Home Umum Menutup Tahun 2015 Secara Sederhana

Menutup Tahun 2015 Secara Sederhana

1223
0
SHARE
Candi Hati Kudus Yesus di kompleks Gereja Ganjuran, Bantul, Yogyakarta (Foto: Ciarciar.com)

Menjelang penutupan tahun 2015, saya dan keluarga mengisinya dengan berziarah. Dua hari terakhir sebelum memasuki 2016, saya berziarah ke tempat wisata rohani di kompleks Gereja Ganjuran, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Gua Maria Jatiningsih, Godean, Seleman. Rabu, 30 Desember 2015 saya berdoa di depan candi Hati Kudus Yesus Ganjuran. Lalu 31 Desember 2015, saya berdoa di depan patung Bunda Maria di Jatiningsih.

Kegiatan ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, inilah untuk pertama kali dalam hidup saya menjelang akhir tahun diisi dengan ziarah rohani. Malahan, ini pula untuk pertama kalinya saya datang ke tempat-tempat seperti ini, meski hampir tiap tahun pulang ke Yogyakarta, sejak saya berpacaran dan menikahi perempuan Yogyakarta. Karena itu, tutup tahun 2015 dan menyambut 2016 saya kali ini cukup unik.

Sebagai pengalaman pertama, tentu ada semacam perasaan sensasi. Ada perasaan gembira di hati. Entah kenapa. Agak sulit dijelaskan. Di Ganjuran, saya tidak sempat masuk dan berdoa di depan patung Hati Kudus Yesus yang berada di dalam candi. Untuk masuk ke sana antriannya panjang. Lagi pula yang masuk hanya bisa dua atau maksimal tiga orang. Karena alasan itu maka saya putuskan untuk duduk lesehan di atas tikar plastik di sebelah kiri candi.

Persis di belakang pohon, di depan ruang pengakuan dosa, saya mendaraskan doa rosario. Doa yang sederhana. Saya sampaikan beberapa ujud, antara lain supaya dianugerahi kesehatan dan rezeki berlimpah sepanjang 2016. Juga agar semua rencana sepanjang tahun ini bisa terwujud. Setelah itu, baru saya daraskan 50 Salam Maria dibantu rosario yang baru saja saya beli di toko rohani di parkiran samping kompleks Gereja Ganjuran.

Saya sendiri heran. Kok bisa. Sebab saya cukup jarang berdoa rosario hingga lima peristiwa. Tapi kali ini bisa bertahan. Maka ini sesuatu yang luar biasa buat saya. Kebetahan ini mungkin juga terdukung oleh suasana doa yang tercipta di tempat tersebut. Meskipun, Rabu 30 Desember 2015 itu di dalam gereja Ganjuran ada misa pernikahan sehingga konsentrasi doa sedikit terganggu oleh koor.

Gereja Ganjuran ini memang sudah menjadi destinasi wisata rohani Katolik. Pada hari itu, mobil bermomor polisi dari berbagai daerah memenuhi tempat parkir di dalam dan di luar kompleks gereja. Orang berjubel datang berdoa di depan candi Hati Kudus Yesus dan menimba air suci dari sendang yang sudah di buat keran-keran air yang berjejer di sisi kiri candi.

Jatiningsih
Kamis 31 Desember 2015, saya bersama keluarga ziarah lagi ke Gua Maria Jatiningsih, Godean, Seleman. Lokasi ini relatif lebih dekat dibanding Gereja Ganjuran. Hanya sekitar 8 kilometer. Letaknya agak masuk ke dalam dan berada di tebing. Di bawahnya mengalir Kali Progo. Deru aliran air dari sungai itu membuat suasana di gua ini syahdu. Di bawah pohon-pohon yang rindang dan teduh, umat duduk di atas kursi-kecil atau “dingklek” menghadap Bunda Maria.

Di sini, saya juga bersimpuh. Ujudnya, sama dengan yang disampaikan di Gereja Ganjuran kemarin. Tapi setelah rosario lima peristiwa, saya ajak anak dan istri berdoa di depan Salib Yesus di samping kiri gua. Di sana, sambil bergandengan tangan, kami mendoakan para imam, terutama adik saya Pater Florianus Jaling SVD dan kenalan imam kami lainnya agar mereka setia dan tekun dalam panggilan. Saya sebut beberapa nama pastor dalam doa itu. Ujud yang terakhir ini kami tutup dengan doa satu kali Bapa Kami dan tiga kali Salam Maria.

Setelah doa, kami kembali ke Yogyakarta. Sempat mampir makan di rumah makan Sambel Ayah di Jalan Godean yang murah meriah, Rp 10.000/porsi untuk menu nasi, ayam goreng, sayur toge, tahu lempeng dua potong plus sambel. Dari sini kami kembali ke rumah sambil menunggu datangnya malam pergantian tahun.

Pergantian tahun kami isi dengan sederhana. Hingga pukul 24.00, yang bertahan cuma saya, istri, dan anak kedua saya. Si sulung sudah tidur duluan. Kami hanya doa singkat sebelum keluar rumah menyaksikan kembang api yang menghiasi langit Yogyakarta. Kami memutuskan tidak ke mana-mana karena khawatir terjebak macet dan takut anak-anak rewel.

Menjelang 2016 ini, saya tidak buat resolusi macam-macam. Kiranya ujud dalam doa-doa tadi menjadi resolusi kecil yang disampaikan di penghujung tahun lama dan menjelang datangnya tahun baru. (Alex Madji)