Home Umum Menunggu Kiprah Ahok Setelah Bebas dari Penjara

Menunggu Kiprah Ahok Setelah Bebas dari Penjara

185
0
SHARE
Sumber Foto: Okezone.com

Satu minggu terakhir media daring ramai memberitakan soal bebasnya Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Berawal dari percakapan di sejumlah grup WA pada Selasa 10 Juli 2018. Namun pengacara mantan Gubernur DKI Jakarta itu, sebagaimana dikutip media daring Beritasatu.com ini, mengaku belum tahu tentang kabar tersebut.

Sehari setelahnya, media-media yang sama juga memberitakan bahwa Ahok seharusnya bebas bersyarat Agustus 2018. Namun, ia lebih memilih menjalani secara penuh hukumannya. Ia menolak bebas bersyarat. Memilih tinggal di penjaran hingga awal tahun depan.

Sejak 9 Mei 2017, Ahok ditahan di rumah tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Ia divonis dua tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara karena, meminjam kalimat majelis hakim, “terbukti secara sah dan meyakinkan” melakukan penodaan agama. Majelis hakim memvonis Ahok melanggar pasal 156 KUHP tentang penodaan agama terkait pernyataannya soal Surat Al-Maidah 51 saat berkunjung ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

Gara-gara kasus ini, Ahok tidak menyelesaikan masa jabatannya sebagai gubernur. Keburu masuk penjara. Jabatannya dilanjutkan Djarot Syaiful Hidayat. Eksploitasi atas kasus Ahok membuat keduanya juga gagal terpilih kembali. Padahal, Ahok-Djarot tergolong sukses dan benar-benar bekerja untuk warganya. Akhirnya, mereka digantikan Anies Baswedan-Sandiaga S Uno, Gubernur DKI Jakarta saat ini.

Setelah Ahok bebas, ia tetap akan menjadi figur yang menarik diikuti kiprahnya. Ke mana pun ia pergi dan apa pun aktivitasnya, ia tetap akan menjadi santapan media. Kisah asmaranya, setelah cerai dari Veronica Tan, juga tak luput dari perhatian media.

Apakah Ahok akan menjauh dari dunia politik? Pertanyaan ini menggelitik saya. Sebagai zoon politicon yang berada di atas rata-rata dari warga lain, Ahok tidak akan jauh-jauh dari dunia itu. Ia manusia politik dan tetap ingin menyampaikan suara kenabian lewat peran politik.

Kalau saja Ahok menerima bebas bersyarat, maka kiprah politik Ahok justru akan “menyemarakkan” pemilu presiden dan wakil presiden (pilpres) 2019. Selama ini, Ahok dipersepsikan sebagai tokoh yang dekat dengan Joko Widodo (Jokowi) yang akan maju lagi untuk periode kedua. 2019-2024. Bisa dimengerti. Ia pernah menjadi wakil Jokowi di DKI Jakarta sebelum terpilih sebagai Presiden 2014. Karena itu, pada demo berjilid-jilid tahun lalu, Ahok disebut-sebut hanya menjadi sasaran antara. Target utamanya adalah Jokowi. Untunglah, upaya menjatuhkan Jokowi di tengah jalan, memanfaatkan momentum kasus Ahok, gagal total.

Sekarang, kelompok yang sama mengalihkan perhatian untuk menghentikan langkah Jokowi secara konstitusional lewat pilpres 2019. Kelompok ini, dipelopori PKS dan Partai Gerindra, mengkampanyekan tanda pagar (tagar) #2019GantiPresiden. Gerakan tersebut coba diperluas ke daerah, selain Jakarta. Solo sudah mencobanya.

Hantaman terhadap Jokowi akan kembali menemukan momentumnya dengan bebasnya Ahok. Apalagi kalau mantan Bupati Belitung Timur itu langsung aktif di dunia politik menjelang Pemilu legislatif dan Pilpres 2019. Bergabung dengan partai apa pun dia, partai itu akan dihantam dengan isu pembela penista agama.

Begitu pun kalau ia dengan terbuka dan terus terang mendukung Jokowi. Jokowi akan dihantam isu pembela penista agama. Selanjutnya sudah jelas. “Jangan pilih pembela penista agama,” kira-kira begitu bunyi kampanye penentang Jokowi nantinya.

Tentu saja ini akan menjadi pukulan serius untuk Jokowi. Sebab isu agama masih akan laku pada pesta demokrasi lima tahunan ini. Maka pilihan Ahok untuk bertahan di Mako Brimob hingga awal tahun depan akan membuat kegaduhan menjelang pilpres sedikit berkurang. Meski demikan, begitu bebas murni tahun depan, sebaiknya Ahok istirahat dulu dari dunia politik. Untuk sementara. Mungkin pada pemilu berikutnya, baru muncul lagi. Tentu dengan lebih tegar dan bersahaja. Penuh kekuatan baru pula. Atau siapa tahu setelah pemilu tahun depan, ia mendapat jabatan politik. Sayang kalau orang berkualitas seperti dia tidak diberi tempat untuk menciptakan kebaikan umum.

Namun siapa yang bisa melarang Ahok melakukan “moratorium” politik? Tidak ada. Itu dunianya. Sama halnya, tidak ada orang yang bisa melarang Ahok berbicara tentang apa pun. Sebab begitulah dirinya. Ia tidak mau menjadi yang lain. Ia tetap ingin menjadi diri sendiri. Karena itu, tetap saja menarik menyaksikan kiprah Ahok setelah keluar penjara. Dan, semoga kekuatan yang ditimba di rumah tahanan akan semakin menguatkannya untuk terus berbuat baik bagi banyak orang. Kalau bukan lewat politik, lewat cara lain yang sesuai hati nurani. (Alex Madji)