Home Inspirasi Kunci Hadapi Perubahan, Jadilah seperti Air

Kunci Hadapi Perubahan, Jadilah seperti Air

223
SHARE
Sumber Foto: Ciarciar.com

Meski sudah berumur 90 tahun, pendiri kelompok usaha Lippo, Mochtar Riady masih energik. Ia mengikuti perarakan senat guru besar dan dosen Universitas Pelita Harapan (UPH) pada acara wisuda lulusan sarjana, pascasarjana, dan program doktoral UPH Sabtu 9 Juni 2019 pagi di Karawaci.

Bukan hanya energik secara fisik. Cara bertutur juga masih sangat runut. Jauh dari kesan pikun. Pada kesempatan itu, ia berbicara setelah pidato Rektor Jonathan L Parapak. Judulnya, nasihat kepada para lulusan UPH tentang bagaimana seharusnya hidup di tengah masyarakat setelah merampungkan studi.

Ia membuka petuahnya dengan menyebutkan, selama hidup 90 tahun, banyak sekali perubahan yang telah ia hadap dan lewati. Ia menyebutkan salah satu perubahan yang masih juga harus dihadapi saat ini, yaitu bitcoin. Ia lalu menjelaskan apa itu bitcoin, sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. “Meski sudah berumur 90 tahun, saya masih tetap mengikuti perubahan bitcoin,” ujarnya disambut tepuk tangan para wisudawan/wisudawati dan keluarga yang memenuhi Grand Chapel, tempat acara wisuda berlangsung.

Para lulusan UPH juga diharapkannya untuk bisa berhadapan dengan berbagai macam perubahan yang tengah terjadi dalam masyarakat. Lebih dari itu, perubahan tersebut harus disikapi secara tepat dan bijaksana.

Lebih lanjut, sebagai seorang filsuf, ia berbicara panjang lebar tentang perubahan versi para filsuf, mulai dari para filsuf Yunani Kuno sampai filauf Cina. Di sini, Mochtar Riady memperlihatkan diri sebagai seorang pemikir yang masih begitu fresh, meski sudah berumur 90 tahun. Ingatannya kuat dan pemikirannya jernih.

Kepada para wisudawan dan wisudawati UPH, mengutip seorang filsuf Cina, ia berpesan agar jadilah seperti air. Air, kata dia, selalu mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Air juga tidak pernah mau mempertahankan bentuknya sendiri. Sebaliknya, selalu mengikuti bentuk setiap wadah yang dilewati dan disinggahi. Lebih dari itu, air selalu memberi hidup dan manfaat kepada apa dan siapa saja di sekitar aliran yang dilewati.

Para lulusan UPH juga harus seperti itu. Mereka harus turun dari ketinggian, dari menara gading, ke tengah-tengah masyarakat. Menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan yang terjadi agar tidak terlindas zaman. Serta, menjadi berguna dan bernilai bagi orang lain di mana pun mereka berada.

Pada akhirnya, saya menilai, apa yang diutarakan Mochtar Riady di atas tadi, bukan hanya pemikiran filsuf Cina yang dikutipnya, tetapi sungguh-sungguh apa yang dihidupinya selama 90 tahun. Sepanjang itu, ia terus berproses, menghadapi dan menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan yang terjadi di setiap zaman. Kemampuan seperti ini sekaligus menjadi kunci kesuksesannya membangun kelompok usaha Lippo. Setelah berhasil, ia tidak lupa berbagi dengan orang lain lewat sekolah-sekolah, termasuk di dalamnya UPH, dan jaringan rumah sakit serta masih banyak kegiatan amal lainnya.

O iya lupa cerita. Saya berada di UPH pada Sabtu 9 Juni 2018 itu untuk mendampingi adik saya yang baru lulus magister hukum dari kampus tersebut. Akhirnya, semoga nasihat dan nilai, serta teladan hidup Mochtar Riady sendiri menjadi bekal bagi adik saya dan para wisudawan/wisudawati lainnya untuk meraih kesuksesan di masa mendatang sebagaimana sudah dijalani Mochtar Riady sendiri. Ia betul-betul menjalani dan menghayati filsafat air sepanjang hidupnya. (Alex Madji)