Menunggu Waktu Kematian Itu Tiba

    80
    0
    SHARE
    Edisi Terakhir Tabolid Bola (Sumber Foto: Akun Instagram @tiyan76)

    Tabloid Bola resmi ditutup. Edisi terakhir sudah beredar, Kamis 25 Oktober 2018. Judulnya, “Selesai, Terima Kasih”. Ini edisi pamitan sekaligus pamungkas setelah hidup sepanjang 34 tahun memanjakan publik olahraga republik ini.

    Terbit pertama pada 1984, sebagai sisipan Harian Umum Kompas. Pernah menjadi tabloid olahraga paling disegani dan menjadi acuan bagi para pengambil kebijakan di dunia olahraga Indonesia. Juga menjadi rujukan untuk pencinta olahraga. Setiap pekan, orang, termasuk saya, selalu tidak sabar menunggu terbitnya Bola.

    Menjadi wartawan Bola juga sebuah kebanggaan. Prestise. Bisa keliling dunia untuk meliput kejuaraan dan kompetisi olahraga, seperti Piala Dunia, Piala Eropa, Olimpiade, dan berbagai ajang lainnya. Di kalangan wartawan olahraga, kalau memperkenalkan diri sebagai wartawan Bola, langsung angkat topi. Segan. Juga ada rasa kagum. Ya, karena media dengan nama besar. Bukan hanya sesama wartawan. Para narasumber pun segan. Bahkan takut. Lagi-lagi karena nama besar tadi. Sekarang, semua itu hanya tinggal kenangan.

    Namun Bola bukanlah satu-satunya media cetak yang tak mampu menghadapi banjir bandang revolusi teknologi komunikasi atau yang belakangan disebut revolusi industri 4.0. Di lingkungan Kompas Gramedia, sebelum Bola, sejumlah majalah yang begitu akrab dengan pembaca juga gulung tikar. Di luar kelompok ini, ada harian umum sore Sinar Harapan yang juga berhenti terbit. Disusul The Jakarta Globe dari Grup Berita Satu. Jauh sebelumnya, beberapa koran lain juga tidak beredar lagi.

    Media Cetak yang tumbuh bagaikan jamur di musim hujan sejak reformasi 1998 satu demi satu berguguran. Sisanya, mungkin bisa dihitung dengan jari tangan. Kita sebut saja harian yang masih terbit di Jakarta: Kompas, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Republika, Indo Pos, Koran Sindo, Rakyat Merdeka, Pos Kota, Kontan, Investor Daily, dan Bisnis Indonesia. Kelompok Majalah antara lain masih ada Tempo, Gatra, Majalah Ekonomi Investor, Majalah Hidup, dan masih ada beberapa majalah ekonomi lainnya. Intinya, tidak seramai lagi sebelum lahirnya teknologi 4.0.

    Seiring berkurangnya jumlah media cetak, media generasi baru yaitu media daring (dalam jaringan) atau yang terkenal dengan sebuah media online tumbuh subur. Juga bagaikan cendawan di musim hujan. Ada yang modal besar. Ada juga yang tidak perlu modal alias modal dengkul. Ada yang dikelola secara profesional sebagai badan usaha, ada pula yang dijalankan perorangan.

    Itu terjadi, karena siapa saja bisa bikin media daring. Mengapa? Pembuatannya amat sangat mudah. Siapa pun bisa melakukannya. Sambil duduk dan berselancar internet, Anda kunjungi situs-situs sewa domain dan hosting. Dengan uang Rp 350.000 atau bahkan kurang dari itu untuk sewa domain dan hosting sepanjang satu tahun – dalam hitungan menit – Anda sudah punya media daring. Modal dasarnya cuma satu. Tersedia jaringan internet.

    Karena itu, bila pergi ke tempat-tempat liputan, jangan heran kalau mendengar orang menyebut diri wartawan dari media daring yang belum Anda dengar sama sekali namanya. Yang model begini, di liputan olahraga banyak. Kabarnya, di dunia hiburan juga. Karena itu tadi. Siapa saja bisa bisa buat media daring sekarang.

    Fenomena ini menjadi tantangan sangat besar bagi media-media cetak yang masih bertahan hidup. Apalagi, kondisinya stagnan. Bahkan terus menurun. Dari sudut oplah tidak mengalami kenaikan. Justru cenderung berkurang. Ada yang jatuhnya drastis. Dengan sendirinya juga pendapatan dari penjualan koran/majalah anjlok. Sementara perolehan iklan juga terus menyusut. Ini terkait erat dengan jumlah oplah yang tergerus. Pengiklan ogah pasang iklan kalau tiras medianya kecil. Hanya buang uang, tanpa efek balik.

    Sementara gaji karyawan jalan terus. Bakar uang terjadi setiap hari untuk membeli kertas, sewa percetakan, dan perlengkapan-perlengkapan kecil lainnya seperti tinta printer untuk print out koran guna cek ulang sebelum dikirim ke percetakan. Dan, masih banyak pengeluaran kecil-kecil lainnya.

    Kondisi ini memaksa sejumlah media cetak melakukan banyak kebijakan penghematan. Mulai dari hal kecil seperti tidak mencetak blok note atau catatan wartawan. Yan besar, pengurangan halaman seperti dilakukan Kompas. Sekarang terbit minimal 28 halaman dari sebelumnya 32. Kadang, juga terbit dengan 32 halaman atau lebih. Media lain, melakukan penghematan dengan tidak menerbitkan edisi Minggu atau akhir pekan. Yang lain lagi, edisi hari Sabtu hanya dalam bentuk e-paper seperti yang dibuat Suara Pembaruan. Yang lain lagi memangkas biro-biro daerah seperti ditempuh Harian Sindo.

    Kalau beban masih terlalu besar sementara pendapatan nyaris tidak ada, maka dilakukan pengurangan karyawan. Bila kebijakan seperti itu juga tidak efektif, maka pilihan terakhir adalah berhenti terbit seperti yang dilakukan Bola. Saya kira, media-media cetak lain, terutama yang modalnya tidak terlalu kuat, hanya menunggu waktu saja untuk mengikuti jejak Bola.

    Sejumlah media, sambil menunggu dengan harapan akan ada arus balik, melakukan persiapan dengan memunculkan penerbitan daring. Ini antisipasi yang bagus. Kalau betul-betul media cetaknya tenggelam, maka karyawan tinggal dialihkan ke penerbitan daring. Sejak Bola mulai ngap-ngapan, kelompok Kompas Gramedia membuat BolaSport.com. Apakah ini sebagai antisipasi sebelum Bola almarhum? Seorang wartawan Bola, minggu lalu dalam sebuah obrolan ringan mengaku, belum ada pembicaraan ke arah sana.

    Sementara media cetak lain, persiapan untuk ini tidak terlalu matang. Proses peralihan berjalan lamban. Seperti siput. Yang begini ini, kalau media cetaknya berhenti terbit, maka betul-betul hanya akan tinggal nama.

    Pada akhirnya, revolusi industri 4.0 yang menyebabkan meledaknya pertumbuhan media daring dan media sosial benar-benar memaksa media cetak arus utama hanya menunggu waktu kematian itu tiba seperti yang dialami Bola. (Alex Madji)