Merencanakan Liburan Akhir Pekan Itu Ternyata Sangat Penting

Merencanakan Liburan Akhir Pekan Itu Ternyata Sangat Penting

188
SHARE

Belum lama ini, saya membaca blog teman tentang bagaimana merancang liburan akhir pekan bersama keluarga tercinta. Sebenarnya, artikel serupa sudah banyak tersebar di berbagai media, termasuk di sejumlah blog. Tapi, baru kali ini saya ngeh dan ternyata apa yang mereka tulis benar adanya.

Saya punya kisah kecil dan konyol tentang keinginan berlibur akhir pekan atau pas hari libur nasional, tapi harus gagal karena tidak ada perencanaan yang matang. Diputus seketika dan langsung berangkat. Akhirnya, semua berantakan.

Ceritanya begini. Rabu 20 September 2017 malam, menjelang liburan Idul Adha, 21 September 2017, kami tiba-tiba ingin melipir ke Bogor sejenak. Ingin menikmati suasana lain bersama adik yang akan segera kembali ke tempat tugasnya di luar negeri. Nyonya yang juga sudah penat pikirannya langsung bertindak dengan menghubungi hotel di kota hujan tersebut. Kamar hotel yang dibutuhkan masih tersedia.

Namun, kami berencana berangkat jam 22.00 WIB karena saya masih harus latihan koor lingkungan. Ini kegiatan yang, entah kenapa, susah ditinggal. Sebelum berangkat latihan, semua pakaian sudah dikemas. Termasuk sebotol wine dari benua seberang yang rencananya akan menemani dinginnya malam.

Sepulang latihan koor, kami naik mobil. Enrique, anak bungsu saya, diminta pimpin doa sebelum jalan. Doanya bagus untuk ukuran anak SD kelas II. Spontan dan singkat dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam bayangan, perjalanan malam itu akan menyenangkan, bakal lancar, tanpa hambatan karena sudah tengah malam. Anak-anak pun sudah membayangkan berenang di kolam renang hotel besok pagi, meski kaca mata renang lupa dibawa.

Balik Kanan

Danau Beratan Bedugul (Sumber Foto: Aneka Tempat Wisata)

Tapi baru sampai Pondok Indah tol JORR (Jakarta Outer Ring Road), jalanan sudah padat. Kecepatan kendaraan hanya 20-30 KM/jam. Hujan pula. Istri sudah mengusulkan untuk putar balik, tapi anak-anak protes. Sebagai pengemudi, saya terus melanjutkan perjalanan. Hitungan saya, dengan kecepatan seperti itu, jam 12 atau jam 01.00 dini hari akan tiba di tempat tujuan.

Terbuai semburan angin pendingin, anak-anak mulai kantuk dan tertidur. Namun, laju kendaraan makin pelan. Puncaknya, ketika hendak belok ke tol Jagorawi, kendaraan tidak bergerak. Jam sudah hampir menunjukkan pukul 24.00. Akhirnya, kami (minus anak-anak) mengambil keputusan untuk betul-betul balik kanan. Begitu melihat jalur tol dalam kota kosong, saya belok kiri, menempuh tol arah Bandara yang kosong untuk seterusnya ke tol Jakarta-Merak, sementara arah sebaliknya yang ke Cikampek dan Jagorawi tak bergerak.

Perjalanan pulang ke rumah malam itu berjalan lancar tanpa kemacetan sedikit pun dan akhirnya tiba kembali di rumah hampir pukul 01.00. Begitu mobil berhenti dan anak-anak dibangunkan, betapa kagetnya mereka karena kembali ke rumah. Imajinasi bahwa mereka akan berenang di hotel besok pagi berantakan. “Kok kita kembali ke rumah? Kan tadi kita ke Bogor,” tanya si sulung dengan setengah mengantuk.

Kami mencoba menjelaskan situasinya. Namun, ia tetap protes dengan menangis tersedu-sedu di tempat tidur karena rencana rekreasi mendadak ini batal. Saya harus bekerja keras untuk meminta maaf kepadanya atas kegagalan tersebut. Saya juga tidak enak hati dengan adik saya yang akan segera kembali ke tempat tugas karena rencana ini berantakan. Apa mau dikata. Nasi sudah menjadi bubur, rekreasi batal.

Pesannya, ya, sama seperti pesan para bloger sebagaimana ditulis oleh teman saya dalam blognya ini supaya persiapkan rencana liburan Anda dengan matang dan dilakukan sejak jauh-jauh hari. Jangan mendadak seperti yang kami kerjakan.

Dengan perencanaan yang matang, selain anggarannya juga disiapkan dengan baik, juga tidak ada yang kecewa seperti yang dialami anak saya. Semoga, pengalaman buruk kami tidak menimpa Anda. Asalkan, Anda betul-betul merancang liburan akhir pekannya dengan matang. Kami juga harus belajar dari pengalaman ini untuk rekreasi-rekreasi berikutnya, bila ada dana lebih, sehingga tidak terulang. (Alex Madji)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY