Home Inspirasi Menunggu Hata Radjasa-Ani Yudhoyono Naik “Pelaminan”

Menunggu Hata Radjasa-Ani Yudhoyono Naik “Pelaminan”

631
2
SHARE


Selasa, 22 November 2011, prosesi pernikahan pasangan Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas, putra bungsu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Ani Yudhoyono dengan Siti Ruby Aliya Radjasa, putri Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa, dimulai. Diawali dengan upacara mandi kembang pagi hingga siang hari dilanjutkan dengan midodareni pada malam harinya.

Sementara akad nikah berlangsung di Istana Cipanas, Jawa Barat, Kamis 24 November 2011 pukul 10.00-12.00 WIB. Wakil Presiden Boediono bertindak sebagai saksi mempelai pria. Sementara saksi untuk mempelai perempuan adalah mantan Ketua MPR yang juga mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Amin Rais.

Ini adalah pernikahan kedua dan terakhir selama SBY menjadi Presiden. Pada periode pertama kepresidenannya, dia menikahkan putra sulungnya Kapten TNI Agus Harimurti Yudhoyono dengan Anissa Larasati Pohan di kediaman orang tua Annisa di Jalan Senopati No. 8, Jakarta, 7 Juli 2005. Resepsi berlangsung di Istana Bogor.

Tetapi pernikahan Ibas dan Aliya ini punya warna dan makna tersendiri. Pernikahan mereka ini adalah perkawinan politis, seperti perkawinan aristokrat zaman dulu. Alasannya, pertama, karena Ibas dan Aliya sama-sama anak politisi dan penggede di negeri ini. SBY, ayah Ibas, adalah Presiden saat ini. Sementara Hatta Radjasa, ayah Aliya, adalah Ketua Umum PAN Menteri Koordinator Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu II pimpinan SBY. Selian itu, Ibas sendiri adalah seorang politisi.

Kedua, pernikahan mereka berlangsung sangat dekat dengan perhelatan politik pada 2014. Nama Hatta Radjasa dan Ny Ani Yudhoyono, ibu Ibas, juga disebut-sebut menjadi bakal calon presiden pada 2014. Bahkan, menurut Kantor Berita Antara, ada wacana keduanya dipasang sebagai satu paket.

Nama Hatta Radjasa dan Ny Ani Yudhoyono juga disebut dalam polling berbagai lembaga survei sebagai bakal calon presiden 2014. Meskipun popularitas keduanya masih di papan bawah alias berada di bawah nama-nama lama, spesialis calon presiden.

Sebagai contoh, survei Sugeng Sarjadi Syndicated (SSS) periode Oktober 2011 menyebutkan, Hatta Radjasa hanya meraih 2,8 persen resonden. Dia hanya berada satu langkah di atas Surya Paloh yang hanya meraih 2,5 persen responden. Dia masih kalah dari nama-nama seperti Sri Mulyani (7,4%), Aburizal Bakrie (6,8%), Said Akil Siradj (6%), Din Syamsuddin (5,2%), Pramono Edhie Wibowo (4,2%), Jusuf Kalla (4,0%), dan Djoko Suyanto (3,2%).

Survei Reform Institute pada 12-24 September 2011 menunjukkan bahwa Ani Yudhoyono hanya meraih 4,13 persen respondon. Dia berada di urutan paling buncit dari sekian nama. Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie berada di urutan pertama dengan perolehan suara 13,58 persen, disusul Prabowo Subianto (8,46%), Jusuf Kalla (7,06%), dan Hidayat Nurwahid (5,17%).

Sementara survei Jaringan Suara Indonesia (JSI) pada 10-15 Oktober 2011 menyebutkan, Ani Yudhoyono dan Hatta Radjasa masing-masing mendapat 1,6 persen suara responden. Mereka hanya unggul dari Anas Urbaningrum (1,5%), Sutanto (0,2%), dan Djoko Suyanto (0,2%). Sementara posisi teratas masih ditempati Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri dengan 19,6 persen disusul berturut-turut Prabowo Subianto (10,8%), Aburizal Bakrie (8,9%), Wiranto (7,3%), Sri Sultan Hamengkubuwono X (6,5%), Hidayat Nur Wahid (3,8%), dan Surya Paloh (2,3%).

Data tiga lembaga survei di atas menunjukkan bahwa nama Hatta Radjasa dan Ani Yudhoyono patut diperhitungkan pada pemilu presiden 2014. Apalagi keduanya memiliki kendaraan politik. Hatta Radjasa sudah didorong oleh pengurus PAN di daerah menjadi Calon Presiden. Bahkan, Arya Bima meminta Hatta mundur dari Menteri Koordinator Perekonomian untuk fokus pada kursi RI 1.

Ani Yudhoyono juga memiliki kendaraan politik yaitu Partai Demokrat. Tetapi internal partai tidak terang-terangan mendorong putri Sarwo Edi Wibowo itu. Ini adalah gaya berpolitik SBY dan Partai Demokrat. Politik jaim alias jaga imij. Tetapi bukan tidak mungkin dia akan dimunculkan sebagai calon presiden. Tinggal menunggu momen yang pas. Meskipun, beberapa kali SBY menegaskan bahwa istri dan anaknya tidak akan dicalonkan sebagai presiden.

Baik Hatta Radjasa maupun Ani Yudhoyono dapat maju sendiri-sendiri. Tetapi persaingan di dunia politik tentu bakal berpengaruh pada hubungan kekeluargaan mereka. SBY sebagai orang yang sangat memperhatikan tata krama politik sudah pasti akan menjaga ini.

Karena itu kemungkinannya ada dua. Pertama, Hatta Radjasa dan Ani Yudhoyono akan “dikawinkan” dan naik ke pelaminan politik 2014. Tetapi ini sangat tergantung tingkat elektabilitas keduanya. Figur SBY tetap akan menjadi daya tarik bagi pasangan ini. Soal siapa nomor satu dan siapa nomor dua, tergantung hasil pemilu legislatif.

Tetapi pada saat bersamaan, perkawinan keduanya akan menjadi sasaran empuk lawan-lawan politik mereka. Isu politik klan yang selalu berkonotasi negatif akan dihembuskan guna menghancurkan pasangan ini.

Kedua, pencalonan salah satu dari keduanya akan dianulir. Bagi SBY, mungkin lebih aman kalau Ibu Ani tidak maju agar konsisten dengan pernyataannya bahwa istri dan anaknya tidak akan maju pada pemilu presiden mendatang. Sebaliknya, kalau Hatta yang mundur, kader PAN akan berontak. Tetapi semua itu masih akan sangat tergantung hasil pemilu legislative 2014.

Tetapi peluang Hatta Radjasa dan Ani Yudhoyono menjadi “pengantin” berikut, setelah Ibas dan Aliya yang nikah Kamis 24 November 2011 tetap terbuka lebar. Maka kita tunggu saja keduanya naik pelaminan. (Alex Madji)