Mau Naik Kuda Poni? Coba Saja ke Branchsto

Mau Naik Kuda Poni? Coba Saja ke Branchsto

285
SHARE
Foto: Ciarciar.com

Sabtu, 1 April 2017, tiba-tiba kami ingin makan siang di Branchsto; Branch & Resto yang terletak di Jl H Hasam RT 004/RW 002 Kelurahan Perigi Baru, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten. Karena itu, setelah belanja bulanan di sebuah pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari situ, kami meluncur dalam keadaan perut keroncong.

Saya juga baru tahu tempat itu dan baru pertama kali datang ke sana. Padahal hanya berjarak dua kilometer dari tempat tinggal kami. Posisinya memang agak masuk dan tidak persis di pinggir jalan. Jalan masuknya juga kecil, cukup untuk dua mobil. Itu pun harus ekstra hati-hati bila berpapasan.

Kalau Anda datang dari arah Bintaro Sektor IX, Anda melewati Perigi lalu setelah Masjid Bani Umar, kira-kira 150 meter, ada gang masuk. Anda belok kiri di situ dan jalan sampai mentok. Di depan Anda adalah Branchsto dengan parkir yang lumayan luas. Atau bila Anda datang dari arah pintu tol Pondok Aren, naik jalan layang, Anda jalan terus melewati RS Pondok Indah, Bintaro, dan di ujung jalan itu belok kiri lalu langsung putar balik kemudian langsung belok kiri ke jalan kecil tadi.

Yang menarik perhatian saya, sebenarnya bukan restorannya. Sebab, tempat makannya tidak ada yang istimewa. Kami juga akhirnya tidak jadi makan siang di situ, selain karena tempat duduknya sudah penuh, jam 15.00 hari itu ada acara. Sedangkan saat kami hendak pesan makan jarum jam sudah menunjukkan pukul 14.00. Karena itu, daripada terburu-buru, kami memutuskan untuk cari makan di tempat lain.

Yang menyedot perhatian saya adalah 15 ekor kuda yang ada di tempat itu yang menghuni 12 kandang. Ada enam ekor kuda ukuran sangat besar, dan sembilan kuda poni. Untuk kuda besar, mereka menghuni masing-masing satu kandang. Sedangkan untuk kuda poni, satu kandang dihuni dua ekor kuda. Menurut penuturan seorang karyawan, semua kuda itu adalah impor dari Jerman.

Deretan kandang kuda di Branchsto, Bintaro (Foto: Ciarciar.com)

Kuda-kuda itu bukan hanya untuk pajangan. Mereka bisa ditunggangi. Anak-anak bisa naik kuda poni dan orang dewasa naik kuda jumbo. Untuk sekali putar bayarannya Rp 25.000. Saat kami ada di kawasan tersebut, hanya ada dua kuda poni yang ditunggangi anak-anak. Anak-anak juga bisa memberi makan kuda-kuda poni yang ada di dalam kandang. Makanannya wortel yang dibeli dengan harga Rp 10.000 per ember kecil.

Seorang pengunjung menunggang kuda poni (Foto: Ciarciar.com)

Permainan lainnya adalah panahan. Anak-anak dan orang dewasa bisa mencoba bermain memanah yang terletak di bagian belakang kawasan tersebut. Ada juga kereta gantung yang harus digowes oleh orang tuanya sambil menemani sang buah hati dalam kereta gantung. Sayangnya, arena itu tidak terlampau luas.

Kereta gantung di Branchsto (Foto: Ciarciar.com)

Seorang karyawan lainnya menceritakan bahwa mereka juga punya lapangan pacuan kuda, letaknya agak jauh dari situ. “Kalau mau ikut pacuan kuda, harus keluar dulu dari sini,” ujarnya singkat.

Selain itu, di dalam kawasan itu ada kedai kopi yang ukurannya tidak terlalu besar. Letaknya berdampingan dengan panahan. Anda bisa pesan kopi di situ dan, sepertinya, bisa minum di luar sambil melihat putra-putri Anda main panahan atau menunggang kuda poni.

Melihat kuda-kuda ini, saya teringat bahwa di kawasan itu sebelumnya menjadi tempat anak-anak menunggang kuda. Warga sekitar membawa kuda-kudanya untuk ditunggangi dengan bayaran Rp10.000 sekali putar. Jumlahnya cukup banyak. Anak-anak yang merengek-rengek minta naik kuda, ketika melewati kawasan itu, langsung dijemput di pintu mobil atau motor. Tinggal memilih mau naik kuda ukuran dan warna apa.

Lambat laun mereka tergusur, seiring dengan peralihan peruntukkan lahan yang mereka “kuasai”. Mereka lalu pindah ke halaman pusat perbelanjaan Giant, CBD Bintaro. Belakangan, jumlah mereka juga semakin berkurang seiring makin minimnya area untuk mereka, terutama setelah di halaman parkir pusat perbelanjaan tersebut dibangun masjid.

Saya lalu bertanya ke mana orang-orang kecil itu tersingkir? Apakah mereka tidak layak mencari nafkah dengan kuda-kuda kampung mereka? Mudah-mudahan masih ada tempat buat mereka untuk mencari nafkah dengan kuda-kudanya di tengah makin minimnya lahan buat mereka. Mungkin mereka bisa bersaing dengan kuda-kuda di Branchsto. (Alex Madj)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY