Menguji Kelenturan Amien Rais

Menguji Kelenturan Amien Rais

245
SHARE
Sumber Foto: Twitter

Saya masih tertarik menulis tentang politisi kawakan Amien Rais yang namanya disebut dalam tuntutan jaksa Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) untuk kasus Siti Fadilah Supari dalam kasus korupsi pengadaan alat kesehatan (alkes). Disebutkan, Amien Rais menerima transferan dana Rp 600 juta dalam enam kali transfer masing-masing Rp 100 juta.

Kasus ini akan menguji keliatan, kelihaian, kelincahan, dan kelenturan Amien Rais di hari tuanya. Sebagai politisi yang lahir dari kampus, ia terkenal karena “kesuksesannya” dalam suksesi kepemimpinan republik ini sejak reformasi. Saking lincahnya, ada kelompok tertentu menyebutnya sebagai politisi licik. Fakta-fakta di bawah ini menunjukkan keberhasilan politik Amien Rais.

Ia termasuk tokoh sentral gerakan reformasi yang menumbangkan penguasa Orde Baru, Soeharto. Bersama tokoh-tokoh lain dan mahasiswa, ia sukses menggulingkan penguasa 32 tahun itu. Sebagai “hadiah” atas kesuksesan tersebut, ia lolos ke DPR hasil pemilu 1999 lewat partai yang didirikannya, Partai Amanat Nasional (PAN). Bukan hanya itu, ia pun didapuk sebagai Ketua MPR.

Sebagai pemimpin di lembaga tertinggi negara, yang antara lain bertugas memilih Presiden dan Wakil Presiden, ia berhasil menjegal Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden Indonesia ke-4 pada 1999. Padahal, PDI Perjuangan yang dipimpin putri Bung Karno itu adalah partai pemenang pemilu 1999 dengan 153 kursi di DPR. Sebagai Ketua Umum PDI-Perjuangan, Megawati seharusnya menjadi Presiden. Namun dengan koalisi Poros Tengah yang dibangun Amien Rais dan mengusung misi asal bukan Mega, ia berhasil mendorong KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden keempat menggantikan BJ Habibie.

Namun, kekuasaan Gus Dur hanya bertahan dua tahun. Mantan Ketua Umum PBNU itu digoyang dengan isu korupsi dana Bulog yang disertai aksi jalanan. Amien Rais, lagi-lagi memainkan peran penting. Ia memimpin sidang istimewa MPR mencabut mandat dari Gus Dur sebagai Presiden pada 2001. Ironisnya, hingga wafatnya, Gus Dur tidak terbukti melakukan tindak pidana korupsi seperti dituduhkan.

Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri yang menjadi wakil presiden kemudian menggantikan Gus Dur sebagai presiden kelima. Istri alharmum Taufiq Kiemas itu hanya berkuasa tiga tahun, hingga 2004.

Amien Rais sempat mencoba “naik pangkat” menjadi presiden lewat pemilu 2004. Sayang sekali, tidak laku. Ia, yang berpasangan dengan Siswono Yudo Husodo, langsung gagal pada putaran pertama. Hanya pasangan Megawati Soekarnoputri- KH Haasyim Muzadi dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla yang lolos ke putaran kedua. Pasangan terakhir ini akhirnya terpilih sebagai presiden keenam.

Sejak pemilu 2004 itu, Amien Rais seakan tenggelam. Ia pelan-pelan hilang dari panggung politik, termasuk dari DPR. Jabatan ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN) diserahkan ke beberapa orang kepercayaannya seperti Sutrisno Bachir, Hatta Radjasa, dan sekarang Zulkifli Hassan. Selama hampir 10 tahun, Amien Rais sepi dari hiruk pikuk politik Indonesia.

Kembali

Ia muncul kembali di panggung politik nasional pada Pilpres 2014. Ketika itu, ia mendukung pasangan Prabowo-Hatta Radjasa yang adalah Ketua Umum PAN. Sayang, calon usungannya kalah dari Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla yang diusulkan PDI-Perjuangan, Partai Nasdem, PKB, dan Partai Hanura. Ia semakin menggeliat lagi pada pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017. Ia mendukung pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Ia juga turun ke jalan dalam beberapa kali demo besar yang menuntut Basuki Tjahaja Purna (Ahok) dihukum. Ahok akhirnya dipenjara selama dua tahun setelah divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Kali ini, pasangan yang didukungnya memenangi Pilkada DKI Jakarta. Anies-Sandi tinggal menunggu pelantikan pada Oktober 2017.

Di tengah euforia kemenangan itu, tiba-tiba muncul kasus yang sudah disebut di awal tadi. Ia diduga menerima aliran dana korupsi alkes. Hal ini membuat ia kembali melakukan akrobatik politik dan bergerak lintang pukang. Dimulai dengan jumpa pers di rumahnya, Jumat, 2 Juni 2017, dilanjutkan dengan mengutus wakilnya ke gedung Komisi Peberantasan Korupsi (KPK) pada Senin, 5 Juni 2017.

Lalu Rabu, 7 Juni 2017, ia juga mendatangi gedung DPR persis pada saat DPR mengesahkan pembentukan Panitia Khusus (Pansus) KPK. PAN yang tadinya memastikan tidak mengirim wakil ke Pansus itu berbalik arah. Dua wakil, termasuk putra Amien Rais sendiri, Hanafi Rais, diutus menjadi anggota Pansus. Namun Kompas.com, Kamis, 8 Juni 2017 pukul 14.27 WIB menyebutkan, PAN justru mengirim tiga orang wakil ke Pansus, tapi tidak ada nama Hanafi Rais di sana.

Kepada wartawan di DPR, Amien menegaskan, “Jadi biarkan Pansus Hak Angket KPK ini berjalan. Nanti tentu akan pada lapor kepada Pansus ini. Apakah betul KPK hero, apakah betul memang pahlawan pendekar hukum yang dahsyat dan wangi baunya itu atau sebaliknya. Nanti akan ketahuan. Jadi saya masih memberikan kesempatan. Belum tentu saya bijak. Saya juga bisa keliru dan ternyata KPK terbukti benar.” (Kompas.com, Rabu 7 Juni 2017)

Pernyataan penting lain yang diungkapkan Amien pada di DPR adalah:

Jadi sekarang siapa yang palsu, DPR atau KPK. Kalau KPK yang palsu nanti ambil langkah konstitusional, langkah yang demokratis. Makhluk KPK ini kan buatan DPR, ya toh, kembali ke DPR nanti ya. Saya enggak tahu detailnya.”

Entah apa maksudnya. Mungkin baginya, ini langkah strategis, karena seperti diucapnya, KPK adalah lembaga bentukan DPR. Ia pun mendorong DPR untuk menyelidiki lembaga antirasuah tersebut. Apalagi, DPR juga sedang gerah dengan KPK karena pimpinan mereka juga bolak balik diperiksa KPK dalam kasus KTP elektronik atau EKTP, termasuk Ketua Pansus KPK, Agun Gunandjar Sudarsa. Amien Rais dan DPR sama-sama sedang berjuang melumpuhkan KPK.

Belum tahu seperti apa ujung dari Pansus KPK yang diusung Amien Rais. Tapi dugaan awal, minimal mereka akan memangkas sejumlah wewenang KPK dengan mengamandemen undang-undang tentang KPK. Paling jauh, lembaga tersebut dibubarkan. Bila ini terjadi maka Amien Rais dan para sekutunya itu selamat dari jeratan hukum. Dengan catatan, langkah politik mereka lebih cepat dari penyidikan yang dilakukan oleh KPK. Sekarang Amien Rais dengan Pansus KPK akan balap-balapan dengan KPK siapa duluan yang akan mati langkah. Di sini, keuletan, kelihaian, dan kelenturan politik politik Amien Rais di hari tuanya akan kembali diuji. (Alex Madji)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY