Home Inspirasi Mencontohi Bloger Dahlan Iskan

Mencontohi Bloger Dahlan Iskan

242
SHARE

Dahlan Iskan bukan hanya pemilik kelompok usaha besar, Grup Jawa Pos. Bukan pula cuma mantan menteri era SBY. Ia seorang wartawan yang terus menulis. Juga bloger. Ya, bloger seperti saya. Anda bisa kunjungi blognya, disway.id. Ia sangat aktif mengisi blog. Setiap hari. Tulisan-tulisannya khas bloger dengan tema yang bermacam-macam.

Beberapa hari terakhir, saya suka berselancar di blog tersebut. Membaca tulisan-tulisannya sampai habis. Sesekali ikut komentar. Hitung-hitung meninggalkan jejak di blog orang tenar seperti Dahlan Iskan.

Jujur, saya baru tahu blog ini. Beberapa kali membaca tulisan Pak Dis, begitu ia disapa, yang begitu viral di grup percakapan WA. Semula saya mengira, tulisan-tulisan itu dimuat media-media arus utama atau maistream miliknya. Rupanya tulisan-tulisan tersebut dari blog.

Di blognya, Pak Dis menulis apa saja. Politik, ekonomi, dan beragam tema lain. Aktivitas dan pengalaman hariannya juga tidak ketinggalan. Tulisan-tulisan itu dimasukkan dalam beberapa kategori. Saat ini, misalnya, Dahlan Iskan, menulis kisah perjalanannya di Amerika Serikat.

Tulisan-tulisan ini contohnya; Gereja Itu Bernama Abbalove yang diunggah Minggu 23 September 2018. Contoh lainnya; Raja Amerika: Sambal Oelek Sriracha dimuat Jumat 21 September 2018. Senin 24 September 2018, ia mengunggah tulisan berjudul Tragedi Prof Khaw dan Gas Bola Yoganya.

Membaca semua tulisan itu punya kenikmatan tersendiri. Isinya ringan. Bahasanya asyik. Kalimat juga pendek-pendek. Bahkan super pendek. Tidak bertele-tele. Amat sangat jarang memakai anak kalimat. Apalagi anak dari anak alias “cucu” kalimat. Kalimat-kalimat pendek tersebut menjadi ciri khas tulisan Dahlan Iskan. Mungkin karena ini tulisan blog, sehingga penyampaiannya sesederhana mungkin.

Tulisan-tulisan Dahkan Iskan tidak seberat membaca tulisan wartawan senior Indonesia lainnya, Goenawan Mohammad, di Catatan Pinggir Majalah Tempo. GM, inisialnya, juga menggunakan kalimat-kalimat pendek. Namun, topik-topik yang dibahas tergolong berat. Kadang sangat filosofis. Meskipun tetap enak dinikmati.

Kembali ke Dahlan Iskan. Sebagai bloger, ia juga aktif menanggapi komentar-komentar pada tulisannya. Hanya saja, sejauh saya amati, tidak semua komentar dijawab. Ia memilih komentar-komentar tertentu untuk ditanggapi.

Komentar saya, misalnya, belum ditanggapi Dahlan Iskan. Saya memang hanya memuji tulisannya yang sangat enak dibaca. Mungkin karena pujian, makanya tidak ditanggapi. Nanti saya coba bertanya tentang informasi yang disampaikan dalam tulisannya. Mudah-mudahan mendapat tanggapan.

Kelebihan lain blog Dahlan Iskan adalah bilingual atau menggunakan dua bahasa. Indonesia dan Inggris. Tentu saja pilihan ini memungkinkan blog tersebut memiliki pembaca yang lebih luas, dalam dan luar negeri. Untuk membuktikan itu, Senin 24 September 2018 pukul 12.00 WIB, saya coba mencari peringkat blog itu di Alexa.com. Tercatat, secara global, disway.id nangkring di posisi 229.737. Sementara di Indonesia duduk di posisi 4.232. Pengunjung paling besar masih berasal dari Indonesia sebesar 78% diikuti Australia (8,2%) dan Malaysia (2,8%).

Sebagai sebuah blog, ini tentu patut membanggakan. Dan, bagi saya, blog Pak Dahlan Iskan ini patut menjadi contoh dan teladan. Beginilah seharusnya menjadi seorang bloger. Mengisi blog secara rutin setiap hari. Penyajiannya juga menarik dan menawan, sehingga enak dibaca. Yang tidak kalah penting, tetap ada nilai yang hendak disampaikan kepada pembaca. Seperti apa nilai itu tergantung pembaca masing-masing. Seperti juga tulisan ini. Apa pun nilai yang Anda petik, terserah Anda. Bebas saja. (Alex Madji)