Home Inspirasi Lawson yang Sepi Itu

Lawson yang Sepi Itu

587
0
SHARE

Jumat, 23 November 2012 saya janjian dengan teman di Lawson, Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Sebelumnya, kami ingin bertemu di Seven Eleven (Sevel) di Jalan Salemba, Jakarta Pusat. Tetapi seorang teman mengatakan, Sevel terlalu ramai. Lawson agak sepi, sehingga enak untuk diskusi. Memang, jarak kedua tempat ini hanya sepelemparan batu jauhnya. Kalau mau olahraga, Lawson Percetakan Negara bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Sevel Salemba. Atau kalau mau naik angkot cukup sekali naik yaitu APB 04 jurusan Rawasari.

Baru kali ini saya nongkrong di Lawson. Selama ini saya selalu nongkrong sambil menyeruput secangkir capuccino panas ketika senja tiba di sejumlah Sevel di wilayah Jakarta. Keseringan nongkrong itu kemudian mendorong saya untuk menulisnya di blog ini.

JUmat sore itu Jakarta mucet. Wilayah lain Jakarta baru saja diguyur hujan. Tetapi wilayah Percetakan Negara masih kering, meski mendung menggelayut tebal. Beberapa saat setelah tulisan ini dimulai, hujan lebat pun meluncur deras di luar.

Suasana Lawson yang lumayan luas dan lega sore itu cukup lengang. Ada beberapa meja yang tersedia. Setiap meja ada empat kursi. Tetapi tidak semuanya terisi. Kalaupun ada, hanya satu orang setiap meja. Ketika saya datang, di lantai atas ada dua orang pemuda duduk santi sambil merokok. Tak lama berselang, salah satunya begegas pergi.

Saya lalu mengambil meja di pojokan dekat “loket” minuman. Di depan saya, seorang pemuda duduk seorang diri sambil berselancar internet gratis. Maklum Lawson itu menyediakan wifi yang bisa diakses semua pengunjung. Tak lama kemudian, sekelompok orang gadis anak baru gede (ABG) berseragam sekolah menengah atas masuk. Sebagian dari mereka mula-mula berkeliling stan makanan dan minuman yang ada lalu masuk toilet. sejurus kemudian, mereka berkeliling memilih makan ringan kesukaan mereka lalu mengantri di kasir dan duduk di pojok yang lain dekat pintu masuk.

Suasana Lawson ini memang tidak seramai Sevel. Entah kenapa. Mungkin karena letaknya di tempat-tempat yang tidak terlalu ramai. Beda dengan Sevel yang gampang ditemui di perempatan-perempatan jalan. Padahal, kalau dilihat dari harga barang, harga minumannya lumayan murah. Satu gelas Nestcafe Capuccino, misalnya, hanya dengan Rp 6.000. Pilihan minuman yang lain di situ adalah Nestcafe Latto, Nestcafe Black, Nestcafe Tea Tarik, Milo, Pepsi, dan jus.

Sejarah
Menurut Wikipedia, Lawson didirikan oleh JJ Lawson pada 1939. Dia memulai dengan sebuah toko di Broad Street, di Cuyahoga Fallas, dekat Akron, Ohio untuk menjual susu. Kemudian Lawson yang memiliki perusahan Susu, juga bernama Lawson, yang kemudian bertumbuh pesat mendirikan sejumlah toko, khususnya di Ohio.

Dalam perjalanan waktu selanjutnya, Toko Lawson dibeli oleh Consolidated Foods pada 1959. Toko-toko Lawsons umumnya ditemukan di Ohio pada rentang 1960-1980-an. Pada 1974, Consolodated menandatangani kesepakatan dengan Daiei untuk membuka toko Lawson pertama di Jepang. Pada 15 April 1975, Daiei Lawson Co.Ltd menjadi pemilik tunggal Lawson dan berada di bawah Daiei Inc. Toko pertama di Jepang dibuka di Sakurazuka, Toyanaka, Prefektur Osaka pada Juni 1975.

Lalu pada 1979, namanya resmi diganti menjadi Lawson Japan Inc. Aslinya ini adalah perusahan patungan antara raksasa ritel Jepang Daiei dan Lawson Co yang berbasis di Amerika Serikat. Seluruh saham Lawson dimiliki Daie hingga 2001.

Di Indonesia, menurut Bisnis.com, Lawson berada di bawah “kekuasaan” PT Midi Utama Indonesia TBK. Toko pertamanya dibuka di Kemang pada 29 Juli 2011. Menurut Presiden Komisaris PT Midi Utama Indonesia Djoko Susato, Midi menargetkan 50 gerai Lawson dibuka sampai Agustus 2012 lalu.

Di Indonesia, target konsumen yang dibidiknya adalah mereka yang berusia 20-40 tahun dan lebih disasarkan untuk para pekerja. Di gerai-gerai Lawson dijual panganan gorengan dan rebusan. “Yang pasti kami benar-benar tempat jualan, bukan tempat kongkow karena targetnya lebih banyak kepada para pekerja,” kata Djoko Susanto seperti dikutip Bisnis.com.

Nah, penjelasan Djoko Susanto ini menjadi jawaban mengapa Lawson sepi dan tidak seramai Sevel. Karena ternyata dia bukan tempat kongkow atau nongkrong, tetapi tempat jualan. Akhirnya, selamat jualan ya Pak, semoga laku….(Alex Madji)

Keterangan foto: Kondisi bagian dalam Lawson Percetakan Negara, Jakarta Pusat.