Home Inspirasi Menanti Paket

Menanti Paket

537
0
SHARE

Minggu, 2 Juni 2013 hari paling sial untuk saya. Saat itu, saya berada di lokasi off road, olahraga mobil panjat tebing dan turun ke jurang, Bukit Tembalang, Semarang. Di tengah jubelan penonton, saya coba mengarahkan kamera Canon untuk mendapat gambar dengan aksi menawan. Saking seriusnya, tanpa sadar, dalam waktu sekejap dompet saya di saku bagian belakang raib.

Beberapa saat berselang, saya mundur. Ke kemah panitia. Di sana, terasa ada sesuatu yang kurang. Tangan kanan saya lalu meraba ke saku kanan belakang. Tak ditemukan sembulan dempet di sana. Wah, saya kemalingan, kata saya dalam hati.

Tak lama, pikiran saya lalu berubah. Jangan-jangan ketinggalan di Hotel Best Western, tempat kami menginap. Saya lalu menelepon teman sekamar yang tadi saya titipkan kunci mobil sewaan yang disediakan penyelenggara kejuaraan nasional itu, Genta Auto Sport.

Setelah kunci di tangan, saya tancap gas. Mengendalikan kemudi Xenia yang baru berusia beberapa hari menuju hotel. Perjalanan ke sana ditempuh selama 30 menit. Saya langsung naik ke kamar 1108. Dalam keadaan bingung, saya mencoba membangkitkan harapan bahwa dompet itu tertinggal di kamar hotel.

Sesampai di sana, kamar sudah rapi. Saya coba lihat di atas meja, dompet warna hitam, hadiah ulang tahun dari istriku, tak ada. Kucoba cari di samping kiri kanan meja. Kalau-kalau terjatuh. Tak ditemukan juga.

Saya keluar kamar. Di sana seorang petugas hotel sedang memantau anak buahnya sedang membereskan kamar di depan. Kutanya, apakah menemukan dompet di kamar saya. Kebetulan di situ masih ada room boy, yang membersihkan kamar 1108. Pemuda jangkung itu mengaku tidak menemukan dompet di kamar tersebut.

Kemudian saya menyimpulkan dan memastikan dompet itu hilang. Lalu, saya kembali ke lokasi off road. Sesampai di sana, saya titip secarik kertas kepada MC yang tidak pernah berhenti berbicara hari itu menyemarakkan lomba balap. Kemudian dibacakan. Tetapi hingga sore, tak ada juga yang mengembalikan dompet tersebut, seperti dompet-dompet orang lain yang hilang di tempat yang sama, tetapi dikembalikan. Pada saat bersamaan saya menelepon BCA dan CIMB Niaga untuk memblokir ATM dua bank tersebut.

Sebenarnya dalam dompet itu tidak banyak uang. Cuma Rp 100.000. Tetapi di situ ada STNK motor, dua buah SIM, dan dua ATM. ATM sudah berhasil diblokir. Tetapi SIM dan STNK motor? Itulah yang membuat saya galau.

Bagai sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sore harinya, batrei HP jebol dan blas tidak bisa digunakan lagi. Jadilah sore itu hingga Senin malam hidup jauh dari alat komunikasi. Bak tinggal di sebuah pedalaman yang nun jauh di sana. Orang rumah dari Jakarta tidak bisa hubungi baik lewat BBM, SMS, maupun telepon.

Minggu malam, saya berkomunikasi dengan istri dan anak-anak via email. Kemudian istri menelepon ke hotel dan bisa berbicara dengan anak-anak. Rasa kangen terobati, meski baru pisah dua hari.

Senin, 3 Juni 2013 pagi, saya kembali ke Jakarta menggunakan Garuda Indonesia. Saya sedikit lebih cepat dari rombongan lain yang baru pulang Senin sore menggunakan Air Asia. Setiba di Jakarta, sore hari, saya bersama istri dan anak-anak ke Living World, mal di Alam Sutera, Serpong, Tangerang dengan intensi mencari batrei BB. Tetapi di kios-kios HP di sana tidak menjual batrei untuk BB yang saya punyai. Akhirnya diputuskan beli BB baru agar bisa komunikasi, terutama dengan kantor, lebih cepat.

Dengan BB baru itu, tiba-tiba ada sebuah pesan singkat masuk pada Senin malam. Bunyinya, “Pagi…dengan Pak Alex Madji?” Tetapi saya tidak langsung menjawab sms tersebut. Sebab, saya kira itu sms dari driver yang kemarinnya janji mengantar saya ke Bandar Udara Ahmad Yani Semarang.

Selasa, 4 Juni 2013. Sepulang kantor, di meja makan sebelum masuk kamar mandi, saya coba buka lagi BB. Masih ada sms tadi. Saya coba iseng membalas. “Malam bos, maaf baru balas. HP baru jadi. Iya, saya Alex Madji. Ada yang bisa dibantu,” bunyi pesan singkat saya.

Dari seberang disahut, “Kehilangan dompet Pak?” Seketika itu juga saya kaget dan dengan cepat menjawab, “Iya.” “Kok tahu,” tanya saya lebih lanjut. “Begini pak, saya menemukan dompet di lokasi off road Minggu malam. Dompet itu ada dalam sebuah plastik kantong hitam. Saya lalu buka, duitnya sudah tidak ada, tapi saya lihat ada STNK motor yang masih baru, SIM dan ATM,” jawabnya.

Komunikasi kami dilanjutkan dengan telepon. Pria itu mengaku sms dan telepon pada Senin pagi, tapi tidak masuk. Minggu malam saat dompet ditemukan, tidak ada lagi panitia di lokasi lomba. Dia bingung mau diantar ke mana dompet tersebut.

Selasa malam itu pria yang mengaku bernama Rosi itu berjanji akan mengirim dompet tersebut keesokan harinya. Tetapi khawatir ini modus perdagangan narkoba, atas usul sang istri, maka dikirimlah alamat kantor istri. Saya janjikan bahwa biaya pengiriman akan saya tanggung dan ditransfer begitu barangnya tiba.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekitar jam 12.30, saya sms Rosi lagi. Menanyakan perihal pengiriman dompet itu. Dengan sigap, tetapi dengan nomor yang baru lagi, dia mengaku sudah kirim menggunakan jasa JNE dengan biaya pengiriman Rp 14.000.

Senin, 10 Juni 2013, pagi-pagi istri mengirim BBM bahwa paket dari semarang berisi STNK motor, dua SIM dan ATM sudah tiba. Sejenak saya berpikir, masih ada orang baik di muka bumi ini.

Peristiwa ini mengingatkan saya akan cerita driver yang mengantar saya ke Bandara Ahmad Yani Semarang dua pekan lalu itu. Dia mengaku pernah mengalami nasib serupa. Dia kemudian pasrah dengan terus bersedekah sambil berharap suatu saat ada orang yang mengembalikan dompetnya yang berisi SIM sebagai modal untuk menghidupi keluarganya. Dan benar, satu bulan berselang, ada orang yang menelepon dia dan mengabarkan bahwa dompetnya ditemukan di sebuah masjid di wilayah Jawa Barat.

Saat saya turun di teriminal keberangkatan, saya memang kasih tips Rp 20.000 kepada si driver baik hati itu. Dia sempat menolak keras. Tetapi saya tetap memaksa. Terakhir, dia bilang, semoga dompet Pak Alex cepat ditemukan. Dan benar. Dompet itu sudah ditemukan dan paket berisi STNK motor dan SIM itu sudah sampai. Terima kasih Pak Rosi, terima kasih pak driver atas doa dan kekuatannya. Alex Madji)