Home Inspirasi Lia Alihkan Waktu Nonton Drakor ke Usaha Kue

Lia Alihkan Waktu Nonton Drakor ke Usaha Kue

234
0
SHARE

Cornelia Beta Wedjo baru memulai dan menekuni bisnis kue rumahan pada tiga tahun terakhir. Sebelumnya, perempuan yang sudah lama berhenti kerja kantoran ini hanya mengurus anak dan waktu-waktu luang dipakai untuk menonton Drama Korea (drakor). Setelah anak-anaknya beranjak besar, ia mulai belajar membuat kue.

Lia – sapaannya – bukanlah perempuan yang jago masak. Juga tidak punya keahlian khusus membuat kue. Pun tidak mengambil kelas khusus, seperti kursus membuat kue atau bentuk-bentuk lainnya untuk menambah keahlian. Ia hanya belajar lewat Google dan Youtube. Setelah belajar, ia mencoba mempraktikannya. Ia sering kali gagal menghasilkan kue yang diinginkan dan sesuai tutorial.

Namun, ia tidak putus asa dan berhenti belajar. Ia mencoba lagi, sampai menemukan hasil terbaik. Ia juga terus mengevaluasi rasa, hingga menemukan yang terenak di lidah. “Belajar sendiri. Praktik gagal terus, sampai akhirnya dapat yang enak dan disukai,” tulis Lia, dalam obrolan via fasilitas perbincangan Istagram belum lama ini.

Setelah menemukan rasa terenak di lidahnya, ia memberanikan diri menjual di media sosial. Respons warga net (nettizen) ternyata bagus. Inilah yang membuat Lia semakin semangat. Gairahnya pun terlecut bukan hanya untuk terus belajar tetapi juga menghasilkan kue-kue enak.

Baca Juga: Jemput Kesuksesan dengan Bisnis Kue

Saat ini, Lia memproduksi beberapa macam kue seperti gorengan, bolu, brownies, dan kue kering. Ia menjual produk-produk itu tidak terlalu mahal. Yang penting, kata dia, perputaran uangnya cepat. “Yang paling disukai risoles dan brownies kukus. Kalau kue kering ya nastar. Tetapi, gue jualanya enggak mahal-mahal. Biar untung sedikit tetapi jalan terus,” ceritanya lebih lanjut.

Foto: Dokumentasi Cornelia Wedjo

Mula-mula, ia menjual kue-kue olahannya itu tanpa merk. Belakangan, ia ciptakan merk Cornelia dengan tagline: Homemade. Merk itu dibuatkan dalam bentuk stiker yang ditempelkan pada setiap produk kue yang dihasilkan. Media utama promosi dan penjualannya adalah Instagram. Ia rutin memajang kue hasil olehannya sesuai pesanan pelanggan di Istagram.

  • Mau Belajar
  • Tekun
  • Pantang Menyerah


Untuk ini, Lia tidak bekerja sendiri. Ia berkolaborasi dengan kembarannya, Ana. Tugas utama Ana adalah bagian pemasaran dan membuat logo merk dagang. “Logonya Ana, kembaranku, yang pesen. Biasanya dia yang bagian rapi-rapi dan marketing. Aku bagian bikin kue aja. Dia bantuin nawar-nawarin dan promosiin,” ceritanya lebih lanjut.

Lia mengaku, usahanya ini masih sangat kecil. Meski demikian, ia sangat puas dengan hasil kerjanya selama tiga tahun terakhir. Bukan hanya pada rasa, tetapi juga rupiah yang didapat. “Hasilnya buat bantu-bantu jajan anak dan nabung di koperasi sekolah. Sedikit sih, tapi senang aja. Bisa punya uang sendiri lagi. Tetapi poinnya, seneng bisa kerja lagi walaupun bukan kantoran kayak dulu. Bisa bikin sesuatu lah,” ujarnya.

Menjadi wirausahawan membuat kue, kata Lia, memang melelahkan. Namun, karena banyak yang suka, semua kelelahan tersebut terbayar lunas. “Capek banget tetapi karena suka, jadi hilang rasa capek-nya itu. Apalagi, kalau pada suka kue-nya. Jadi semangat lagi,” tuturnya.

Meski usahanya masih sangat kecil, minimal, dengan kesibukannya itu, Lia tidak lagi menghabiskan waktunya untuk menonton drakor yang digandrungi kaum perempuan Indonesia, baik ibu maupun para gadis Indonesia. Ia memakai waktu luangnya untuk kegiatan produktif yang menghasilkan uang. (Alex Madji)