Macao Bukan Hanya Casino (Bagian Kedua)

Macao Bukan Hanya Casino (Bagian Kedua)

195
SHARE
Kolam renang khusus untuk tamu Mansion Sofitel Hotel, Macao (Foto: Ciarciar.com

Cerita perjalanan hari kedua dan ketiga ke Macao, Kamis 26 Oktober dan Jumat 27 Oktober 2017, saya satukan saja. Alasannya sederhana. Selama dua hari ini, kami mengunjungi hotel-hotel berbintang dengan segala fasilitasnya yang serba wah dan sangat memanjakan para pelanggan mereka.

Kami memulai dengan melihat fasilitas yang disebut mansion di Sofitel Hotel, tempat kami menginap. Hotel Grup Accor ini memiliki 13 masion dengan kamar-kamar luas, plus berbagai fasilitas lainnya, termasuk ruang karoke. Juga disediakan fasilitas kolam renang khusus, ukurannya lebih besar dari kolam renang untuk umum di lantai enam, dengan pemandangan ke Kota Zhuhai dan pegunungan di belakangnya. Indah tentu saja. Salah satu mansion di hotel ini bernama Michael Jackson Room. Semula saya mengira, kamar ini pernah ditempati almarhum MJ. Ternyata, hanya sebuah nama.

Selain punya mansion, hotel ini juga punya fasilitas spa. Dan, ada tiga orang Bali yang bekerja di bagian ini. Satu orang Bali lainnya bernama I Nyoman Siti Suandari bekerja sebagai chef di hotel bintang lima tersebut dengan gaji super besar. Di bagian front office, juga ada satu orang Indonesia. Total, ada lima orang Indonesia yang bekerja di hotel tersebut.

“Selamat pagi Pak. Saya Nyoman. Kalau butuh masakan Indonesia, tinggal disampaikan. Saya stand by di dapur,” sapa Nyoman kepada rombongan wartawan dari Indonesia, Kamis 26 Oktober 2017 yang mengambil meja makan di pinggir kolam renang, saat sarapan pagi.

Dari sini kami dibawa ke kompleks bernama Galaxy. Malam sebelumnya, kami menyaksikan keindahan bagian luar kawasan ini saat bermandikan cahaya lampu. Tapi, sebelumnya, kami makan siang, juga buffe, di MGM. Di sini makanannya enak-enak. Ada beberapa rupa daging, terutama babi. Lalu ada ikan, kepiting, salad, dan aneka kue. Pokoknya uenak tenan.

Pertunjukan

Setelah kenyang, kami diajak melihat Diamond Show di Galaxy Hotel. Ini sebuah pertunjukan yang berlangsung kurang dari lima menit tentang sebuah diamond besar yang diperlihatkan ke publik disertai permainan cahaya dan desiran air serta musik. Meski sebentar, ia cukup menyedot perhatian pengunjung yang hilir mudik dari dan ke casino.

Kawasan Galaxy, Macao, bermandikan cahaya pada malam hari. Foto diambil Rabu, 25 Oktober 2017. (Foto: Ciarciar.com)

Setelah itu, diajak menjelajahi Galaxy Hotel didampingi Mylene Fong, Senior Executive Media Relations. Hotel ini, kata dia, juga memiliki fasilitas yang wah termasuk wahana permainan air atau ocean park yang cukup luas lengkap dengan garis pantai berpasir putih. Boleh dikatakan ini sebuah Sky Sea alias laut di atas awan karena dibangun di atas mol. Pasirnya saja didatangkan khusus dari Eropa.

Sebenarnya, di kompleks ini masih ada tiga hotel lainnya yakni Ocura, Ritz Charlton, dan Broad Way. Mereka satu grup. Tapi kami tidak sempat melihat fasilitas hotel lainnya, kecuali melihat lokasi makanan kelas kaki lima di lorong Hotel Broadway. Di sini, kami sempat bertemu seorang pekerja Indonesia asal Sragen, Sri Wahuni. Ia sedang menjaga stand eskrim milik majikannya. Perempuan yang merantau bersama suaminya di Macao itu digaji hampir Rp 12 juta per bulan. Jumlah gaji yang sama juga diterima suaminya yang bekerja di tokoh buah.

Jumat, 27 Oktober 2017, dipandu pegawai humas hotel yang cantik, Kate Cheang, kami diajak melihat Hotel Parisian dengan nuansa Paris yang berkapasitas 3.000 kamar. Kepada kami ditunjukkan kamar-kamar spesial di hotel yang mewah itu. Kami juga diajak naik ke Menara Efiel untuk melihat pemandangan Macao dari atas. Jangan lupa juga pasang gembok cinta sebelum naik lift menara. Katanya, ini sama seperti di Paris.

Kompleks yang juga sangat luas tersebut, masih punya satu hotel lainnya, Venesian. Hotel ini juga sama megahnya dengan nuansa Italia/Venesia. Kedua hotel itu dan beberapa hotel lainnya di kawasan tersebut dikelola oleh perusahaan China, Sands China Ltd. Jumlah kamarnya 3.000. Ada yang berukuran 175 meter persegi. Selain dilengkapi kanal Venesia, hotel ini juga dilengkapi fasilitas lapangan golf 18 hole. Sayang, kami tidak diajak memukul bola di lapangan golf tersebut. Kami hanya mencoba naik gondola menyusuri kanal. Hitung-hitung mencicipi suasana Venesia, tanpa harus ke Italia. Rasa Italianya dapat karena beberapa petugas gondola itu orang-orang Italiano yang menghibur pelanggannya dengan menyanyikan lagu O Sole Mio.

Wisata hiburan lain adalah sirkus yang sangat menarik “Monkey King-China Show” di Sands Cotai Theatre, Sands Cotai Central. Tiket masuk untuk menyaksikan pertunjukan ini seharga 1.580 patacas. Mahal sekali. Tapi tenang, tontonannya sangat menarik. Aksi para pemain sirkus membuat Anda tidak akan mengedipkan mata. Menarik, lucu, dan atraktif. Ada campuran seni bela diri, balet, komedi, magic alias sulap, dan beberapa seni lainnya. Saya merasakan, acara ini sungguh-sungguh mengobati kelelahan setelah menyusuri lorong-lorong hotel sepanjang hari.

Karena itu, Jumat malam, saya pulang ke hotel dengan sedikit bugar sehingga langsung menulis laporan. Ini beritanya. Padahal, Kamis, 26 Oktober malam, saya kembali ke hotel dengan sangat lelah. Untuk mengusir kelelahan, saya bergabung dengan wartawan senior Kompas, Thomas Pudjo dan wartawan JPPN yang akrab kami panggil Toni menyeruput sekaleng carlsgerg yang dibeli di Circle K di depan hotel sambil menunggu datangnya rasa kantuk. (Bersambung)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY