Home Makanan Kuliner Kudus, dari Garang Asem hingga Sate Kerbau

Kuliner Kudus, dari Garang Asem hingga Sate Kerbau

68
0
SHARE
Foto: Ciarciar.com

Perjalanan jurnalistik ke Kudus, Jawa Tengah, Sabtu-Minggu, 20-21 Oktober 2018, bukan hanya soal liputan kegiatan lari Tiket.com Kudus Relay Marathon 2018. Tetapi juga wisata kuliner. Malah waktu untuk kuliner ini lebih banyak dari liputan itu sendiri.

Sabtu siang, begitu memasuki Kota Kudus, rombongan wartawan dari Jakarta mampir di rumah makan Gasasa Garang Asem Sari Rasa. Terletak di Jalan Raya Agil Kusumadya No 20, Jatikulon Krajan, Jati Kulon, Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59347, telepon (0291) 442218. Tempatnya besar. Dua lantai. Parkiran juga luas. Saat masuk, lantai satu cukup penuh. Kami diarahkan ke lantai dua.

Di depan pintu masuk lantai dua, seorang pria sedang memindahkan bungkusan-bungkusan garang asem dari sebuah dandang besar ke atas piring melamin merah yang sudah agak kusam. Setiap piring diisi dua garang asem. Di sebelahnya, ada sebuah keranjang yang penuh terisi cabe merah.

Garang asem di sini adalah daging ayam yang dibungkus daun pisang. Di dalamnya juga ada tomat hijau yang sudah dipotong-potong dan cabai yang banyak. Kemudian dikukus sebelum disajikan dalam keadaan panas. Tomat hijau memberi rasa asam yang nendang dan cabai yang banyak membuat pedasnya betul-betul garang.

Siang itu, saya dan teman-teman satu meja pilih garang asem ayam. Pilihan lainnya adalah ceker. Dan di sini, ayamnya, ayam kampung. Sayang, dagingnya masih agak sedikit alot. Tetapi soal rasa, tiada duanya. Gurih, asem, dan pedas. Meski perut saya tergolong tidak terlalu kuat makanan pedas, siang itu harus tambah satu porsi garang asem plus nasi setengah porsi. Total, garang asem dua porsi, nasi satu setengah. Dahsyat bukan?

Foto: Ciarciar.com

Begitu masuk ke Hotel Griptha, Kudus, rasa kantuk tiba. Kekenyangan. Tubuh pun direbahkan sebelum mengikuti acara di Pendopo Bupati Kudus. Di sana selain jumpa pers tentang lari Tiket.com Kudus Relay Marathon pada Minggu 21 Oktober 2018 juga pengambilan race pack. Seusai wawancara legenda bulutangkis seperti Hariyanto Arbi dan Susi Susanti, balik lagi ke hotel.

Malamnya, pukul 19.00, lagi-lagi diajak kuliner. Kali ini, menunya sate kerbau. Kabarnya, sate kerbau adalah salah satu kuliner khas Kudus. Kami diarahkan ke Jalan Kutilang Gang 1, Kudus. Jalan itu cukup sempit, tetapi ramainya minta ampun. Mobil dan motor diparkir di badan jalan membuat arus lalu lintas padat sekali.

Di sini berjejer warung-warung makan sederhana seperti warteg dengan bermacam-macam menu, termasuk sate kerbau. Saya dan beberapa teman melipir ke Warung Maju Pak Sutrimo dan Ibu Siti Rochman. Mereka hanya menyediakan sate kerbau. Tandemnya bisa pilih nasi atau lontong. Malam itu pukul 19.50 WIB. Saya pilih nasi plus 10 tusuk sate kerbau. Tidak ada kuah atau sayur. Hanya sate dengan bumbu kacang campur kecap. Bumbu itu dituangkan di atas nasi sudah cukup.

Foto: Ciarciar.com

Rasa sate kerbaunya manis. Dagingnya super empuk. Beda dengan sate-sate ayam atau kambing yang agak sedikit keras. Sate kerbau ini agak kenyal. Dan, kadang begitu kita gigit satu, semua yang lain ikut tertarik. Akibatnya, satu tusuk dilahap sekaligus. Pokoknya enak deh. Meski begitu, saya tidak mau tambah nasi. Siang sudah kebanyakan nasi. Malahan makan nasi saja sudah melanggar komitmen pribadi untuk tidak makan nasi malam hari.

Sadar sudah mengkonsumsi banyak lemak dan karbo, Minggu 21 Oktober 2018 pagi saya lari. Bukan dalam lintasan Tiket.com Kudus Relay Marathon 2018. Saya tidak dapat slot di sana. Walaupun sudah minta ikut lari 10K atau 5K. Saya lari secara mandiri saja di belakang alun-alun. Dengan menggunakan aplikasi endomondo, saya menghabiskan waktu 38 menit untuk membakar 690 kalori. Lumayan.

Sayang, sore harinya pukul 17.00 WIB, harus kuliner lagi. Kali ini di Semarang. Judulnya, makan malam yang kesorean. Setelah lelah perjalanan Kudus-Semarang, kami mampir di rumah makan Ayam Goreng & Sop Buntut/Daging Pak Supar di Jalan Moh. Suyudi No.48, Miroto, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah 50134, telepon (024) 3554110. Rumah makan ini juga ramai sekali. Harus mengantre untuk dapat meja.

Di sini, makanannya juga tidak kalah enak. Pilihannya, ayam goreng dan sop buntut/daging. Saya, juga beberapa teman lain, pilih dua-duanya. Susah juga tidak pilih ayam. Sebab sepiring ayam goreng plus ati ampla panas langsung diodorkan di atas meja hanya sesaat setelah duduk. Masih pula ditanya, sop buntut atau daging berapa? Serentak kami jawab, empat. Sebelum sop daging datang, kami sudah melahap ampla. Dilanjutkan dengan ayam goreng kampung. Begitu sop datang, juga diembat. Tidak ada yang sisa.

Soal rasa? Sudah pasti enak. Ayam goreng lumayan empuk dan garing. Sementara sop dagingnya gurih dengan potongan kentang yang besar dan wortel tebal-tebal. Kuahnya juga tidak terlalu kental. Saking enaknya, saya juga tambah nasi setengah porsi. Untung, siang harinya tidak makan nasi karena selepas liputan Kudus Relay Marathon, langsung tidur. Ngantuknya tidak tertahan gara-gara harus bangun jam tiga pagi. Nah, lemak dan karbo dari sini mengisi kalori yang sudah dibakar di Kudus. Sisanya, akan dibakar pada edisi lari berikutnya. (Alex Madji)