Home Umum Menghitung Langkah Catur JK

Menghitung Langkah Catur JK

269
0
SHARE
Ilustrasi foto diambil dari lembaransepakbola.wordpress.com

Jusuf Kalla (JK) tidak akan mendampingi Joko Widodo (Jokowi) pada pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019. Mahkamah Konstitusi (MK) sudah menolak uji materi sejumlah pihak terkait masa jabatan presiden dan wakil presiden. Seiring dengan putusan tersebut, JK sudah menegaskan bahwa ia akan menghabiskan hari tuanya bersama keluarga. Ia ingin lebih banyak bermain dengan cucu-cucu dan memberi kesempatan kepada kaum muda.

Apakah benar JK benar-benar pensiun dari permainan politik menjelang Pilpres 2019? Saya kira tidak. Ia akan bermain sebagai king maker alias penggerak langkah anak catur di balik layar. Mengambil posisi yang sama dengan Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan. Mengingat posisinya yang masih kuat baik secara finansial maupun politik, maka ia akan menjadi salah satu penentu dalam memilih wakil Jokowi pada Pilpres nanti. Bahkan, bukan tidak mungkin, dengan modal yang dimiliki, ia akan memunculkan capres-cawapres alternatif di luar poros Jokowi dan Prabowo Subianto.

Lalu siapa tokoh yang bakal didorong JK? Sejauh ini, yang paling banyak disebut di media sosial adalah Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. JK adalah tokoh yang paling berjasa menempatkan Anies di Jalan Merdeka Selatan, kantor Gubernur DKI Jakarta, berdampingan dengan kantor JK sendiri.

Beberapa hari terakhir, kedekatan keduanya juga menjadi buah bibir setelah JK dan Anies berada dalam satu mobil saat pulang dari acara di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Hal ini semakin menguatkan dugaan JK bakal “memainkan” Anies pada Pilpres 2019. Bersamaan dengan itu beredar undangan deklarasi Anies for President di Gedung Joeang, Jumat 6 Juli 2018.

Saya kira, Jokowi akan mendengarkan saran JK. Dan, JK kemungkinan besar akan mengajukan nama Anies Baswedan sebagai calon wakil presiden (cawapres) kepada Jokowi dan para ketua umum partai pendukung Jokowi. Di antara partai pendukung, yang mungkin cukup berat dihadapi JK adalah Megawati Soekarnoputri. Mama tua ini tergolong tidak mudah dipengaruhi orang lain. Yang lain-lain, relatif lebih mudah.

Hanya saja, Anies akan bersaing dengan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto yang sudah beriklan di mana-mana sebagai bakal calon pendamping Jokowi. Begitu juga Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Ketua Umum PPP Romahurmuzy juga bisa jadi kuda hitam. Namun, dua nama terakhir kemungkinan bisa diselesaikan secara kekeluargaan oleh JK. Mereka sama-sama warga Nahdlatul Ulama (NU).

Kalau Mama Mega, Jokowi, dan para ketua umum partai pendukung menolak Anies, maka JK bakal pecah kongsi dengan Jokowi. Ia akan berjalan sendiri sambil membawa gerbongnya termasuk beberapa partai pendukung Jokowi. Yang paling bisa dibawa serta adalah Partai Golkar yang pernah dipimpin JK. Ia juga bisa menggandeng PKB yang belum mendukung siapa-siapa atau PPP. Bila berhasil memecah koalisi Jokowi maka misi JK mencalonkan Anies Baswedan bisa terwujud. Dengan Golkar dan PKB saja, JK sudah bisa mendaftarkan Anies ke KPU dengan calon wakil presiden Airlangga Hartarto atau Muhaimin Iskandar. Gabungan kedua partai itu memiliki 138 kursi DPR atau lebih dari syarat minimal 20% atau setara 112 kursi DPR untuk mengajukan pasangan capres dan cawapres sendiri.

Kalau Golkar (dan PKB) keluar, maka Jokowi tinggal didukung empat partai pemilik kursi di DPR yaitu PDI Perjuangan, PPP, Partai Nasdem, dan Hanura. Gabungan empat partai ini memiliki 199 kursi di DPR. Dengan keempat partai tersebut, Mama Mega dan Surya Paloh akan menjadi penentu, bersama Jokowi sendiri. Mereka akan lebih leluasa memilih calon wakil yang pas dan cocok serta sesuai kehendak Jokowi karena relatif tidak ada tarik menarik kepentingan yang begitu kuat lagi.

Kalau gagal memecah kesolidan partai pendukung Jokowi, JK bisa merapat ke Partai Demokrat. Sinyal itu sudah terbaca saat pertemuan silaturahmi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan JK beberapa waktu lalu. JK dan SBY akan mencoba menjual paket Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Pekerjaan JK dan SBY berikutnya adalah mencari tambahan dukungan partai lain untuk muluskan rencana tersebut. Partai Amanat Nasional (PAN) bisa diajak kerja sama dengan Partai Demokrat. Namun, gabungan dua partai itu belum cukup karena masih kurang empat kursi. PKS bisa bergeser ke kubu ini karena juga sempat mewacanakan Anies sebagai capres.

Bila PKS dan PAN pindah haluan, yang paling sedih dan sial adalah Prabowo Subianto. Ia tidak punya dukungan yang cukup untuk maju sebagai capres karena jumlah kursi Gerindra, yang hanya 73, tidak pas untuk mengajukan pasangan capres sendiri. Namun, bila paket Anies-AHY tidak terlalu laku, Anies dikembalikan ke posisi cawapres. Kali ini, bisa diduetkan dengan Prabowo Subianto. Langkah ini sangat mungkin terwujud karena PKS siap mendukung. Gabungan Gerindra dan PKS sudah cukup. Mereka lebih satu kursi dari syarat minimal 112 kursi. Namun Prabowo dan JK pasti masih akan mencari atau membeli dukungan partai lain yaitu Demokrat dan PAN guna memantapkan langkah Prabowo-Anies melawan Jokowi.

Lalu ke mana anak catur JK akan digerakkan, sangat tergantung lobi-lobi politik selama satu bulan ke depan sebelum pendaftaran pasangan capres-cawapres ke KPU. Dan, setiap pilihan yang diambil berdasarkan hitung-hitungan di atas selalu ada harga yang harus dibayar. Sebab, ada figur yang dikorbankan, terutama para “pemilik” partai untuk meloloskan Anies Baswedan sebagai capres atau cawapres usungan JK. (Alex Madji)