di apartemen Andrew Darwis. Dia berada di samping Andrew Darwis sambil main game, ketika pria berdagu lancip itu terus memperhatikan dan mengamati trafik pengunjung Kaskus yang terus meningkat. Ken menyaksikan, bagaimana Andrew kegirangan ketika trefik naik, dan down ketika server error saking membeludaknya pengunjung.

Andrew dengan tekun memelihara dan merawat “bayi”-nya ini baik ketika masih kuliah maupun saat sudah bekerja. Menjelang akhir kuliah di Seattle, untuk mencari tambahan biaya, Andrew bekerja di sebuah restoran dengan tugas sebagai pengiris tomat. Selepas kerja, malam harinya dia dengan tekun merawat Kaskus. Begitupun saat dia bekerja di lyric.com dengan gaji 30.000 dolar per tahun. Selesai kerja dia sangat fokus mengelola Kaskus. Ken menyaksikan dan ikut merasakan semua peristiwa gembira dan sedih Andrew Darwis dalam mengelola Kaskus. Passion Andrew memang ada di Kaskus ini.

Dari sekedar menemani sambil main game, Ken lama-lama ikut membantu, terutama membalas email penawaran iklan yang masuk ke Kaskus. Ken pun menulis sesuka hati tentang tarif iklan Kaskus. Selama di Seattle, pendapatan Kaskus dari iklan tergolong lumayan untuk sebuah situs baru bikinan anak kuliahan. Makin lama Ken makin merasa memiliki Kaskus. Niatnya tiba-tiba muncul untuk ikut memiliki Kaskus bersama Andrew Darwis.

Ken sempat mencoba meniru apa yang dilakukan Andrew dengan membuat website seperti lyric.com tetapi ditambah not untuk panduan main gitar dan piano. Maka dibuatlah Musicpro.com. Sayang, respons publik tidak terlalu bagus hingga akhirnya situs itu ditutup.

Pada saat bersamaan rasa memiliki dan semangat untuk ikut mengurus Kaskus terus berkobar di dalam hati Ken. Dia menemukan bahwa passion-nya ada di Kaskus. Bahkan dia bercita-cita ingin membesarkan Kaskus. Sempat disampaikan kepada Andrew, tetapi pria yang pernah kuliah di Universitas Bina Nusantara Jakarta itu tidak ingin menjual sebagian sahamnya ke orang lain. Dia mau mengurusnya seorang diri. Padahal, Ken mau pinjam uang ke orang tuanya untuk menambah kapasitas server agar Kaskus tidak terus down, terutama ketika Andrew ingin membeli server sendiri seharga 25.000 dolar.

Kaskus pernah ditawari pemilik lyric.com, tempat Andre bekerja dengan gaji 30.000 dolar per tahun, seharga 500.000 dolar. Andrew sempat goyah, apalagi dia sedang mengincar sebuah rumah mewah di Seattle ketika itu, tapi tidak jadi dilepas.

Karena semakin seringnya Ken menawarkan keinginan membesarkan Kaskus, Andrew pun luluh. Tetapi dia mengajukan syarat bahwa investasi Ken harus lebih besar dari tawaran pemilik lyric.com tadi. Semula Ken kaget dengan jawaban itu, tetapi dia pun akhirnya memberanikan diri menyampaikan keinginannya untuk meminjam dana guna berivestasi ke Kaskus ketika selesai kuliah diploma pada 2007 saat orang tuanya mengunjungi ke ke Seattle.

Keinginan ini sempat ditentang ayahnya. Apalagi dengan begitu dia tidak melanjutkan kuliah ke jenjang lebih tinggi dan kembali ke Indonesia untuk membesarkan Kaskus. Untung pada akhirnya, keinginan ini dikabulkan dan pinjaman dana pun dikabulkan sang ayah.

Miliki Kaskus
Tetapi ketika mereka pulang ke Indonesia pada awal 2008, Andrew nyaris membatalkan kesepakatan verbal mereka berdua. Andrew tetap tidak ingin ada orang lain ikut mengelola Kaskus. Gara-gara ini hubungan keduanya menjadi tegang. Mereka tidak berkomunikasi selama berminggu-minggu. Sampai akhirnya, Andrew menelepon Ken memberikan keputusan final untuk menerima tawaran investasi dari Ken.

Sejak itu mereka berdua mulai menjalankan Kaskus sebagai sebuah perusahaan. Ken diserahi tugas yang berurusan dengan pengembangan bisnis, sedangkan Andrew mengurusi konten dan penjaga gawang Kaskus. Dimulai dengan mengurus akta pendirian badan hukum, kemudian pembelian server baru, dan berkantor di sebuah ruko kumuh pinjaman ayah Ken di belakang Glodok Plaza. Di situ mereka mula-mula memiliki dua orang karyawan.

Perjuangan setelah resmi menjadi sebuah badan usaha ternyata tidak mudah. Mereka mengajukan banyak proposal ke agen-agen iklan, diajak meeting oleh perusahaan advertising, tetapi tidak pernah membuahkan hasil. Keduanya nyaris putus asa, stress, karena apa yang dibayangkan selama di Seattle ternyata tidak mudah.

Momentum kebangkitan Kaskus terjadi ketika mereka bekerja sama dengan sebuah kantor advertising Semut Api Colony (SAC) pada Agustus 2008. Aktivitas marketing dan mencari iklan dilakukan SAC. Dari kerjasama inilah kemudian mereka terus berkibar. Dimulai dengan memperbaiki brand dan image Kaskus dari sebuah situs porno dan mengubah penampilan situs sehingga lebih fresh dan cantik. Dari hasil kerja sama ini, Kaskus pun mulai mendapatkan iklan.

Begitu mulai ada penghasilan, mereka pun pindah kantor ke Kemang, di sebuah rumah tua lagi-lagi pinjaman ayah Ken pada akhir 2008. Rumah yang sudah rusak ini dibenahi sana sini sehingga kemudian menjadi sebuah kantor yang nyaman. Selama di sini, jumlah karyawan Kaskus terus bertambah dari belasan menjadi puluhan. Penghasilan perusahaan pun terus meningkat dan perusahaan berjalan stabil.

Peristiwa besar terjadi Desember 2010, ketika anak perusahaan Djarum, Global Digital Prima (GDP) akhirnya ingin berinvestasi di Kaskus. Ini adalah salah satu dari beberapa perusahaan yang berminat berinvestasi dalam jumlah yang sangat besar ke Kaskus. Setelah melakukan sejumlah rapat secara maraton, GDP akhirnya memutuskan untuk investasi ke Kaskus pada Januari 2011. Nilai saham yang dibeli GDP jauh-jauh lebih besar dari dana yang dipinjam Ken dari ayahnya. Kerjasama ini baru terwujud secara konkrit setahun kemudian, pada Januari 2012 ketika kedua belah pihak menandatangani kontrak kerja sama.

Dengan capaian itu, Ken pun bisa melunasi pinjaman ayahnya hanya dalam tempo empat tahun. Padahal, tadinya dia mengira dana itu baru bisa dikembalikan dalam hitungan belasan tahun. Capaian ini kemudian diakui ayahnya. “Ken, Papi salut sama kamu. Waktu Papi seumur kamu, Papi nggak bisa seperti kamu. Kamu luar biasa,” puji ayahnya dari Beijing yang ditelepon Ken setelah dana dari GDP cair.

Jadilan Ken dan Andrew sebagai miliarder dalam usia yang sangat muda. Tetapi ini tidak terjadi begitu saja. Capaian ini lahir dari kerja keras, ketekunan, fokus pada tujuan awal meski sempat mengalami krisis serta passion pada Kaskus.

Sekarang Kaskus dikelola dengan dana sangat besar. Beda dengan ketika diurus Andrew Darwis seorang diri dari apartemennya di Seattle dan bersama Ken pada tahun-tahun awal di Jakarta. Kaskus kini masuk era tinggal landas dan siap menjadi lebih besar lagi dari keadaannya saat ini.

Seperti buku-buku Alberthiene Endah lainnya, buku ini bak sebuah novel yang ceritanya mengalir, enak dibaca hingga tuntas, dan sungguh memotivasi bagi siapa pun yang membacanya. Karena itu, Anda rugi kalau sampai tidak membaca buku ini. (Alex Madji)