Home Gagasan Masih Berani Lawan Jokowi?

Masih Berani Lawan Jokowi?

182
SHARE
Hasil survei Kompas ini diambil dari Komps.com

Survei Litbang Kompas yang diterbitkan Harian Umum Kompas Senin 23 April 2018 memperlihatkan tingkat keterpilihan atau elektabilitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) menanjak tajam lebih dari 10% dibanding survei sebelumnya, enam bulan silam. Sebaliknya, elektabilitas Prabowo Subianto, calon penantang Jokowi pada Pilpres 2019, melorot 4%. Elektabilitas Jokowi mencapai 55,9%, sedangkan Prabowo tinggal 14,1%.

Kesimpulan sementara dari angka-angka survei ini, Jokowi makin sulit dikalahkan oleh lawan mana pun pada pilpres tahun depan, termasuk oleh Prabowo yang sudah menerima mandat dari para kadernya untuk maju sebagai calon presiden (capres). Meskipun, pilpres masih satu tahun lagi dan masih ada waktu bagi para lawan menaikkan elektabilitas masing-masing.

Lalu apakah Prabowo masih berani maju melawan Jokowi, meskipun sudah hampir pasti kalah? Kalau dihitung secara ekonomis, Prabowo idealnya mengurungkan niatnya melawan Jokowi. Daripada buang-buang uang untuk membiayai pilpres dan pasti kalah, lebih baik mundur secara kesatria dan menyerahkan tiket kepada calon lain yang bisa membalikkan keadaan saat ini.

Pilihan lain untuk Prabowo adalah menerima pinangan kubu Jokowi untuk menjadi calon wakil presiden (cawapres). Apalagi, gosip bahwa Prabowo didorong untuk diduetkan dengan Jokowi juga makin kencang beredar.

Baca juga: Prabowo Kalah Sebelum Perang? 

Pilihan lainnya, Prabowo tetap maju dengan syarat, ia bersama tim harus bekerja amat sangat keras. Pertama-tama untuk menghentikan laju grafik survei yang terjun bebas selama satu tahun ke depan. Kedua, kalau langkah pertama berhasil, perlu kerja ekstra keras pula guna menaikkannya kembali untuk mengejar elektabilitas Jokowi yang terus meroket.

Posisi Prabowo seperti buah simalakama. Sebab, maju tidaknya pada pilpres 2019 bukan hanya untuk kepentingan Prabowo sendiri, melainkan juga terkait nasib Partai Gerindra. Apalagi pilpres 2019 dilangsungkan serentak; pemilihan anggota legislatif dan pilpres.

Maju tidaknya Prabowo juga akan sangat menentukan perolehan kursi Partai Gerindra di parlemen 2019. Karena itu, para kader partai itu sangat berkepentingan sang pendiri maju sebagai capres karena ia tetap menjadi magnet terbesar bagi partai tersebut. Minimal, majunya Prabowo sebagai capres bisa mempertahankan perolehan kursi Gerindra di DPR seperti pada pemilu 2014. Sebaliknya, kalau Prabowo mundur dari pencapresan, bisa jadi raihan kursi Gerindra di DPR juga akan anjlok tajam.

Terkait ini, saya sependapat dengan analis politik Burhanudin Muhtadin. Dalam diskusi tentang calon wakil presiden untuk Jokowi dan Prabowo di sebuah stasiun radio akhir pekan lalu, sebelum survei Kompas diterbitkan. Ia menilai, pertimbangan perolehan kursi Gerindra di DPR pada 2019 akan menjadi salah satu faktor penentu sangat penting bagi pencapresan Prabowo.

Pada saat bersamaan, inilah masalah pokok yang dihadapi Gerindra. Mereka tidak punya figur lain sekuat Prabowo untuk tetap meraih kursi banyak di DPR sekalipun sang jenderal batal maju sebagai capres. Beda dengan PDI Perjuangan yang memiliki Presiden Jokowi, yang juga kader partai moncong putih, dan sang ketua umum Megawati Soekarnoputri. Peran keduanya, dan tentu saja para kader, turut menjadikan PDI Perjuangan sebagai partai yang oleh semua lembaga survei diprediksi memenangi pemilu 2019.

Kalau situasinya seperti itu, maka Prabowo sudah selayaknya menempatkan Gerindra di atas segalanya. Demi tetap menjaga Gerindra sebagai partai papan atas pada 2019 maka ia kemungkinan besar akan terus maju sebagai capres, apa pun hasilnya. Untuk itu, para kader harus siap gotong royong membiayai. Prabowo dan para kader juga harus melawan rasa takut kalah dari Jokowi. Tapi apakah masih berani melawan takut kalah itu? Hanya Prabowo dan para kader yang bisa menjawabnya. (Alex Madji)