Home Inspirasi Maaf untuk Para Petugas Kebersihan

Maaf untuk Para Petugas Kebersihan

883
0
SHARE
Sumber Foto Ilustrasi: Dream.co.id

Senin, 19 Desember 2016, saya izin kerja dari rumah kepada bos. Alasannya, saya mau servis kendaraan. Untunglah bos saya baik hati. Ia izinkan. Setelah merampungkan pekerjaan kantor, saya lalu berangkat ke bengkel pukul 09.10 WIB. Lima belas menit berselang saya sudah tiba di bengkel yang berada di Sektor VII, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan. Tak terlalu lama menunggu, nomor polisi kendaraan saya dipanggil menuju konter dua.

Setelah semua urusan untuk servis beres, saya tinggal menunggu para petugas bengkel selesai mengerjakan tugasnya. Pekerjaan saya selanjutnya adalah menunggu. Saya tahu akan menunggu sangat lama. Karena itu, saya menyiapkan perangkat kerja dari rumah untuk melanjutkan pekerjaan lain di bengkel guna membunuh rasa jenuh.

Tiba-tiba, saya kebelet pipis. Saya ke toilet. Di sana sudah dua orang. Yang satu karyawan bengkel sedang mencuci tangan sambil bercermin. Satunya lagi, seorang petugas kebersihan (cleaning service) sedang menulis sesuatu di atas sebuah kertas. Mungkin kertas keterangan tentang kondisi kebersihan toilet.

Lalu keduanya berbicara tentang liburan akhir tahun yang sudah mendekat. Dialog keduanya pun menarik perhatian saya. Saya nguping sambil menikmati leganya pipis yang mengalir lancar setelah ditahan agak lama. Si petugas kebersihan bercerita bahwa liburan keluar kota lebih enak pakai kendaraan sendiri dibanding naik kereta. Apalagi kalau membawa keluarga.

“Punya mobil Mas?” Tanya karyawan bengkel yang tampil necis dengan seragam merah putihnya. “Ada,” jawab Mas petugas cleaning service.
“Mobil apa?”
“Honda Jazz.”
“Sudah lama?”
“Dari 2007.”
“Beli seken ya?” Tanya karyawan bengkel lebih jauh.
“Iya,” timpalnya.
“Cicilan sebulan berapa?” Tanya karyawan bengkel itu lagi.
“Sudah lunas lama. Tapi selama ini dipakai hanya untuk keperluan keluarga. Jarang dipakai. Paling dipanasin doang,” timpalnya.

Kemudian saya kebelet buang air besar. Untung toilet buang air besar sedang kosong. Saya masuk. Sambil ngeden, saya masih nguping dialog keduanya. Dari ceritanya, Mas petugas cleaning service itu sepertinya sedang kuliah dan akan fokus menyelesaikannya.

Kesibukan di bengkel Auto2000 Bintaro (Foto: Ciarciar.com)
Kesibukan di bengkel Auto2000 Bintaro (Foto: Ciarciar.com)


“Saya mau fokus selesaikan kuliah. Sudah terlalu lama. Kalau sudah selesai, saya akan pindah kerjaan,” ceritanya menggetarkan hati saya yang sedang ngeden di atas closet duduk.
“Memang sudah berapa lama kerja sebagai cleaning service?” Tanya karyawan bengkel.
“Sudah tiga tahun,” timpalnya.
“Tadinya saya bukan bekerja sebagai cleaning service..,” ceritanya lebih jauh.

Tapi dialog keduanya terhenti. Mereka sama-sama meninggalkan toilet. Tak ada suara lagi terdengar. Saya pun tak mendengar lagi dialog mereka selanjutnya. Seketika itu juga muncul keinginan dalam hati saya untuk menulis dialog keduanya. Saya segera ambil smart phone dan langsung menuliskan artikel ini sambil mendorong sesuatu ke dalam kloset. Tapi tidak sampai selesai karena takut ada yang menunggu terlalu lama di luar. Saya save artikel ini dan cebok. Artikel ini diselesaikan sambil duduk manis di ruang tunggu bengkel.

Dialog kedua pria tadi langsung menghentak dan memukul kesadaran saya. Sebab, tak jarang, saya menganggap enteng para pekerja rendahan, termasuk petugas cleaning service seperti si mas tadi. Mungkin Anda juga seperti saya. Menganggap mereka sebagai orang yang tidak berpunya. Mudah-mudahan cerita Mas petugas kebersihan tadi membuka kesadaran saya dan juga Anda dan mengubah persepsi terhadap mereka.

Untuk kekeliruan cara pandang dan penilaian selama ini, saya minta maaf. Bila Anda berpikiran sama dengan saya, yuk mari kita minta maaf kepada para petugas kebersihan. Tidak baik menilai rendah orang lain. Sekecil apa pun mereka. (Alex Madji)