Home Inspirasi Lingkungan Busuk

Lingkungan Busuk

673
0
SHARE

Dalam percakapan Blacberry Messanger (BBM), seorang teman mengaku terkaget-kaget saat Kepala SKK Migas (kini mantan) Rudi Rubiandini tertangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menerima suap dari perusahaan minyak asing di rumahnya. Barang bukti yang disita ketika itu uang sebanyak 700.000 dolar Amerika Serikat dan motor gede merk BMW. Dari tempat lain, masih disita pula ratusan ribu dolar Amerika Serikat.

Teman saya ini pernah menjadi mahasiswa Rudi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Di matanya, dan mungkin mahasiswa ITB lain, ketika masih sebagai dosen perminyakan ITB, Rudi adalah seorang sosok yang cukup credible, tidak neko-neko, dan berkualitas.

Bukan hanya dia. Sejumlah wartawan yang saban hari meliput di bidang energi juga mengaku kaget mendengar penangkapan Rudi. Pasalnya, Rudi cukup dekat dengan wartawan. Ramah, low profile, dan tidak pelit informasi. Dia tipe pejabat yang gampang dan enak ditemui.

Beberapa hari setelah penangkapan tersebut muncul rumor yang beredar luas di grup BBM. Isinya, pengakuan Rudi Rubiandini bahwa dia akhirnya mau menerima suap karena ada tekanan dari partai penguasa. Dia diminta untuk mencari dana dalam jumlah besar untuk kepentingan konvensi partai penguasa.

Rudi sendiri kebingungan bagaimana memenuhi permintaan pihak yang mendudukkannya pada posisi basah dan se-strategis itu. Secara pribadi, dia tidak punya uang sebesar yang diminta. Rumah tinggalnya saja masih dicicil dan belum lunas. Bahkan dia masih kelimpungan mencari dana untuk pengobatan ibunya yang sedang sakit dan dirawat di salah satu rumah sakit di Bandung.

Rumor ini juga beredar di kalangan wartawan hukum. Bahkan di kalangan tersebut, rumornya lebih rinci. Tokoh-tokoh partai penguasa yang kecipratan dana itu disebut lengkap dengan jumlahnya. Hanya saja, media mainstream sangat hati-hati mengangkat rumor seperti ini.

Tulisan ini pun tidak bermaksud menelisik rumor-rumor tersebut karena cukup sulit dikonfirmasi kebenarannya. Kalaupun orang-orang yang disebut itu bisa ditanyai, pasti mereka membantahkan. Sebab ada pameo, tidak ada maling yang mengaku sebagai maling.

Saya hanya ingin mengungkapkan bahwa betapa sebuah lingkungan, baik kerja maupun pergaulan itu sangat mempengaruhi perilaku dan kebiasaan seseorang. Seorang blogger pendidikan, http://akhmadsudrajat.wordpress.com, pernah menulis begini, “Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap pembentukan dan perkembangan perilaku individu, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis, termasuk didalamnya adalah belajar. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti pengalaman, karena dengan lingkungan itu individu mulai mengalami dan mengecap alam sekitarnya. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pengaruh lingkungan itu, karena lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya.”

Berdasarkan fakta-fakta sederhana yang saya paparkan di permulaan artikel ini, kesimpulan sementara saya adalah Rudi Rubiandini tadinya orang baik. Tetapi dia kemudian rusak oleh budaya politik dan birokrasi yang korup (berdasarkan rumor di atas tadi). Dia dipaksa menjadi maling karena dipalak oleh partai penguasa.

Budaya politik dan birokrasi yang korup ini tidak bisa dipungkiri lagi. Sudah banyak pejabat di pemerintahan dari tingkat pusat sampai daerah dan di legislatif serta pengusaha dijebeloskan ke penjara oleh KPK karena menilep uang rakyat. Masih ada juga pejabat dan mantan pejabat yang sudah ditetapkan sebagai tersangka tetapi belum dipenjarakan. Penyakit korup di kalangan pejabat ini sudah sebegitu akutnya dan sudah menjadi semacam gaya “gaya hidup”.

Kondisi yang busuk inilah yang merusak Rudi Rubiandini. Atau kalaupun tadinya Rudi sudah rusak, maka lingkungan seperti itu membuatnya semakin rusak dan busuk. Dibutuhkan keteguhan hati dan kecerdasan otak dan emosional untuk tidak terseret arus lingkungan yang busuk itu. Seharusnya, seseorang yang baik bisa mempengaruhi dan merekayasa sehingga dapat mengubah lingkungan yang busuk itu menjadi lebih baik. Tetapi dalam kasus Rudi Rubiandini, dia gagal menjalankan tugas ini. Yang terjadi justru sebaliknya. Dia terjerembab dalam lingkungan yang sudah busuk tersebut. (Alex Madji)

Sumber foto: politik.kompasiana.com