Home Inspirasi Media Sosial dan Autisme

Media Sosial dan Autisme

433
0
SHARE

Suatu hari, sekelompok perempuan duduk dalam satu meja di sebuah rumah makan di Kawasan Jakarta Pusat. Masing-masing memegang gedget di tangan. Kebanyakan Blackberry. Mereka asyik dengan dirinya sendiri.

Tidak ada percakapan, saking sibuknya dengan media-media komunikasi tersebut. Sesekali, beberapa di antara perempuan itu tertawa ngakak dalam kebisuan itu. Yang lain lagi tersenyum sendiri sambil terus memencet tuts-tuts pada keypad Blackberry mereka.

Yang lain lagi tersenyum renyah, sementara yang lain tetap menatap Bleckberry dengan wajah serius, sambil terus menari-narikan jempol mereka di atas tuts BB.

Kemudian, pada kesempatan lain, saya menyaksikan sebuah keluarga muda sedang duduk pada kursi sofa di ruang tamu rumah mereka. Tetapi keduanya duduk dalam hening. Sesekali tersungging senyum dari wajah mereka tanpa ada cerita lucu dari pasangan masing-masing.

Mereka memang berada bersama tetapi sesungguhnya mereka jauh satu sama lain. Mereka lebih memilih tetap berkomunikasi dengan “dunia luar” daripada dengan teman dan pasangannya yang berada di depannya. Mereka mendekatkan yang jauh tetapi pada saat bersamaan mereka menjauhkan yang dekat.

Lalu dalam hati saya bertanya, apa yang membuat mereka berkumpul dan berada bersama di tempat itu? Karena pertemanan? Karena ikatan perkawinan? Lalu apa makna pertemanan dan perkawinan bila kehadiran pasangan dan temannya itu ternyata diabaikan dan tidak dihiraukan?

Saya tidak ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu karena terlampau sulit. Butuh refleksi mendalam untuk menemukan jawaban yang pas.

Saya hanya mau mengatakan bahwa aktivitas yang berlebihan di media sosial seperti di facebook, twitter, grup BBM dan media-media sosial lainnya membuat banyak orang menjadi autis, sebuah autisme sosial.

Dalam konteks ini, autis berarti orang yang tenggelam dalam keasyikan dengan dirinya sendiri dan tidak mempedulikan orang lain di sekitarnya, termasuk orang yang paling dekat sekalipun. Orang yang berada di sampingnya dianggap tidak ada, sebaliknya orang yang nun jauh di sana dan maya menjadi ada.

Karena itu dalam arti tertentu ini sebentuk sakit, seperti seorang autis dalam arti yang sesungguhnya. Tetapi autis yang saya maksudkan tadi sesungguhnya lebih parah daripada jenis autis yang terakhir ini. Kalau autis dalam arti sesungguhnya terjadi begitu saja, sedangkan autis sosial terjadi karena disengaja atau dibuat sendiri oleh mereka yang mengalaminya.

Dampak dari autisme sosial ini bisa parah. Hubungan antar orang yang dekat, misalnya dengan pasangan hidup, bisa jadi hambar dan tak bearti. Sebaliknya hubungan dengan orang lain di luar rumah bisa lebih akrab dan intim. Pada titik ini, tidak heran kalau banyak terdengar cerita bahwa banyak pasangan yang akhirnya berpisah karena tidak adanya kehangatan komunikasi di dalam rumah akibat lebih akrab dengan dunia liar daripada orang yang paling dekat dengan kita secara fisik.

Untuk mengatasi hal ini sebenarnya gampang. Gunakan media sosial secara proporsional dan kritis. Artinya, aktivitas media sosial jangan sampai mengabaikan, apalagi menegasi orang yang sedang berada bersama kita. Pakaialah media sosial secukup dan seperlunya, tidak berlebihan, apalagi kalau sampai maniak. Itu saja dan sederhana. Tinggal ada kemauan untuk menjalankannya atau tidak. Terakhir, ya, selamat menjalankan hal sederhana itu. (Alex Madji)