Lukisan-lukisan yang Jatuh dari Langit di Labuan Bajo

Lukisan-lukisan yang Jatuh dari Langit di Labuan Bajo

156
SHARE
Pemandangan dari atas Pulau Rinca (Foto: Ciarciar.com, Jumat 30 Juni 2017)

Jumat, 30 Juni 2017, saya bersama keluarga melakukan perjalanan sehari ke tiga titik di Taman Nasional Komodo, yaitu Pulau Rinca, Pasir Putih, dan Pulau Kelor. Ini bagian dari jadwal pulang kampung untuk sebuah acara syukuran 4 Juli 2017 silam.

Kami berangkat dari pelabuhan Labuan Bajo dengan kapal yang kami sewa Rp 2,8 juta sehari dengan penumpang empat orang dewasa dan tiga anak-anak pukul 08.00 Waktu Indonesia Tengah. Biaya tadi sudah termasuk makan siang, nasi kotak. Lauknya bisa ikan atau ayam, tergantung pilihan kita sebelum berangkat.

Butuh waktu 1,5 jam untuk tiba di Loh Buaya, pintu masuk ke Pulau Rinca. Saat kami tiba, sudah bayak kapal sejenis yang sudah bersandar pada pelabuhan yang terbuat dari kayu. Sebelum kami merapat, anak-anak saya senang bukan main saat melihat seekor Komodo berjalan-jalan di bibir pantai.

Mereka baru bisa melihat dari dekat Komodo besar dan kecil ketika berada di Pulau Rinca. Setelah mengambil foto di belakang Komodo, kami treking lewat jalur paling pendek, menikmati keindahan alam dari ketinggian, memandang ke laut lepas. Indah. Meski harus menahan teriknya matahari.

Pasir Putih

Kami tidak terlalu lama berada di sini. Setelah itu kami berlayar ke Pasir Putih selama hampir satu jam. Sebetulnya, ini sebuah pulau yang isinya hanya pasir putih. Ukurannya juga sangat tidak luas. Inilah untuk pertama kalinya, saya datang kemari.

Di sini, anak-anak saya mencoba belajar snorkling karena lautnya dangkal. Tentu saja tidak mudah dan sesekali menelan air laut. Ada pengalaman menarik. Ketika salah satu anak buah kapal, masih berusia anak-anak, bisa menangkap ikan dengan tangan kosong, mereka sangat senang. Belum lagi saat anak buah kapal itu dengan cekatan menangkap anak pari menggunakan martil. Mereka selalu mengulangi cerita ini saat kembali ke Jakarta.

Pulau ini indah. Apalagi bagi pasangan yang hendak berbulan muda. Pemandu kami bercerita, ia dan teman-temannya beberapa kali mengantar pasangan yang sedang berbulan madu di pulau pasir putih tersebut. Di sana, mereka membangun tenda sederhana dan melepas pasangan tersebut di situ. Kapal dan para awaknya lalu pergi menjauh, dan saat waktunya menjemput serta segala urusan pasangan itu selesai, mereka akan kembali. Romantis sekali.

Pulau Kelor

Pemandangan dari puncak Pulau Kelor, Jumat 30 Juni 2017. Foto: Ciarciar.com.

Setelah puas bermandi air laut di sini, walaupun hanya pakai celana dalam karena lupa bawa celana renang, kami menuju titik terakhir, Pulau Kelor. Perjalanan ke sana hanya butuh waktu 45 menit. Tempat ini juga tidak kalah indahnya. Kapal-kapal kayu para pelancong bisa merapat hingga bibir pantai dan menyentuh pasir putih. Maklum tidak ada dermaga.

Begitu turun dari kapal, tinggal dipilih mau snorkling atau “naik gunung”. Hari itu, kami memilih naik gunung. Anak-anak saya juga ikut. Hanya istri yang memilih tinggal di kapal karena mengaku tidak kuat akibat kelelahan treking di Pulau Rinca. Untunglah anak-anak saya kuat dan bisa sampai puncak dan turun kembali dengan gagah, meski bercucuran keringat dengan buliran-buliran yang besar. Top bro.

Untuk naik ke puncak Pulau Kelor, Anda perlu sedikit hati-hati. Tanjakannya cukup tajam dan lebih terjal dari Pulau Padar, walaupun jaraknya jauh lebih pendek. Tidak ada pula tangga atau undakan yang memudahkan Anda menapak. Hanya ada cekungan-cekungan kecil atau batu-batu yang bisa dijadikan tumpuan saat Anda mendaki. Begitu pun saat turun. Bila tidak hati-hati, Anda bisa terjatuh.

Tapi kesuksesan anak-anak sampai di puncak Pulau Kelor terbayar lunas oleh keindahan alam yang begitu dahsyat terlihat dari atas. Kami pun puas berfoto dari puncak Kelor dengan pemandangan gunung-gemunung di seberang lautan plus deretan kapal yang merapat di bibir pasir putih Pulau Kelor di bawahnya.

Saat tiba kembali di bibir pantai, kami berjumpa dengan satu keluarga dari Australia yang pada Kamis, 29 Juni 2017 satu penerbangan dengan kami dari Jakarta. Namun, mereka memilih snorkling terlebih dahulu. Saya tidak tahu apakah mereka juga naik ke puncak Kelor karena kami kembali lebih awal ke Labuan Bajo.

Beberapa foto di pulau ini sudah saya pajang di media sosial, seperti Facebook. Banyak sahabat yang terkagum-kagum dengan keindahan alam yang tersaji. Bahkan, ada teman yang berkomentar, “Seperti lukisan”. Memang benar, keindahan Pulau Kelor sama seperti sepotong lukisan yang jatuh dari langit.

Keindahan Pulau Kelor tidak kalah dari Pualau Padar yang sudah menjadi salah satu destinasi utama di Perairan Komodo dan kerap dijadikan lokasi foto pranikah oleh beberapa pasangan. Dan, Pulau Kelor selalu menjadi salah satu objek yang dijual para pemandu wisata di Labuan Bajo. Karena itu, bila ke Labuan Bajo, jangan lewatkan Pulau Kelor. Nikmati sepotong lukisan yang jatuh dari langit di sana. (Alex Madji)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY