Kunci Sukses Seorang Pontjo Sutowo

Kunci Sukses Seorang Pontjo Sutowo

9738
SHARE
Pengusaha nasional dan pemilik Hotel Sultan Jakarta, Pontjo Sutowo (Foto: Ciarciar.com)

Kamis, 28 November 2013. Udara Jakarta sangat panas. Tetapi, kegerahan hilang seketika begitu memasuki lantai dua The Sultan Residence di kawasan Senayan, Jakarta Pusat. Di sebuah ruangan yang lapang, udara sejuk dari pendingin udara membuat badan terasa adem. Keteduhan makin tercipta karena lantai dua itu sangat sepi. Ada beberapa orang ada di sana, tetapi semua silentium. Maklum itu adalah ruang pemilik Hotel The Sultan, Pontjo Sutowo.

Sempat tunggu sebentar di sofa untuk tamu di luar ruang sekretarisnya, lalu masuk ke ruang kerja putra pendiri Pertamina Ibnu Sutowo itu. Di sebuah meja kaca yang panjang dan kosong tanpa sehelai kertas pun, Pontjo menceritakan kisah suksesnya mengelola kerajaan bisnis yang dibangunnya dengan suara yang tenang. Tidak meledak-ledak. Datar dan lembut.

Pria yang pernah memimpin Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dalam usia 29 tahun atau termuda dalam sejarah lembaga itu, mengaku membangun sendiri bisnisnya. Meski ayahnya mendirikan Pertamina, dia dan keluarganya tidak ada yang terjun di bisnis minyak. Dia lebih banyak berkecimpung di bisnis properti. Properti terbesar yang dimilikinya adalah Hotel Sultan yang dulu dikenal sebagai Hotel Hilton Jakarta.

Berikut petikan wawancara dengan Pontjo Sutowo di ruang kerjanya yang sangat luas itu.

Anda kan seorang pengusaha sukses. Banyak orang ingin tahu dan ingin belajar apa sih kunci dan rahasia kesuksesan Anda?

Sebetulnya orang bisnis itu kan, apa sih yang mau Anda bawa ke masyarakat di sekitar Anda. Apa nilai tambah yang you hasilkan. Kalau ada you di situ atau tidak ada, bedanya apa. Itu yang musti dipikir. Kalau you ada di situ tetapi tidak ada pengaruh buat masyarakat, kau nggak maju bisnisnya. Karena bisnis itu sebetulnya memecahkan persoalan orang lain. Kalau kau tidak bisa pecahkan persoalan orang lain, tidak bisa jadi pebisnis. Bisa sih bisa tetap menjadi pebisnis tetapi nanti monopoli. Tetapi esensi bisnis adalah memecahkan persoalan orang lain. Milsanya, kau mau bepergian, tetapi tidak punya mobil. Nah orang lain menyediakan taksi. Lalu apa taksi itu? Itukan solusi atas persoalan transportasi. Logika bisnis itu adalah Anda memecahkan problem orang. Apa sih problem orang? Cara berpikir itulah yang membuat kau menjadi sukses. Sebaliknya, bila kau justru menambah problem orang, maka orang tidak akan hargai you.

Hampir semua bisnis saya itu tidak ada urusannya dengan kekayaan alam. Karena kekayaan alam itu, menurut saya, nilainya pada Tuhan yang kasih.  Perusahaan yang saya bikin harus memberi nilai tambah atau ada nilai tambah yang kita gerakan. Dan masyarakat menghargai nilai tambah itu. Itulah kunci kesuksesan. Jadi, Anda harus ingat selalu kau bawa apa kepada masyarakat. Tanpa bawa itu, susah menjadi pebisnis. Selebihnya logika saja. Kau bisa lihat, bahwa masyarakat perlu ini, masyarakat perlu ini, masyarakat perlu ini.

Dalam hal makanan saja, penduduk banyak dan tetap mengalami kesulitan makanan. Itu terjadi karena jarak antara konsumer dan konsumen makin jauh. Kau urus itu saja sudah jadi pengusaha. Mendekatkan masyarakat pada kebutuhannya. Memecahkan persoalan masyarakat akan kebutuhannya sehari-hari. Itu kunci dari entrepreneurship. Kalau entrepreneur betul ya, you harus berpikir masyarakat perlu apa. Karena opportunity-nya di situ.

Dan teknologi itu sangat menentukan you menjadi pengusaha maju atau tidak. Tentu disiplin hidup juga mutlak. Jarang ada pengusaha maju yang tidak disiplin. Pasti orang yang maju tertib asas. Apapun asasnya pasti tertib asas. Saya selalu contohkan Jakob Oetama (pendiri Kelompok Kompas Gramedia – KKG). Orang itu sangat tertib asas.  Dia maju, tanpa konsesi apa-apa. Apa konsesi dia? Tidak ada konsesinya. Tetapi dia memberikan apa yang betul-betul dibutuhkan masyarakat. Informasi. Tetapi dalam memberikan informasi itu dia tertib asas.  Tidak ada anak buahnya yang nakal-nakal dia biarin. Tidak ada.

Entrepreneur itu ada dua: dia memenuhi kebutuhan masyarakat dan dia tertib asas. Kalau itu nggak ada, nggak akan dia jadi pengusaha sukses. Jabaran dua kunci ini adalah kerja keras, disiplin, tertib.

Ada nggak pengalaman kegagalan selama menjalani bisnis yang ada?

Setiap orang pasti punya persoalan masing-masing. Tidak mungkin mulus saja begitu. Ayah saya itu memberi dua warisan yang buat saya sangat berharga. Pertama, logika berpikir. Beliau jauh lebih kuat dari saya. Dia bisa bikin Pertamina tanpa pemerintah memberi modal. Tetapi dia bisa membiayai 70 persen dari APBN. Kalau logikanya nggak pintar, nggak mungkin hal itu terjadi pada saat ini. Kalau saya merenung, kalau dia mengajarkan logika berpikir, bukan tidak ada kekayaan, ada, tetapi logika berpikir luar biasa. Sangat cerdas.

Kedua, warisan beliau, karena dia banyak berbuat bagi orang lain, buat saya menjadi lebih mudah. Oh dia anak orang baik. Kalau saya anak orang jahat, mungkin lebih susah buat saya. Kalau dari segi materi, relatif. Saya nggak kerja di Pertamina yang istilahnya, sudah ada perusahaannya sudah jadi. Hampir semua perusahaan saya, saya bikin sendiri. Saya rintis sendiri, saya bangun.

Ini pun (Hotel Sultan), walaupun dibangun dengan kongsi dengan orang lain, tetapi boleh dibilang yang besarkan saya. Sebetulnya materi itu ada gunanya tetapi signifikansinya tidak dominan. Yang dominan adalah cara berpikir dan jaringan, network. Saya nggak ada kerjaan minyak. Padahal bapak saya yang dirikan Pertamina.

Bisnis utama Anda saat ini apa?

Properti. Dulu kontraktor juga, tetapi sekarang yang paling utama adalah properti.  Dan ayah juga seorang yang sangat tajam terhadap properti. Properti itu sangat ditentukan oleh kemana masyarakat itu bertumbuh.  Dalam properti itu yang paling menentukan pertumbuhan masyarakat itu kemana. Kalau itu nggak kita baca-baca, you tidak akan untung di properti. Keahlian baca inilah yang penting dan ini hanya soal logika saja.  Saya suka mengamati pengusaha-pengusaha sukses, dia bisa mengamati suatu gejala dengan begitu tajam yang orang lain tidak lain dan sukses luar biasa.

Orang-orang kreatif seperti Steve Job, orang-orang seperti Jakob Oetama adalah orang-orang yang melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.

Jadi kunci sukses Pontjo Sutowo adalah pertama pandai membaca peluang dan mampu memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi orang lain. Tanpa itu, bisnis tidak akan sukses. Kedua, harus kreatif dan inovatif. Hanya kreativitas dan inovasi yang akan memberi nilai kepada orang lain lebih dari apa yang Anda kerjakan. Bila dua hal ini sudah dipegang, niscaya kesuksesan akan menaungi Anda. (Alex Madji)

3 COMMENTS

    • Sri Widodo makasih sudah mampir. Silahkan didefinisika kunci sukses itu menurut Anda sekalian memperkaya artikel di atas.

LEAVE A REPLY