Home Buku Mahkota Itu Bernama Buku

Mahkota Itu Bernama Buku

1176
0
SHARE
Siprianus Edi Hardum memperlihatkan karyanya. (Foto: Ciarciar.com)

Menulis buku bagi seorang wartawan adalah sebuah mahkota. Dan, teman saya, sesama wartawan Suara Pembaruan, Siprianus Edi Hardum sudah meraih mahkota tersebut. Ia baru saja menulis buku “Perdagangan Manusia Berkedok Pengiriman TKI” yang diterbitkan Ar-Ruzz Media, Yogyakarta.

Sebagai teman, tentu saja saya bangga dengan prestasi teman ini. Apalagi, kami bukan hanya temanan di kantor tapi juga sekolah di SMP yang sama pada 1988-1991. Sebagai teman, saya dilibatkan dalam proses penulisan buku ini. Saya dipercaya sebagai pembaca terakhir sebelum naskah dikirim ke percetakan.

Tapi karena ini buku hukum, saya tidak berani masuk ke substansi dalam memberi masukan. Saya hanya mengoreksi salah ketik, meluruskan logika yang, menurut saya, kabur. Serta, menerjemahkan kutipan Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia. Sempat juga memberi masukan satu hal terkait wewenang Mahkamah Konstitusi (MK). Penulis lupa menyebutkan satu tugas MK yaitu menyelesaikan sengketa antarlembaga negara.

Aslinya, buku ini adalah skripsi S1 untuk meraih gelar Sarjana Hukum. Dan, untuk mengeditnya, saya harus duduk di depan laptop selama satu hari penuh, sampai lupa makan siang. Sempat juga stres karena bahan yang sudah diedit mendadak hilang. Terpaksa dimulai lagi dari awal. Belum lagi sang penulis terus menagih karena harus segera dikirim ke penerbitan. Maka, saya harus meninggalkan urusan lain untuk membaca dan mengoreksi buku ini.

Nah, ada sedikit cerita lucu dalam proses mengedit naskah buku tersebut. Saya sudah mengedit naskahnya hampir setengah tapi tiba-tiba catatan kakinya hilang. Pusing saya. Ternyata ada ribuan halaman yang tiba-tiba melompat dengan sendirinya. Karena sedikit gaptek alias gagap teknologi, saya hapus ribuan halaman kosong itu secara manual sebelum menemukan teks-teks catatan kaki. Setelah itu baru proses editingnya berjalan lancar. Setelah rampung saya langsung kirim ke penulisnya. Tugas saya pun selesai.

Dari sudut isi, buku ini padat. Kasus perdagangan manusia ditempatkan di dalam kerangka teori tentang negara. Edi, begitu ia disapa, mengutip pendapat banyak ahli mulai dari Micolo Machiavelli hingga Antonio Gramcy. Bukan hanya itu. Edi juga menempatkan kasus perdagangan manusia dalam konteks perdagangan global.

Setelah berbicara panjang lebar tentang teori-teori tersebut, ia masuk dalam kasus perdagangan manusia berkedok pengiriman TKI itu sendiri. Edi paham betul urusan TKI. Sebab, ini adalah bidang liputannya selama bertahun-tahun. Ia tahu seluk beluknya mulai proses perekrutan hingga pengiriman TKI keluar negeri. Bahkan ia sudah mengunjungi sejumlah negara yang menjadi negara tujuan TKI. Ia juga mengungkapkan siapa-siapa saja yang terlibat dalam perdagangan orang berkedok pengiriman TKI ini.

Karena ini masalah manusia, maka buku ini dipetkuat oleh prolog Hendardi, tokoh hak asasi manusia di Indonesia dari Setara Institut dan Dosen moral STF Driyarkara, Dr Peter C Aman OFM. Sambutan mereka mempertegas bahwa masalah ini sangat serius dan mendesak segera diakhiri. Peran negara didesak untuk semakin besar dalam menghentikan perdagangan manusia ini. Repotnya, justru oknum aparat negara ikut terlibat dalam memuluskan perdagangan manusia ini.

Karena itu, buku ini sangat penting dibaca oleh aparat penegak hukum serta siapa saja yang melakukan advokasi pada masalah perdagangan manusia dan TKI. Buku ini juga dilengkapi oleh UU No 39/2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri yang menjadi pegangan bagi para penegak hukum dan aktivis yang melakukan advokasi. Kata Edi, “Dengan beli buku ini, pembaca tidak perlu beli lagi undang-undangnya.”

Akhirnya, selamat kawan, semoga mahkotamu ini membuatmu semakin gagah sekaligus pemacu untuk lahir karya-karya berikutnya. Dan, karena ini karya ilmiah maka siap-siap saja ide dan gagasan Anda dalam buku itu disanggah oleh pembacamu. (Alex Madji)