Home Inspirasi Merdeka!

Merdeka!

537
0
SHARE



Hari ini, 17 Agustus 2011 adalah hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-66. Pekik kemerdekaan dengan nada lantang dan sayup-sayup terdengar di mana-mana.

Tetapi apakah kita sungguh merdeka? Merdeka dari penjajahan Belanda dan Jepang, iya. Itu terjadi 66 tahun silam ketika proklamator Soekarno dan Mohammad Hatta menyatakan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sementara merdeka dalam arti bebas dari segala belenggu yang mencekik, belum.

Simaklah kesaksian beberapa orang berikut ini. Ibu Maria, seorang ibu rumah tangga di Tangerang Selatan, merasa belum merdeka. Sebab, harga-harga kebutuhan pokok masih melonjak tajam. Ini saja sudah mencekik leher.

Ibu yang juga karyawati di sebuah perusahan swaswa ini mengaku belum merdeka karena masih “dijajah” atasannya di kantor. “Saya merdeka kalau sudah bisa bebas dari tekanan kantor dan mendirikan usaha sendiri,” ucapnya.

Seorang jurnalis dari Kalimantan Barat lain lagi. Dalam nada puitis, pada sebuah mailing list mengatakan bahwa merdeka hanya bagi mereka yang belagu dan begundal. Karena mereka sudah membajak kemerdekaan bangsa ini hanya untuk kepentingan mereka dan kelompok serta golongannya, lantas menjajah rakyat jelata. Mereka merdeka karena bebas menghisap darah rakyat hingga sengsara.

Jurnalis lainnya, pada mailing list yang sama, juga dengan nada puitis ala sastrawan menulis, “Merah kita belum cukup berani untuk mengatakan tidak pada korupsi. Putih kita belum cukup suci untuk berbagi.”

Maklum, korupsi pada masa kemerdekaan ini masih saja meraja lela dengan modus dan cara yang makin mutakhir dari hari ke hari. Pencurian uang rakyat oleh para elit makin marak. Sementara rakyat jelata terus tercekik akibat tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya.

Nani, pembantu rumah tangga, juga mengaku belum merdeka. Pasalnya, undang-undang tentang pembantu rumah tangga saja belum ada. Kalaupun rancangannya ada, tidak menjadi prioritas mereka yang menyebut diri wakil rakyat.

Yah, makna merdeka para elite berbeda dengan rakyat kecil. Rakyat kecil merasa berjuang hidup sendiri. Bepeluh keringat mereka bekerja dan tekun membayar pajak untuk negara. Sementara para elite berpesta pora mengeruk uang rakyat dengan laku korupsi. Bahkan rakyat dibawa-bawa untuk mencuri uang rakyat biar pencurian itu “legitimate”.

Kini saatnya para elite berhenti mencuri uang rakyat dan memanfaatkan pajak rakyat untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan. Hanya dengan itu mereka boleh dengan lantang memekikkan merdeka! Kalau tidak, jangan kita bilang sudah merdeka. (Alex Madji)