Menyalakan Lentera Kegelisahan

Menyalakan Lentera Kegelisahan

9321
SHARE

Beberapa bulan terakhir, saya hidup tanpa gagasan. Tak ada proses pencerapan dan pemaknaan atas sejumlah peristiwa. Dialog batin juga tak berjalan. Proses kembali ke dalam diri juga alpa. Akibatnya serpihan-serpihan peristiwa terlewatkan begitu saja tanpa proses abstraksi. Mereka lewat sebagai peristiwa saja. Tak kurang, tak lebih. Padahal, kata orang bijak, setiap kejadian selalu memiliki makna di baliknya. Maka hidup ini bak berjalan dalam ruang hampa.

Keadaan yang demikian membuat kreativitas menulis pun mati. Tulis menulis memang tetap berjalan saban hari. Tetapi dia berfungsi seperti mesin industri yang terus berputar demi memenuhi target produksi, saking menjadi sebuah kebiasaan dan rutinitas. Tiada rasa dan warna. Tanpa bumbu yang menjadi penyedap sebuah uraian. Tanpa gincu yang membuat untaian kata menjadi indah dan cantik. Tulis menulis seperti itu terasa monoton, kaku, dan hambar. Jauh dari variasi.

Entah penyebabnya apa. Waktu luang cukup. Fasilitas tersedia. Yang meredup adalah kegelisahan. Padahal kegelisahan ini menjadi roh dan pemantik yang membakar semangat untuk melakukan apa saja yang baik dan benar, termasuk dalam dunia tulis menulis.

Kegelisahan sesungguhnya bagaikan lentera dan pelita di malam gelap pekat. Ketika minyak dan sumbu tersedia dalam jumlah yang cukup, maka lentara itu menjadi sangat berarti dan berguna karena bisa menerangi wilayah sekitarnya. Sebaliknya bila kehabisan minyak dan sumbu juga memendek maka cahayanya meredup.

Pada saat seperti ini, tidak ada cara, selain menambah minyak dan mengganti sumbu agar lentera itu tetap nyala dan terus bermakna. Tanpa itu, maka sesaat lagi lentera itu akan padam. Ketika padam, lentera tersebut akan kehilangan makna dan tidak berarti apa-apa lagi. Dia menjadi barang rongsokan yang harus segera dibuang ke kotak sampah.

Begitupun kegelisahan. Kalau kegelisahan itu tiada maka segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita akan berlalu begitu saja. Mereka menjadi fakta yang terlempar tanpa ada proses pemaknaan dan penyaringan. Hidup tanpa kegelisahan membuat manusia menjadi robot. Berjalan ke sana kemari, makan minum dan segalanya hanya karena masih bisa bernafas. Tetapi hidup seperti itu sesungguhnya tanpa makna atau menjadi mayat hidup karena itu tadi, tidak ada kegelisahan di dan dari dalam diri.

Kegelisahan mendorong orang untuk selalu mempertanyakan tentang apa saja dan meragukan segala sesuatu bahkan meragukan keberadaan Tuhan sekalipun. Hanya dengan begitu dia akan mencari dan terus mencari untuk mendapatkan kebenaran yang sepasti-pastinya dan sebenar-benarnya.

Dalam dunia tulis menulis, kegelisahan akan melahirkan kreativitas menulis. Merangkai kata tentang apa saja. Tentang rentetan peristiwa di sekitar kita, baik peristiwa alam, peristiwa politik, peristiwa sosial, maupun “peristiwa” verbal untuk mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya. Disertai bumbu yang pas dan tidak berlebih serta gincu yang sesuai, maka hasil tulis menulis yang terdorong oleh kegelisahan itu akan menjadi indah. Atau meminjam tagline sebuah media, dia akan enak dibaca dan perlu.

Maka, inilah saatnya untuk menyalakan kembali lentera dan pelita kegelisahan yang sudah meredup itu. Mengisi minyak yang penuh dan sumbu yang panjang agar dia melahirkan kreativitas menulis yang indah, enak dan perlu. Syukur-syukur bisa mengungkap kebenaran sesungguhnya dan mengubah dunia hahahahaha. (Alex Madji)

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY