Menimba Keheningan dan Kebeningan dari Alam

Menimba Keheningan dan Kebeningan dari Alam

151
SHARE
Lokasi camping Camp Bravo, Cidahu, Sukabumi (Foto: Ciarciar.com)

Sabtu-Minggu, 14-15 Oktober 2017, kami mengikuti program camping dari kantor istri. Ceritanya, ini kegiatan bersama dua desk di Kompas yang mengikutsertakan keluarga masing-masing. Makanya, saya dan anak-anak juga bisa mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Sejujurnya, ini adalah camping pertama kami.

Lokasi camping berada di kaki Gunung Salak, tepatnya Camp Bravo, Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Di sini, sebenarnya ada banyak tempat camping. Di depan pintu masuk Taman Nasional Gunung Cisalak, ada lokasi camping Batu Tapak yang terletak persis di puncak. Agak di bawahnya, ada Camp Bravo. Di sebelahnya terdapat Agathis Camp. Dua lokasi terakhir ini persis berada di pinggir aliran sungai besar. Masih ada beberapa tempat camping lain di sekitar situ.

Untuk mencapai tempat ini sebenarnya gampang. Bisa lewat jalan raya Sukabumi. Namun, banyak orang menghindari jalan ini karena macet parah. Kebanyakan memilih jalur alternatif. Masuk dari Batutulis, Bogor, ke arah Cigombong, lewat jalan-jalan kecil, naik turun, berkelok, bahkan sebagian masih berbatu hingga sampai pemberhentian terakhir kendaraan. Dalam hati saya pikir, jalan di kampung saya lebih baik dari jalan alternatif ini.

Semula, kami beriringan dengan dua keluarga lainnya. Di tengah jalan, kami yang berada di urutan paling buncit terpisah dan tertinggal. Lalu, waze, aplikasi penunjuk jalan online alias daring (dalam jaringan) menjadi andalan. Waze mengarahkan kami melewati jalan-jalan yang saya lukiskan tadi. Sempat ragu, tapi kami terus mengikuti arahannya sampai tiba di pintu masuk Taman Nasional Gunung Salak. Jauh lebih cepat dari dua keluarga yang mendahului kami.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 09.00. Seorang petugas taman nasional datang menghampiri dan bertanya tentang tujuan kami. Saat diberitahu ingin ke Camp Bravo, pemuda itu menginformasikan bahwa lokasinya sudah lewat. Di situ, juga ada seorang pria paruh baya. Namanya, Om Lande. Ia juga bertanya tentang tujuan kami. Ia mengarahkan kendaraan kami diparkir depan sebuah kios samping gerbang masuk lokasi camping Batu Tapak yang dijaganya.

Dari logat dan warna kulitnya, saya menebak bahwa ia orang timur, seperti saya. Setelah parkir kendaraan, saya berkenalan dan ngobrol dengan Om Lande. Ia ternyata dari Pulau Kisar, Maluku. Jadilah kami makin akrab dan bisa ngobrol lepas. Apalagi, ia mengaku sudah mengunjungi seluruh kabupaten di Flores, termasuk kampung saya di Manggarai.

Karena perut sudah lapar, nyonya langsung pesan nasi goreng dan kopi hitam untuk sarapan. Kopi hitam datang paling pertama. Ketika kopi nyaris habis, baru nasi goreng dengan telur dadar tiba. Tanpa tunggu lama langsung sikat dan habis.

Dari situ, kami turun lagi dan parkir di sebuah masjid besar, tempat parkir semua kendaraan yang hendak camping di Camp Bravo dan Agathis Camp serta beberapa lokasi lain. Setelah lama menunggu, barulah dua rombongan lain tadi tiba.

Karena ingin segera menikmati suasana camping, kami lalu langsung menuju lokasi. Jaraknya hanya sekitar 1 kilometer. Jalannya tidak terjal. Melewati anak-anak sungai dan sawah yang padinya mulai merunduk. Anak-anak saya, juga anak-anak teman istri saya, bisa jalan sendiri tanpa minta digendong. Perjalanan kaki lewat jalan setapak ini ditempuh selama sekitar 15 menit sambil menikmati alam pedesaan yang hening.

Cebur

Setiba di lokasi, sudah dibangun sembilan tenda untuk kami, persis di pinggir sungai. Setelah menyimpan barang di tenda, anak-anak langsung mengeksplorasi sungai. Mulai dari menantang arus yang cukup deras, melompati batu-batu besar dan kecil, sampai berendam di bendungan mini. Tidak hanya sekali mereka melakukan itu. Berkali-kali. Ketika yang satu tidak bisa melewati arus sungai, yang lain membantu dengan menarik tangan. Seru.

Makin sore, suasana makin ramai ketika makin banyak peserta yang hadir. Orang tua dan anak-anak juga ikut nyebur ke sungai. Menikmati air gunung yang bening dan dingin nan segar. Saya sendiri ikut ke sungai sambil mengawasi anak-anak. Bagi anak-anak, ini sebuah pengalaman istimewa dan emas. Untuk saya, ini mengingatkan kembali pengalaman masa kecil ketika hampir setiap hari bermain di sungai dan sawah.

Yang paling menikmati anak kedua saya. Seperti tidak ada capeknya. Ia juga jauh lebih berani dari kakanya. Si sulung masih terlihat sangat berhati-hati naik turun bebatuan. Ia masuk ke arus sungai yang agak deras dan masuk ke air yang lebih dalam. Tidak ada takutnya.

Setelah puas bermain, agak sore mereka minta makan. Teman istri saya, yang membawa perlengkapan camping yang komplit, mulai buka kompor portable dan penggorengan. Jadilah anak-anak berlomba-lomba berlatih menggoreng sosis. Padahal di rumah, mereka tidak pernah memegang alat-alat dapur seperti ini.

Malam harinya, anak-anak ini “mentas”. Mereka diminta tampil secara pribadi dan bersama-sama untuk bernyanyi atau berbuat apa saja sebelum diberi hadiah. Kemudian mereka bertukar kado dan door prize. Acara malam ini ditutup dengan api unggun plus bakar jagung serta pisang. Agak malam, beberapa orang dewasa nge-wine sambil gitaran saat anak-anak sudah terlelap.

Pagi-pagi, Minggu, 15 Oktober 2017, anak-anak lagi-lagi cebur ke sungai. Sebagian orang tua, termasuk saya, naik ke air terjun yang tidak seberapa jauhnya. Jalannya juga tidak terjal-terjal amat. Hanya sayang, hari itu tidak ada yang mandi di air terjun karena terlalu ramai oleh anak-anak sekolah dari sekitar Cidahu. Sepulang dari sana, anak-anak sudah mandi.

Selang beberapa saat, anak-anak yang sudah ganti baju cebur lagi ke sungai sambil menunggu makan siang. Malah, saat makan siang tiba, sebagian menikmati santap siangnya di tengah sungai. Orang tua juga ikutan menikmati hidangan sambil duduk di atas batu di tengah sungai. Hingga menjelang mau pulang, sejumlah anak enggan beranjak. Mereka ingin tinggal lebih lama. Setelah agak dipaksa, akhirnya mereka mau mandi lagi dan akhirnya pulang.

Foto: Ciarciar.com

Singkat cerita, anak-anak sangat senang dan sungguh menikmati suasana, yang oleh orang kota disebut sebagai suasana emas. Padahal, untuk orang kampung seperti saya, suasana seperti ini, biasa saja.

Terlepas dari perasaan subjektif saya, mudah-mudahan camping pertama ini bisa mengasah jiwa anak-anak ini untuk lebih tajam dan lebih bersih membedakan yang baik dan yang benar di masa mendatang. Semoga mereka juga bisa mencintai keheningan dan kebeningan batin di masa depan, sebagaimana ditawarkan oleh alam di Cidahu. Lebih dari itu, semoga nantinya mereka tetap mencintai dan kembali ke alam. (Alex Madji)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY