Macao Bukan Hanya Casino (Bagian Pertama)

Macao Bukan Hanya Casino (Bagian Pertama)

173
SHARE
Kota Macao difoto dari lantai 58 Macau Tower. (Foto: Ciarciar.com)

Pada 25-30 Oktober 2017, saya bersama empat wartawan Indonesia diundang Macao Government Tourism Office (MGTO) berkunjung ke Macao. Ini murni jalan-jalan. Melihat yang indah-indah dan menikmati yang enak-enak di sana.

Menumpang Air Asia yang terbang langsung Jakarta – Macao, Rabu 25 Oktober dini hari, kami menyentuh daratan Macao pukul 08.00 pagi waktu setempat, setelah menempuh perjalanan enam jam. Macao lebih cepat satu jam dari Jakarta.

Urusan di imigrasi Macao tidak terlalu rumit dan lama. Yang menunggu lama justru bus yang akan membawa kami keluar dari Bandara Internasional Macao yang dibangun di atas laut. Dari situ kami dibawa ke pusat kota untuk sarapan bubur, bakpao, dim sum, plus teh di sebuah restoran hotel di pusat kota. Dari situ kami digiring ke Macau Tower. Orang setempat mengklaim ini sebagai tower tertinggi di dunia. Kita amini saja.

Lalu apa yang menarik di sana? Untuk orang yang fobia ketinggian, tempat ini tidak ada menarik-menariknya. Yang ada justru buat lutut gemetaran dan jantung berdegup kencang. Namun buat mereka yang sehat dan normal, ini sebuah tempat yang asyik untuk melihat seluruh lekukan Macao dari ketinggian.

Mula-mula kami dibawa ke lantai 58 dengan lift yang super cepat dan membuat telinga berdenging, saking kencangnya. Dari sini kita bisa melihat dan memotret kemolekan segala sudut Macao. Nyali Anda juga diuji dengan melewati lantai kaca tembus pandang ke bawah. Setelah puas berfoto, kami di bawah ke lantai 61 untuk melihat para pemberani yang melakukan sky walk, sky jump, dan terjun bebas alias bungy jump dari ketinggian 233 meter. Kemudian kami turun ke lantai 60 untuk makan siang ala buffe. Makan “ukur kuat” sampai puas dan sampai kenyang. Begitu pesan tour guide alias pemandu kami.

Agak sore, kami baru checkin di Sofitel Hotel yang terletak di Ponte 16, kawasan Kota Tua. Hotel ini juga menjorok ke kanal dan di sebelahnya sudah tampak sangat jelas Kota Zhuhai, Cina Daratan.

Karena kami diundang pemerintah, tiap orang dapat satu kamar lux di lantai 15. Saya dapat kamar paling ujung, 1531. Ukuran kamarnya luas dengan bath up yang besar plus televisi. Jadi sambil berendam air panas, bisa nonton televisi.

Sebelum kami datang, sudah disiapkan juga welcome cakes lengkap dengan tulisan media masing-masing plus berbagai macam buah. Sayang, hingga hari terakhir, saya gagal menghabiskan kue dan buah-buahan itu karena terlanjur kekenyangan di berbagai restoran yang kami kunjungi.

Menara Efiel Macao ini dibangun di depan Parisian Hotel dengan tinggi setengah dari manara aslinya di Paris, Prancis. (Foto: Ciarciar.com)

Sempat tidur sore yang nyenyak selama hampir tiga jam pada hari pertama di Macao, kami makan malam masakan Kanton di restoran lantai 18 hotel tersebut, sebelum kemudian keluar lagi menyaksikan keindahan Macao di malam hari. Objek yang kami kunjungi adalah kawasan Galaxy yang tampak sangat megah dengan permainan lampu yang aduhai serta Parisian, menyaksikan Menara Efiel-nya Macao berselimutkan cahaya merah jingga.

Puas dengan pemandangan di sini, kami pulang ke Sofitel agak malam. Karena sudah mandi, maka sekarang waktunya menulis laporan tentang uji nyali di Macau Tower. Beritanya baca di sini.

Selepas itu, saya merebahkan tubuh di kasur yang empuk sambil melihat chanel-chanel televisi setempat. Sayang, tidak ada satu pun tayangan yang menarik. Malas lihat berita-berita tentang politik China dari televisi-televisi asing. Makin lama, akhirnya ngantuk juga dan tertidur lelap. Sempat bangun jam setengah enam tapi tidur lagi dan baru bangun kembali setengah sembilan pagi, trus mandi dan sarapan di restoran lantai enam. Enak sekali. (Bersambung)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY