Home Buku Memimpin dengan Hati

Memimpin dengan Hati

1577
0
SHARE
Buku Mgr Michael Cosmas Angkur OFM (Foto: Ciarciar.com)

Uskup Keuskupan Bogor Mgr Michael Cosmas Angkur OFM sudah pensiun. Kini dia tinggal di biara Fransiskan, di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) menghabiskan hari-hari tuanya sambil menjalankan tugas pelayanan persaudaraan. Sebelum pergi dan setelah digantikan Mgr Paskalis Bruno Sykur OFM, diluncurkan sebuah buku biografi berjudul “Mgr Michael Cosmas Angkur: Pemimpin Sederhana” karya Bobby Pr terbitan penerbit Konsultan Media, Jakarta 2014.

Buku setebal 397 halaman ini berisi tentang kisah perjalanan panggilan, karya, hingga pengalaman Mgr Michael memimpin Keuskupan Bogor, Jawa Barat selama 20 tahun (1994-2014). Disebutkan, Michael yang sebelum masuk biara bernama Cosmas adalah anak seorang petani sederhana di Lewur, dusun kecil di pedalaman Flores, NTT. Masa kecilnya, seperti umumnya anak petani di pedalaman Flores, diisi dengan bekerja di kebun. Sejak kecil dia sudah dididik orang tuanya untuk bekerja keras. Jiwa pekerja keras ini terbawa terus hingga hari tuanya.

Cosmas menempuh pendidikan awal di Lewur, kampung halamannya, kemudian dilanjutkan di Ranggu, sebelum meneruskan ke Seminari Menengah St Yohanes Berkhmans, Todabelu, Mataloko, Kabupaten Ngada, Flores, NTT. Setamat dari sana, Cosmas bergabung dengan Ordo Fratrum Minorum (OFM) atau Ordo Saudara-saudara Dina. Dimulai dengan novisiat di Cicurug, Jawa Barat dilanjutkan studi filsafat dan teologi di tempat yang sama sebelum dipindahkan ke Yogyakarta. Di Cicurug dia dibabtis dengan nama biara Michael. Maka jadilah dia dikenal dengan nama Frater Michael Cosmas Angkur OFM.

Jiwa kepemimpinannya mulai terlihat sejak seminari menengah dan semakin terasah selama di novisiat dan Seminari Tinggi OFM. Setelah ditahbiskan sebagai imam, dia ditugaskan sebagai pastor Paroki Waning, Manggarai, Flores, yang tidak jauh dari kampugnya, sebelum dipindahkan ke Papua. Di tanah Papua dia betul-betul menjadi pemimpin. Di Lembah Baliem, dia bukan hanya menjadi pastor Paroki tetapi juga menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Puncak Jaya dan anggota DPRD Provinsi Irian Jaya selama dua periode. Ini murni karena kepercayaan masyarakat setempat dan atas seijin atasannya, Uskup Jayapura ketika itu.

Setelah sukses sebagai pastor dan politisi di Papua, Pastor Michael ditarik ke Jakarta dan dipercaya memimpin OFM Indonesia. Dia menjadi provinsial atau yang di OFM lebih dikenal dengan sebutan minister atau pelayan provinsi. Dialah provinsial pertama OFM di Indonesia. Teladan hidupnya sebagai pelayan provinsi semakin mengukuhkannya sebagai seorang pemimpin yang hebat. Meskipun secara intelektual, menurut pengakuan teman-temannya sejak seminari menengah hingga seminari tinggi, tidak hebat-hebat amat.

Kepemimpinannya itu diakui Vatikan dengan menunjuknya sebagai Uskup Bogor pada 1994 menggantikan Mgr Ignatius Harsono yang pensiun lebih cepat karena sakit. Kehadiran Pater Michael sebagai Uskup Bogor sebenarnya tidak dikehendaki oleh Uskup Agung Jakarta ketika itu, Mgr Leo Soekoto SJ, yang menjadi administrator apostolik Keuskupan Bogor pascamundurnya Mgr Ignatius Harsono. Alasannya karena Fransiskan sudah keluar dari Bogor. Uskup Yesuit ini memiliki calon sendiri yaitu Mgr Karto yang dipilihnya sebagai Vikjen Keuskupan Bogor untuk menata keuskupan yang morat marit ketika itu. Tetapi Vatikan justru memilih seorang anak kampung dari Lewur, Kecamatan Kuwus, Manggarai, NTT.

Bulatkan Tekad

Pastor Michael sadar betul bahwa dia ditolak. Belum lagi situasi panas karena ada pertikaian antara oknum imam di keuskupan tersebut. Tetapi fakta ini tidak menciutkan nyalinya. Meskipun, dia sempat ingin mundur setelah ditunjuk Vatikan karena terserang penyakit jantung dan harus dirawat di RS St Carolus Jakarta Pusat. Tetapi, Pastor Michael, atas dukungan persaudaraan OFM, kemudian membulatkan tekad menerima tugas mahaberat ini dengan sesanti “In Verbo Tuo”.

Selesai ditahbiskan sebagai uskup di kampus IPB 1994, Mgr Michael perlahan-lahan menata keuskupan. Dia merangkul mereka yang tidak menerimanya. Lama kelamaan dia pun diterima. Dia menerapkan model kepemimpinan yang selalu hadir di antara umat dan para imamnya. Mengunjungi mereka hingga ke sudut-sudut wilayah keuskupannya yang terjauh. Dia tidak duduk manis dan menikmati kenyamanan di istana keuskupan, tetapi keluar dan berada bersama kawanan dombanya dan mendengarkan mereka.

Masalah paling parah ketika dia masuk adalah soal keuangan. Kondisi keuangan keuskupan ketika itu memprihatinkan, bahkan hampir bangkrut. Mgr Michael perlahan-lahan membenahi masalah itu dan menata kembali keuangan keuskupan. Makin hari masalah ini teratasi dan kini keuskupan Bogor boleh berbangga karena bisa disejajarkan dengan keuskupan-keuskupan lain di Indonesia dalam hal keuangan.

Begitu juga dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Mgr Michael rutin mengirimkan romo-romo projonya studi keluar negeri sesuai kebutuhan keuskupan. Bahkan, Keuskupan Bogor mengirimkan misionaris ke Keuskupan Agats dan Kalimantan.

Kesaksian para imam, tokoh-tokoh umat serta awam yang aktif dalam kegiatan-kegiatan Keuskupan Bogor dan diwawancarai penulis memperlihatkan bahwa Mgr Mikhael Angkur OFM adalah seorang pemimpin yang sukses. Letak kesuksesannya bukan karena konsep-konsep manajemen besar dan gagasan-gagasan yang hebat, tetapi justru karena kesederhanannya. Yang terpenting, kunci kesuksesannya di Keuskupan Bogor adalah karena dia menerapkan gaya kepemimpinan dengan hati. Hal inilah yang membuat dia yang awalnya ditolak kemudian diterima dan sangat dicintai umat dan imamnya.

Dia hadir dalam setiap pengalaman dan peristiwa hidup umat dan imamnya. Dia mendengarkan mereka, mengenal dan mengetahui secara persis masalahnya kemudian dicarikan pemecahan dan jalan keluarnya. Dia sangat responsif dan betul-betul menjadi seorang pelayan yang mau mendengar dan melayani domba-dombanya. Bukan pemimpin yang hanya mau didengar dan dilayani.

Karena itu, buku ini layak dibaca oleh para pemimpin bukan hanya di lingkungan gereja tetapi juga para pemimpin di lembaga-lembaga lain non gereja. Sebab pada dasarnya, menjadi pemimpin itu bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Selamat membaca. (Alex Madji)