Home Inspirasi Melihat “Dapur” Pendeta Gilbert Lumoindong

Melihat “Dapur” Pendeta Gilbert Lumoindong

769
6
SHARE


Selasa, 14 Februari 2012 lalu, saya bertemu Pendeta Gilbert Lumoindong, pemimpin Gereja Betel Indonesia (GBI) Glow Ministry di kantornya, Thamrin City, Jakarta Pusat. Ini adalah perjumpaan pertama saya dengan pendeta bertubuh tambun ini. Wajahnya tampan. Kulitnya putih bersih. Suaranya serak.

Sebelumnya, saya pernah melihat pendeta keturunan Manado ini berkhotbah di televisi. Khotbahnya menarik dan memikat. Sebelum bertemu, saya mendengar beberapa khotbahnya tentang perkawinan melalui rekaman yang diberikan seorang teman untuk sebuah kepentingan. Khotbahnya memang menarik. Kadang-kadang dia melontarkan lelucon.

Selasa lalu itu, kami tiba di lantai 3A gedung Thamrin City. Dari kejauhan terbaca tulisan “Glow Sanctuary”. Di balik pintu ada sebuah meja resepsionis menghadap keluar. Di depan meja itu ada stan-stan tempat berjualan buku dan benda-benda rohani. Kebanyakan buku yang dijual adalah karya Gilbert Lumoindong.

Di belakang meja resepsionis itu ada dua pintu masuk ke sebuah ruangan panjang dan luas yang terisi dengan ribuan kursi tertata rapi. Saat kami lewat, sekelompok jemaat sedang mendengarkan ceramah seorang bule sambil diterjemahkan seorang pemuda. Di pertengahan ruangan itu ada panggung dengan sebuah mimbar. Inilah gedung gereja Glow Ministry, pimpinan Gilbert Lumoindong. Memang tidak ada suasana sakral dalam gereja tersebut. Paling tidak itu yang saya rasakan saat melintasi ruang panjang tersebut.

Seorang pemuda di situ bercerita bahwa kebaktian hari Minggu di gereja ini berlangsung tuju kali. Setiap kebaktian selalu dihadiri ribuan jemaat. Gilbert Lumoindong berkhotbah pada tujuh kebaktian tersebut. Terbayang lelahnya. Di ujung gereja ini, ada semacam ruang tamu. Di situ ada dua deret kursi sofa dengan satu meja kayu coklat di tengahnya. Di samping pintu masuk ruangan tersebut, ada sebuah meja kayu yang lebih tinggi dari mejad di depan sofa. Di atasnya terletak sebuah patung kepala Yesus, protopite Alkitab, dan beberapa benda rohani lainnya, serta foto Gilbert Lumoindong dan istrinya.

Dari ruangan ini, saya bersama seorang teman diajak pergi ke kantor Gilbert Lumoindong yang berada di lantai lain gedung yang sama. Di situlah dapur ketenaran dan kesuksesan seorang Pendeta Gilbert Lumoindong membangun dan mengembangkan jemaatnya. Inilah pusat pelayanannya. Ruangan yang tidak terlalu besar itu disekat-sekat menjadi beberapa ruangan.

Saat kami masuk, di salah satu ruangan sedang dilangsungkan pertemuan tim pastoral bersama Gilbert Lumoindong. Beberapa saat berselang, pria berbadan subur yang hari itu mengenakan kemeja kuning kotak-kotak pindah ke ruangan sebelah tempat kami menunggu. Kami berbincang selama hampir dua jam. Bercakap tentang perkawinannya. Ya, bulan ini dia merayakan ulang tahunnya yang ke-20. Selepas itu, kami pergi ke sebuah ruangan lain yang agak lebih kecil dan berselang satu ruangan dari tempat kami bertemu Pendeta Gilbert.

Di ruangan kecil ini, saat itu, ada tiga pemuda yang sedang asyik dengan komputernya masing-masing. Ternyata ini adalah ruang produksi untuk segala buletin Glow Ministry bernama Glowing. Tampilan buletin ini menarik dan professional. Maklum, yang mengerjakannya, paling tidak layouter di ruangan itu, cukup mumpuni. Dibandingkan buletin serupa di beberapa gereja Katolik, yang pasti Glowing jauh lebih bagus. Buku-buku, tulisan, bahkan bahan-bahan khotbah Gilbert Lumoindong juga dilayout di ruangan ini.

Para pemuda itu adalah bagian kecil dari 40 orang yang bekerja di bawah Glow Ministry. Ke-40 orang inilah penentu suksesnya Pendeta Gilbert Lumoindong, termasuk di dalamnya tim pastoral yang melayani 14.000 jemaatnya di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Nah, yang mau saya bagikan adalah bahwa kesuksesan Pendeta Gilbert Lumoindong menjaring dan memimpin belasan ribu jemaat di Jabodetabek, belum termasuk di daerah-daerah lain, bukan kerja pribadi semata. Meskipun dia menjadi faktor penentu. Tetapi bukan satu-satunya. Kerja tim dan profesionalisme diserta manajerial yang baik turut menentukan keberhasilan, termasuk dalam organisasi gereja. Inilah yang patut ditiru oleh gereja-gereja lain. Bukan business as usual. (Alex Madji)

Keterangan foto: Bagian dalam Glow Sanctuary (Foto: Alex Madji)