Home Umum Konsep Menggeser Sedikit Tanpa Menggusur yang Tak Masuk Akal

Konsep Menggeser Sedikit Tanpa Menggusur yang Tak Masuk Akal

1864
0
SHARE
Sumber Foto: Beritasatu.com

Saya tidak menonton debat kedua dari tiga pasangan calon gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, Jumat, 27 Januari 2017 malam karena harus mengikuti misa 40 hari kerabat di Slipi, Jakarta Barat. Tapi saya memantau jalannya debat tersebut di media-media online dan media sosial.

Kesan saya, kali ini tidak sesengat debat pertama karena ketidakhadiran presenter Ira Koesno. Kahadiran Tina Talisa dan cendikiawan Eko Prasojo sebagai moderator tidak mampu membius publik seperti Ira Koesno yang membuat pemirsa televisi gagal fokus di debat pertama. Padahal, tema dan substansinya juga menarik dan seru.

Dari sekian banyak isu, saya tertarik pada gagasan penataan kota pasangan nomor urut satu Agus-Sylvi. Mereka tetap keukeuh tidak akan melakukan penggusuran tapi akan menggeser sedikit. Ini perkembangan lebih lanjut dari konsep kampung/kota mengapung yang dibantai publik lewat pemberitaan media mainstream dan media sosial serta sempat disinggung sedikit dalam debat pertama. Gara-gara konsep mengapung ini, Agus Harimurti Yudhoyono jadi bulan-bulanan netizen.

Agus mengatakan begini, “Kami berbicara dengan warga Jakarta mereka sebenarnya mau untuk bergeser sedikit, tapi kami bukan menggusur.” Baca berita selengkapnya di sini. Versi lainnya, “Masyarakat mau bergeser sedikit bukan menggusur hunian. Dengan cara seperti itu tidak kehilangan kepemilikan. Status dan mertabat terjaga.” Baca selengkapnya juga di sini.

Gagasan menggeser sedikit ini seharusnya dielaborasi lebih jauh. Seperti apa teknis pelaksanaannya di lapangan. Kalau digeser sedikit, warga di bantaran kali itu mau digeser ke mana? Apakah masih ada tanah kosong di sekitar mereka? Kalau tidak ada lalu digeser ke mana? Kalau pun masih ada tanah, harus dipastikan, itu tanah siapa dan apa peruntukannya? Dan, apakah pembiaran mereka tetap tinggal di bantaran kali sesuai dengan rencana tata ruang kota? Masih banyak pertanyaan yang bisa diajukan ke pasangan ini terkait konsep tersebut.

Saya melihat, gagasan menggeser sedikit ini tidak mungkin dijalankan tanpa menggusur. Apalagi gagasan ini diikuti dengan gagasan mentereng vertical housing yang sebenarnya sudah ada bahasa Indonesianya, rumah susun. Artinya, mereka tetap saja akan dipindahkan ke vertical housing itu.

Menggeser berarti ada yang pindah dan dipindahkan. Yang pindah bukan hanya manusianya tapi juga barang dan tempat tinggal. Kalau manusia dan barang, mungkin bisa digeser sedikit tanpa penggusuran. Tapi rumahnya bagaimana? Karena rumah-rumah di bantaran kali di Jakarta bukan rumah papan dan panggung seperti di kampung saya, tapi rumah tembok permanen, maka rumah itu sudah pasti dihancurkan. Digusur. Itu mutlak.

Kalau rumah papan dan panggung masih bisa digeser dengan cara diangkat oleh warga kampung secara gotong royong seperti dilakukan di kampung saya era 1980-an sampai 1990-an. Bahkan bukan hanya digeser dalam jarak pendek beberapa meter tapi bisa ratusan meter atau bahkan lebih dari satu kilometer.

Dengan kata lain, dalam konsep geser sedikit itu terkandung konsep menggusur. Malahan konsep ini berbahaya karena tidak disertai dengan gagasan ketersediaan tempat tinggal baru bagi mereka yang bergeser itu secara konkret dan jelas sebelum pindah. Jadi, kalau pasangan ini bilang membangun tanpa menggusur tapi menggeser sedikit, itu sudah pasti omong kosong alias mimpi di siang bolong. Ini namanya contradictio in terminis.

Konsep ini sama absurdnya dengan gagasan membangun kampung/kota terapung yang ramai dibicarakan sebelumnya. Kata Ahok dalam sebuah acara di televisi swasta, membangun kampung terapung dengan cara hidrolik sekali pun pasti ada penggusuran.

Justru pasangan nomor urut dua Ahok-Djarot memiliki konsep yang jauh lebih masuk akal dan manusiawi. Mereka bangun dulu rumah susun dengan segala perlengkapannya baru mengajak warga pinggir kali pindah ke rumah tinggal yang sangat layak. Mereka direlokasi. Bukan digusur. Selama rusun belum siap, warga bantaran kali belum akan dipindahkan dan biarkan akrab dengan banjir.

Sebenarnya, masih banyak konsep dan gagasan yang perlu dikritik dari debat tersebut, terutama konsep-konsep yang tidak masuk akal dan sulit diwujudkan, termasuk konsep menggeser sedikit tanpa menggusur itu. Saya berharap warga DKI tidak mau dibohongi pakai konsep menggeser sedikit tanpa menggusur ini. Sebab, menggeser sudah pasti menggusur. (Alex Madji)