Home Inspirasi Menemukan Originalitas

Menemukan Originalitas

374
0
SHARE


Minggu, 9 Oktober 2011, para mantan pastor, frater, dan bruder Fransiskan atau Ordo Fratrum Minorum (OFM) berkumpul di Kramat Raya 134 Jakarta Pusat. Mereka berkumpul untuk merayakan Pesta Santo Fransiskus Asisi, pendiri OFM yang sebenarnya jatuh pada 4 Oktober.

Pesta itu dirayakan dalam misa yang digabung dengan ofisi di kapel baru Panti Asunah Vinsensius Putra dan dipimpin oleh Pastor Yan Laju OFM dan Alex Lanur OFM. Alex Lanur yang juga guru besar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara itu bertindak sebagai selebran Utama. Sedangkan khotbah dibawakan oleh Yan Laju. Setelah misa, acara dilanjutkan dengan sharing gagasan di Aula Vinsensius dengan pembicara Pemimpin Redaksi Kompas Rikard Bagun dan moderator Cyprianus Aoer.

Menurut Rikard, kemajuan teknologi sekarang ini menyulitkan orang menemukan originalitas. Akibatnya orang sulit membedakan antara yang substansi dan sesansi. Suka kebolak balik. Yang sensasi dianggap sebagai substasi, sementara yang substansi dijadikan sensasi belaka.

Kemajuan zaman ini juga membuat dunia ini di satu pihak tidak berjarak, tetapi pada saat yang sama berjarak. Dengan teknologi komunikasi, yang jauh menjadi dekat. Tetapi dengan teknologi yang sama yang dekat menjadi jauh. Contohnya, dalam satu rumah, ibu dan anak ada pada kamar atau ruang yang berbeda. Kalau perlu satu sama lain, tinggal angkat telpon atau ber BBM (blackberry message) ria.

Atau suami istri berada dalam satu kamar tetapi masing-masing sibuk dengan BB (Blackberry). Sang istri asyik berkomunikasi dengan teman-temannya di luar rumah baik dalam grup maupun personal. Suami juga begitu. Tanpa sadar, mereka saling meniadakan dalam ranjang yang sama. Sementara anak diserahkan urusannya pada pembantu rumah tangga.

Dalam kehidupan dunia seperti itu, perlu ada upaya untuk menemukan kembali originalitas untuk memastikan bahwa yang substansi tetaplah substantif. Dia tidak bisa diganti oleh sesuatu yang sensasional. Dalam originalitas, yang sensasi tidak akan menjadi substansi.

Spritualitas fransiskan menjadi salah satu jawabannya. Nilai-nilai yang ditawarkan Santo Fransiskus dari Asisi selalu up to date untuk sampai kapan pun. Nilai persaudaraan, kerendahan hati, saling menghargai, solidaritas, pencintai damai, dan masih banyak nilai fransiskan lainnya selalu aktual untuk menemukan originalitas itu.

Nilai-nilai ini menjadi bekal bagi siapa pun agar tidak kehilangan arah dan orientasi serta tidak terombang-ambing oleh perkembangan yang semakin mutakhir dan dunia yang semakin riuh. Dengan demikian, gerak dan ayunan langkah dalam memaknai dan mengejar tujuan hidup ini bisa dilakukan secara pasti.

Acara para mantan OFM itu dihadiri antara lain Guru Besar Emeritus Univesitas Indonesia Robert Lawang, dua mantan Anggota DPR dari PDI Perjuangan Cyprianus Aoer dan Ben Vinsen Jeharu, Pastor Kons Bahang yang baru saja merayakan 25 tahun imamatnya dan 27 saudara lainnya. Beberapa di antaranya datang dengan anak istri. Semua bersama-sama menimba bekal untuk menemukan originalitas.

Pada pertemuan itu putuskan pula ada pengurus untuk mengelola para mantan OFM ini. Ketua terpilih adalah Felly Kama dibantu beberapa saudara dari beberapa angkatan. Agenda Utama pengurus adalah, dalam semangat persaudaraan dan solidaritas, menggalang dana untuk pendidikan para Fransiskan. (Alex Madji)