Mahalnya Sebuah Kata Maaf

Mahalnya Sebuah Kata Maaf

876
SHARE
Foto Ilustrasi diambil dari www.hipwee.com

Anak nomor dua saya suka iseng. Ia sering ganggu kakaknya ketika sedang asyik bermain. Biasanya, si kakak minta adiknya jangan ganggu. Tapi dasar iseng. Larangan itu justru seperti menyuruh dia makin menjadi. Kalau sudah tidak tahan, kakaknya main tangan atau kaki.

Bukannya mengalah, adiknya malah melawan dan serang balik. Kalau sudah begini perkelahian tak terelakkan. Tunggu saja, siapa yang menangis duluan. Saya kadang beritahu pelan-pelan kepada keduanya agar tidak berantem. Kadang larangan itu tidak digubris. Kalau nada saya tinggi, saya malah dicap sebagai pemarah.

Pada kesempatan lain, si adik tiba-tiba tempeleng kakaknya sambil jalan tanpa sebab. Ketika kakaknya menangis, raut wajahnya memperlihatkan bahwa ia salah. Tapi ia tidak mau segera minta maaf. Kadang saat saya suruh minta maaf, ia enggan menjalankannya. Saya harus sedikit memaksa agar ia minta maaf ke kakaknya. Tapi kadang, kalau ia tahu dan merasa bersalah, ia langsung minta maaf. “Maaf ya kakak,” ujarnya pelan.

Belum lama ini, sebelum tidur malam, ia tiba-tiba melempar buku yang hendak dibaca ke atas kasur. Sayang, buku itu mendarat di wajah maminya yang sudah tertidur. Sang ibu kaget dan harus menarik napas panjang. Mungkin sedikit menahan amarah. Saya lalu menyuruhnya agar minta maaf ke mami.

Bukannya langsung minta maaf, ia malah balik memarahi saya. Meski raut wajahnya tetap memperlihatkan ia merasa bersalah. “Kalau papi marah-marah terus, adek nggak mau minta maaf,” ujarnya dengan suara setengah menahan tangis dan mulut agak maju.

Namun, yang susah sekali untuk minta maaf bukan hanya anak-anak. Para remaja juga cukup sulit minta maaf ketika melakukan kesalahan. Pernah suatu ketika, saat berangkat kantor, motor saya ditabrak dari belakang oleh sebuah motor yang dikemudi seorang anak berseragam SMU. Saya coba menoleh, kenapa kira-kira saya ditabrak. Tapi anak SMA itu tak mengeluarkan kata-kata maaf sedikit pun. Malahan ia memelototi saya.

Pada lain kesempatan, dalam perjalanan pulang ke rumah, ada seorang pemuda berewokan tiba-tiba belok kanan, agak dari tengah jalan dan tanpa memberi lampu sein, persis di depan saya. Nyaris saya menubruknya. Karena kaget, saya membunyikan klakson. Bukannya minta maaf (mungkin juga karena tidak tahu kesalahannya), ia lalu mengejar saya. Saya terkejut bukan kepalang ketika tiba-tiba ia meneriaki saya dari sisi kiri tidak jauh dari tempat seharusnya ia sudah belok kanan tadi.

Saya hanya bisa mengelus dada menyaksikan aksinya itu. Saya tidak ikutan mengejar. Daripada masalah lebih panjang, biarkan saja ia pergi. Mungkin ia puas setelah kenyamanannya terusik oleh klakson motor saya dan membalasnya dengan membentak saya.

Pada orang-orang tua, termasuk para figur publik terutama politisi, mengucapkan kata maaf ini juga sangat sulit dan mahal. Sebagai contoh, tidak sedikit politisi yang sudah divonis bersalah pengadilan karena kasus korupsi. Sebutlah, Gayus Tambunan, Mohammad Nazaruddin, Angelina Sondakh, Andi Mallarangeng, Jero Wacik, Suryadharma Ali, dan mantan Ketua MK Akhil Mochtar atau mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Belum lagi, begitu banyak gubernur dan bupati/walikota yang sudah divonis bersalah. Tapi pernahkah Anda mendengar permintaan maaf secara publik dari mereka? Tidak pernah.

Padahal, putusan mereka bersalah sudah berkekuatan hukum tetap. Artinya, pengadilan memastikan bahwa mereka sudah mencuri uang rakyat. Duit yang mereka pakai untuk kemewahan, termasuk mengoleksi mobil-mobil top dunia, adalah uang yang dibayar dari pajak rakyat. Kalau mereka sadari itu, seharusnya para koruptor ini minta maaf secara publik. Sebab perbuatan mereka sangat melukai hati rakyat. Tapi justru orang-orang terdidik ini, dengan gelar akademis yang tinggi, sangat sulit sekali meminta maaf. Bagi mereka, kata maaf itu sangat mahal.

Saya lalu berpikir, mungkin pada masa kecilnya orang-orang ini tidak diajari orang tuanya agar segera meminta maaf setiap kali selesai melakukan kesalahan. Kalau budaya minta maaf sudah ditanamkan sejak masa kanak-kanak, saya yakin hal ini akan terbawa sampai dewasa. Permintaan maaf perlu dilakukan dari hal yang paling kecil dan dimulai sejak dini. Tanpa itu, setiap orang yang melakukan kesalahan, akan dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja.

Mudah-mudahan saya mampu mendorong anak saya memiliki inisiatif untuk meminta maaf setiap kali melakukan kesalahan. Lebih bagus lagi kalau permintaan maaf itu datang dari hati. Bukan atas paksaan. Karena maaf yang tulus selalu datang dari lubuk hati terdalam, bukan maaf hanya di mulut karena keterpaksaan. (Alex Madji)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY