Home Gagasan Menimbang Peluang Gatot Nurmantyo Menuju 2019

Menimbang Peluang Gatot Nurmantyo Menuju 2019

163
SHARE
Sumber Foto: SuratKabar.id

Prabowo Subianto sudah menerima mandat dari kader Partai Gerindra seluruh Indonesia untuk maju sebagai calon presiden (capres) pada 2019. Artinya, ia sah menjadi penantang calon petahana Joko Widodo (Jokowi) pada pemilu presiden (pilpres) tahun depan. Kepastian ini sekaligus menjawab kegalauan Prabowo sendiri, para elite, dan kader partai tersebut selama dua pekan awal April 2018.

Pada saat bersamaan, majunya Prabowo sekaligus menutup pintu bagi mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo. Pensiunan jenderal bintang empat ini sempat diberitakan siap “membeli” Gerindra guna mendapatkan tiket maju sebagai capres dari Gerindra.

Meski demikian anak catur Gatot belum benar-benar mati. Ia masih punya peluang lewat Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), PKS, dan PAN yang belum juga menentukan capres. Adapun PDI Perjuangan, Partai Golkar, PPP, Nasdem, dan Hanura sudah menjatuhkan pilihan pada Jokowi.

Namun, Gatot akan sulit mendapatkan tiket capres dari Partai Demokrat karena mereka sudah punya putra mahkota, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Sementara di PKS, nama Gatot tidak masuk dalam daftar sembilan calon presiden/wakil presiden partai tersebut. PKB juga kecil kemungkinan menampung Gatot karena ketua umumnya saja, Muhaimin Iskandar, hanya digadang-gadang maju sebagai cawapres untuk Jokowi. Walaupun, beberapa hari terakhir muncul selebaran tentang duet Gatot-Muhaimin Iskandar.

Bila melihat kemungkinan demikian, maka peluang Gatot maju sebagai capres untuk menantang Jokowi dan Prabowo pada pilpres mendatang sangat kecil. Menghadapi situasi seperti itu, maka Gatot sudah saatnya menurunkan posisi tawar dan target politiknya yaitu menjadi cawapres baik untuk Jokowi maupun Prabowo. Apalagi, kedua capres ini masih mencari pasangan yang pas dan cocok untuk menambah suara.

Posisi itu juga belum tentu mudah didapatkan. Di kubu Jokowi ada begitu banyak bakal calon yang sudah mengantre. Nama-nama seperti Muhaimin Iskandar, Airlangga Hartarto, AHY, dan Wiranto sudah lama ada dalam daftar Jokowi. Dan, tokoh-tokoh ini memiliki modal politik sangat kuat karena mereka adalah “pemilik” partai. Airlangga dan Muhaimin adalah Ketua Umum Partai Golkar dan PKB. AHY adalah putra sulung pendiri dan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, sedangkan Wiranto merupakan pendiri Partai Hanura. Sementara Gatot, kalau mau masuk dalam daftar antrean cawapres Jokowi, tidak punya modal politik apa pun, kecuali sebagai mantan panglima TNI dan (kemungkinan) punya logistik memadai.

Peluang sedikit terbuka bila ia menjadi cawapres Prabowo. Duet keduanya cocok kalau benar bahwa Gatot memiliki logistik yang cukup untuk pilpres. Namun, seberapa besar ia diterima oleh partai koalisi Prabowo? PKS yang menjadi sekutu politik Gerindra dalam lima tahun terakhir mematok syarat dukungan mereka ke Prabowo adalah bahwa cawapresnya haruslah kader PKS dan, seperti sudah disampaikan tadi, PKS sudah punya sembilan calon untuk mengisi posisi tersebut. Untuk bisa memenuhi syarat tersebut, maka Gatot harus segera menjadi kader PKS dan langsung masuk dalam daftar capres/cawapres partai tersebut agar jalannya mulus.

Namun masih ada pertanyaan lanjutan. Apakah duet militer-militer bisa menyedot suara rakyat dan mengalahkan Jokowi? Bukankah lebih baik Prabowo berpasangan dengan seorang sipil yang bisa mencuri suara Jokowi seperti Anies Baswedan? Belum lagi hasil survei berbagai lembaga memperlihatkan, tingkat keterpilihan Gatot masih sangat rendah. Maka nasib Gatot hanya untuk posisi cawapres sangat tergantung Prabowo yang diberi mandat para kadernya memilih sendiri pasangan.

Kalau sampai Prabowo mengabaikannya, maka Gatot harus berbesar hati untuk tidak mengikuti kontestasi tahun depan. Ia menyimpan tenaga untuk pilpres lima tahun berikutnya. Untuk itu, ia perlu membangun infrastruktur dari sekarang, misalnya dengan “menguasai” atau melakukan investasi politik pada partai yang sudah ada dan memiliki kursi di DPR agar misi menjadi capres 2024 bisa lebih lebih mudah terwujud.

Pilihan lainnya adalah mendirikan partai politik baru untuk mengikuti pemilu 2024. Namun, hasilnya baru akan menentukan pencapresan Gatot pada pemilu 2029. Hanya saja, bila baru maju 11 tahun mendatang, usianya sudah 69 tahun. Terlalu tua untuk menjadi seorang presiden. Dan, sisa-sisa kehebatannya sebagai Panglima TNI sudah pudar. Dengan kata lain, ia sudah kehilangan momentum.

Kalau pun tidak bisa maju sendiri, minimal dengan mendirikan partai baru untuk mengikuti pemilu 2029, ia bisa membangun dan menambah klan politik di Indonesia, setelah PDI Perjuangan dengan keluarga Soekarno dan Demokrat dengan keluarga Yudhoyono atau Nasdem dengan Surya Paloh.

Terlepas dari itu, peluang emas Gatot untuk “naik kelas” dari panglima TNI menjadi presiden/wakil presiden adalah tahun depan meski akan sangat sulit mendapatkan tiket. Sementara pada 2024, peluangnya masih ada tetapi perlu kerja sangat keras dari sekarang. Adapun 2029, peluangnya sudah tertutup. (Alex Madji)