Home Inspirasi Merasakan Changi di Soetta

Merasakan Changi di Soetta

366
0
SHARE



Minggu, 8 Januari 2011, saya mengantar adik ipar ke Terminal tiga Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta (Soetta). Dia bersama suami dan anaknya pulang ke Yogyakarta setelah hampir satu bulan berada di Jakarta.

Memasuki terminal tiga, ada pemandangan yang berbeda dibandingkan terminal satu dan dua. Terminal tiga berbeda dengan terminal satu dan dua yang kumuh dan terasa sumpek. Berada di terminal tiga, serasa sedang berada di Bandara Changi Singapura. Meskipun masih kalah jauh dari bandara tersebut. Tetapi paling tidak ada sedikit kemiripan dan ada nuansa Changi.

Memasuki halaman parkir, suasanya teduh. Pohon-pohon trembesi memayungi mobil-mobil yang diparkir di bawahnya. Tempat parkir pun bersih, jauh dari para pedagang kaki lima seperti yang ada di parkiran terminal satu dan dua. Mobil dan para sopir terlindungi dari teriknya panas matahari. Suasana teduh seperti ini juga tidak ditemukan di bandara satu dan dua yang kering gersang.

Parkirannya juga tertata rapih. Tidak ada taksi, apalagi ojek motor yang berkeliaran bebas seperti di terminal satu dan dua yang walaupun sudah ditertibkan, tetap saja ambur adul.

Memasuki ruang pengunjung dan pengantar, para tamu disambut dengan ruang yang lega. Cukup Bersih. Pada masa natal seperti ini, pohon natal dan patung Sinter Klas masih nangkring di sana. Lebih dari itu kita merasa seperti sedang berada di mal. Padahal berada di terminal satu dan dua, rasanya seperti berada di pasar inpres. Pengap karena penuh asap rokok dan kotor.

Naik ke lantai dua terminal tiga, kita disambut toko yang diominasi Batik Keris dan tempat-tampat makan minum di sisi kiri dan kanan lorong yang lebar dan lega. Sementara di ujung sana, ada pintu masuk untuk boarding internasional dan domestik. Sambil menunggu jadwal boarding, para pengantar bisa duduk-duduk di sofa yang tersedia. Atau duduk sambil ngopi-ngopi atau sekedar menikmati bakso Ino atau berbagai jenis jajanan lainnya di sana.

Sementara di lantai bawah tadi, ada Bakmi Gajah Mada yang satu porsi mie goreng seharga hampir Rp 50.000. Masih ada Jacko Donuts. Jadi, setelah keluar dari ruangan check in, sebelum boarding, Anda masih bisa bercengkrama yang mengantar dengan keluarga di tempat-tempat makan seperti itu sambil menunggu waktu boarding.

Tidak seperti di terminal satu dan dua yang kalau sudah boarding, Anda dan keluarga yang mengantar terpisah. Atau, kalau mau masih bercengkerama dengan keluarga harus keluar lagi dan nanti masuk lagi melewati prosedur pemeriksaan. Ribet dan pasti akan tergopoh-gopoh karena jarak dari tempat check in ke ruang tunggu sangat jauh.

Alangkah bagusnya kalau seluruh terminal internasional Soetta seperti Terminal III ini yang sekarang baru dihuni AirAsia. Selain disain yang minimalis dan hemat energi karena cahaya dari luar begitu terang, juga kebersihan yang terjaga, tertib dan (seharusnya) bebas rokok. Kendaraan juga diparkir dengan rapi di tempat yang layak, teduh, dan aman, seperti di Changi, Singapura. Dengan begitu, Bandara Soetta layak disebut bandara internasional. Bukan seperti pasar inpres sebagaimana keadaannya sekarang ini. (Alex Madji)