Masuklah dalam Keheningan

Masuklah dalam Keheningan

514
SHARE
Sumber Foto Ilustrasi: ariestyaa.wordpress.com

Tidak semua orang bisa menikmati keheningan. Bagi yang tidak suka, mereka selalu mencari keramaian. Bahkan menciptakan keramaiannya sendiri. Orang-orang seperti ini selalu menghindari situasi hening. Bagi mereka, keheningan itu mencekam dan menakutkan.

Tapi tidak sedikit juga orang yang sangat suka dengan suasana ini. Mereka bahkan mencari dan mendatangi tempat-tempat yang tenang. Di sana mereka bisa masuk ke dalam diri. Berdialog dengan diri sendiri. Tanpa harus berkata-kata. Ia memeriksa dan menelanjangi dirinya sendiri. Melihat dan mengukur kelebihan dan kekurangannya seraya membangun niat dan tekad untuk memperbaikinya.

Dalam keheningan itu, orang bisa mengasah batin menjadi lebih tajam. Dalam keheningan pula, orang bisa memurnikan suara hati. Kemurnian dan kebeningan nurani takkan mungkin ditemukan dalam kebisingan. Dalam keramaian, kita hanya menggali di permukaan. Tak bisa masuk ke hal yang lebih dalam.

Dengan suara hati yang bening, orang bisa menjadi lebih peka. Ia mampu membedakan dan memilah yang baik dan benar dari yang buruk dan salah serta menjalankannya. Orang yang memiliki suara hati yang tajam tidak akan melakukan tindakan yang bertentangan dengan suara hatinya. Sekali ia melakukan hal seperti itu, ia akan merasa dikejar-kejar oleh dirinya sendiri. Tidak tenang. Ada pemberontakan dari dalam.

Orang bersuara hati tajam akan berkata yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Mereka tidak akan membolakbalikkan fakta, membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Hanya orang yang tumpul hatinya bisa melakukan hal seperti ini. Dalam hal korupsi, hanya orang yang tidak punya hati bisa mencuri uang rakyat. Sebab setelah mencuri, mereka akan berusaha menutupinya dengan berbagai dalih tidak korupsi. Malah merasa dizolimi dan diperlakukan tidak adil. Suara hati yang tumpul akan melahirkan ketidakjujuran. Dan, ketidakjujuran yang satu akan ditutup oleh ketidakjujuran yang lain. Begitu seterusnya.

Ironisnya, justru orang yang menggali dalam kedangkalan paling dominan, paling ribut, dan paling banyak teriak. Seolah-olah paling benar juga. Parahnya lagi, mereka mengklaim kebenaran. Tapi, sesungguhnya, kebrisikan ini hanya buih. Tak ada isinya alias kosong melompong. Sebab, itu tadi, sumbernya dari kedangkalan. Bukan dari kedalaman.

Biasanya, orang yang berisi lebih banyak diam. Tapi sekali mereka bicara selalu mematikan. Sebab mereka tidak hanya omong berdasarkan isi kepala tapi disertai dengan kejernihan batin. Argumentasi dengan batin ini biasanya sangat sulit dipatahkan. Karena ada kejujuran di dalamnya. Itu sebabnya ada istilah diam itu emas.

Di atas itu semua, dalam keheningan, orang bisa berpikir dan merenungkan tentang Yang Maha Tinggi. Hanya orang yang dianugerahi keistimewaan bisa menemukan-Nya dalam kebisingan. Kebanyakan, orang datang dari keheningan dan membawa wajah-Nya dalam keramaian dunia. Tapi umumnya, orang-orang seperti ini berwajah teduh, penuh cinta kasih, lemah lembut, dan tidak menebar kebencian. Tutur katanya pun lembut dan santun. Tidak kasar. Tidak membesarkan diri. Mereka juga tidak melecehkan orang lain dan mencap orang lain berdosa.

Maka bila ada orang yang mengaku diri suci, sudah pasti itu omong kosong. Lebih parah lagi kalau menjual kesucian untuk menghidupi anak istrinya. Sebab orang suci tidak pernah mengaku diri suci. Orang suci juga tidak pernah membungkus diri dengan pakaian-pakaian suci agar pura-pura suci. Sebaliknya, mereka menyebut dirinya sebagai orang berdosa, tampil apa adanya, bahkan tampil dengan sangat sederhana. Mereka jauh dari penampilan yang gemerlap dan mewah. Kemurnian dan kejernihan hati mereka selalu selaras dengan penampilan fisik. Tidak pernah bertentangan. Mengapa? Karena, itu tadi, ada kejujuran dan ketulusan di dalamnya.

Karena itu, mungkin ini saat yang baik untuk masuk dalam keheningan menggali di kedalaman agar hidup kita makin berisi. Tidak ikut tenggelam dalam kebisingan yang marak belakangan ini. Jangan sampai kita hanya jadi buih. (Alex Madji)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY