Home Inspirasi Menjawab Kegalauan

Menjawab Kegalauan

237
SHARE
Sumber foto ilustrsi: Bedahkampus.com

Dalam dua minggu terakhir saya galau habis. Pikiran melayang ke masa pensiun yang akan datang 11 tahun lagi. Pertanyaan pokoknya, apa yang akan dibuat saat pensiun tiba? Dua minggu ini saya mencoba berpikir keras menjawab sendiri pertanyaan tersebut.

Sebenarnya, saya sudah membuat sebuah road map atau peta jalan (sesekali niru-niru pejabat dan orang-orang pintar di luar sana) sejak pertengahan 2017. Judulnya: Road to Pension. Isinya, ya mimpi tentang masa pensiun yang indah.

Dalam road map itu, saya telah membuat peta usaha dalam bidang transportasi, memanfaatkan booming-nya taksi online saat ini. Hitung-hitung menjalani dan mempraktekkan “teori ekonomi berbagi”-nya Rhenald Kasali.

Pada Agustus 2017, saya nekad kredit sebuah mobil Calya untuk di-grab-kan oleh adik saya. Intensi utamanya adalah, sekaligus, membantu dia agar tetap bisa membiayai sendiri uang kuliah sejak kontraknya di tempat kerja tidak diperpanjang mulai awal 2017. Saat ingin mewujudkan rencana ini, saya sudah bertanya tentang keseriusannya. Ia mengaku siap. Maka, kami sekeluarga pergi bersama dia ke dealer untuk proses kredit mobil. Bersamaan dengan itu, saya membiayai dia kursus nyetir dan urus surat izin mengemudi (SIM). Dengan segala keberanian, kami mengambil keputusan ini.

Sejak awal, saya berupaya untuk seterbuka mungkin bahwa dana untuk rencana ini diambil dari tabungan untuk sebuah rencana lain dalam tiga tahun ke depan. Harapannya, dia serius serta punya komitmen tinggi.

Singkat cerita, usaha taksi online ini berjalan sejak pertengahan September 2017. Ia mula-mula mendaftar di grab. Sejak awal pula disepakati perjanjian secara lisan pembagian hasil usaha 60:40. Dua minggu pertama usaha berjalan, mobil sudah penyok dan awal Oktober langsung masuk bengkel selama satu minggu. Bulan Oktober usaha ini berjalan tiga minggu, tapi akhir bulan sudah kena ban (larangan) dari grab untuk beberapa jam. Hasilnya, jatah saya bisa tutup cicilan sebulan dan bagian dia bisa menutup uang kuliah.

November 2017, taksi online ini berjalan penuh. Hasilnya lumayan. Selain saya bisa tutup cicilan bulanan, juga ada lebih sedikit. Untuk dia, lagi-lagi bisa bayar uang kuliah. Malah masih ada lebihnya. Namun, akhir bulan ia di-ban permanen oleh grab.

Sejak Desember 2017 ia beralih ke Go-kar. Sepanjang bulan ini berjalan lancar. Hasilnya lagi-lagi bisa tutup cicilan. Namun, sejak awal Januari 2018, mobil harus rawat inap selama dua minggu di bengkel karena penyok sana sini. Meski begitu, akhir bulan masih bisa untuk menutup cicilan.

Mulai awal Februari, saya coba ganti pola bagi hasilnya dengan sistem setoran Rp 300.000/hari. Hal ini diambil karena dia selalu bisa setor Rp 500.000/hari. Kadang lebih. Paling minim Rp 400.000/hari. Dalam hitungan saya, pembagian ini cukup adil untuk kedua belah pihak. Sejak itu, saya tidak pusing lagi bertanya tentang penghasilannya setiap hari. Belum lagi rasa curiga bahwa ia tidak jujur. Yang pasti saya dapat setoran per hari.

Sayang seribu sayang, menjelang Februari 2018, dia di-ban permanen oleh Go-kar. Maka, usaha ini pun berhenti sejak Maret 2018. Untuk Februari, cicilannya masih ketutup.

Yang bikin saya pusing adalah memikirkan cicilan mulai Maret 2018 dan bulan-bulan selanjutnya selama lima tahun ke depan. Inilah penyebab utama kegalauan selama dua pekan terakhir. Padahal skema usaha ini sudah digambar sejak awal. Tapi apa mau dikata, Si Calya sudah dikandangkan di garasi.

Nah, (ini refleksi dan poin dari cerita ini) memulai usaha kecil-kecilan seperti yang kami lakukan ternyata tidak mudah. Baru saja melangkah, eh terhenti dan terjatuh. Namun, saya mencoba tetap berpikir positif. Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk menarik napas, mengumpulkan lagi tenaga, dan kembali menghimpun keberanian untuk bisa melangkah lagi. Syukur-syukur kalau setelah ini bisa berlari ringan. Siapa tahu di ujung sana masih ada sebuah harapan dan menjadi penjawab kegalauan ini. (Alex Madji)