Home Gagasan Lindungi Putra Putri Kita

Lindungi Putra Putri Kita

169
SHARE
Sumber Foto: Satuharapan.com

Filsuf F Budi Hardiman menulis artikel menarik berjudul “Relaks dengan Gawai” di Harian Kompas, Kamis 2 Agustus 2018. Isinya, refleksi filosofis atas ketergantungan yang begitu tinggi manusia masa kini pada gawai. Hal itu membuat manusia menjadi begitu “kerdil” karena membiarkan seluruh diri, hati, dan pikiran dikuasai. Manusia tidak lagi menjadi orang merdeka, melainkan budak.

Sebagai budak, orang mudah menyebarkan berita bohong dan gampang mengumbar kebencian. Sebab, hati dan budi kalah cepat dari jempol. Ketergantungan pada gawai juga membuat manusia menjadi pribadi yang tidak punya kehendak bebas lagi. Ia terpenjara. Kemerdekaan sebagai manusia dan ketenangan hidup baru didapatkan setelah batrei gawai habis dan ketiadaan sinyal.

Beberapa hari setelah membaca artikel ini, saya ngobrol dengan seorang pengemudi taksi daring (online) Go-car dalam perjalanan ke Bandar Udara Soekarno Hatta. Tepatnya, Sabtu 4 Agustus 2018. Namanya Budiyono. Sebagian besar bahan obrolan kami sudah ditulis di blog ini juga.

BACA JUGA:
Cerita Sopir Go-car yang Menginspirasi.

Ada bagian lain dari obrolan itu yang sengaja ditulis terpisah. Selain topiknya berbeda, juga karena pengalamannya seolah menjadi pembenar atas refleksi filosofis F Budi Hardiman. Artinya, apa yang dikatakan Budi Hardiman bukan hanya hasil olah pikir dalam ruang hening, tetapi betul-betul sudah menjadi kenyataan dan terjadi dalam hidup harian.

Budiyono bercerita, ia punya seorang anak laki-laki yang kecanduan virus gim daring sampai akhirnya berhenti kuliah. Kerja pun ditinggal. Akibatnya, Budiyono pusing memikirkan masa depan putra sulungnya. “Kemarin saya suruh pacarnya datang ke rumah. Saya ceritakan kondisi sesungguhnya supaya kalau memang mau putus, ya sekarang. Atau kalau jalan terus, siap menerima kondisi,” ujarnya saat itu.

Selama ini, Budiyono menyekolahkan anaknya di sebuah perguruan tinggi. Sebagai ayah, ia melakukan segalanya untuk memenuhi kebutuhan kuliah. Setiap kali minta uang kulih, selalu dipenuhi. Diminta uang untuk biaya studi banding ke luar negeri pun tidak ditolak. Suatu kali, Budiyono mulai curiga karena anaknya belum tiba di rumah setelah jadwal studi banding di luar negeri usai. Ternyata, putranya tidak keluar negeri. Ia habiskan uang dan waktu untuk studi banding di gim daring. “Kadang sekali main habis Rp 500.000,” cerita lebih lanjut.

Puncaknya, ketika ia ditelepon pihak kampus. Ia ditanya tentang pembayaran uang kuliah. “Saya kaget. Kok saya ditanya? Padahal saya selalu membayar. Kecuali kalau tidak bayar. Ternyata, uang itu tidak sampai di kampus,” ucapnya.

Parahnya lagi, ternyata sang buah hati tidak pernah ke kampus. Dari rumah, pamit pergi kuliah tetapi ternyata belok ke tempat lain untuk gim daring. Begitu pihak kampus memberitahu bahwa anaknya tidak mendapat nilai satu pun, ia kaget bukan kepalang. Namun, ia tidak bisa berbicara apa-apa.

Akhirnya, sang anak yang begitu kalem dan pendiam berhenti kuliah. Sekarang, sehari-hari tinggal di rumah. Karena jengah melihat kondisi demikian, Budiyono memintanya bekerja. Termasuk menjadi pengemudi taksi daring. Sayang, juga tidak berjalan. “Beberapa minggu lalu, akhirnya ia menerima tawaran bekerja di sebuah restoran. Namun hanya bertahan tiga hari. Ya, karena itu tadi. Dari rumah pamit ke tempat kerja, ternyata belok ke tempat lain untuk gim daring. Sekarang kembali diam di rumah,” ungkapnya.

Apa yang diceritakan Budiyono hanyalah satu contoh dari permenungan filosofis F Budi Hardiman di atas tadi. Putra Mas Budiyono sudah kecanduan gim daring dan tidak bisa melepaskan diri. Masih banyak korban lain, baik akibat kecanduan gim daring maupun karena hidupnya dikuasai gawai. Maka, perlu ada upaya dan kesadaran kolektif untuk menyembuhkan penyakit ini. Salah satu caranya, ya seperti dibilang F Budi Hardiman pada tulisannya. Harus ada keikhlasan untuk meninggalkan gawai.

Untuk konteks anak-anak kita, orang tua harus terlebih dahulu iklas melepas gawainya agar anak-anak juga bisa iklas tidak bermain gawai. Sebab, anak hanya meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Tanpa kontrol dan contoh yang ketat, maka siap-siap saja pengalaman yang dialami anak Mas Budiyono terjadi pada anak-anak kita. Karena itu, kita sendiri yang harus melindungi anak-anak. Bukan orang lain.

Sebagai penutup saya mengutip tulisan F Budi Hardiman: “Untuk menjelaskan sikap yang tepat itu, Heidegger bicara tentang Gelassenheit. Kata ini berarti membiarkan (lassen), ketenangan, penjagaan keseimbangan jiwa. Untuk kata Jerman itu, kita punya kata dengan muatan religius, ”ikhlas” dan ”keikhlasan”. Ada kesadaran religius yang disimpan dalam kata itu, bahwa barang-barang di dunia ini nisbi terhadap Sang Pencipta, maka sewaktu-waktu harus kita lepaskan. Agar relaks dengan gawai, kita perlu bersikap ikhlas. Sikap ini tidak timbul dari berpikir kalkulatif, tetapi dari berpikir meditatif, berpikir dengan fokus dan peduli pada keberadaan kita di dunia ini. Kita—demikian kata Heidegger tentang peranti-peranti—”membiarkan mereka pergi setiap waktu” atau ”membiarkan mereka sendirian saja sebagai yang tidak memengaruhi jati diri kita”. (Alex Madji)