Nenek-Nenek Belajar Jurnalistik

    325
    0
    SHARE
    Peserta serius menyimak bahan yang diberikan pada kursus singkat jurnalistik di Gedung Shekinah, Jakarta, Sabtu 7 April 2018. (Foto: Ciarciar.com)

    Sabtu, 7 April 2018, saya mengisi satu sesi “Kursus Singkat Jurnalistik” yang diselenggarakan Majalah Rohani Katolik SHALOM di Jakarta Pusat. Saya diminta membawakan tema “Menulis Berita dan Renungan”.

    Namun, saya tidak ingin menceritakan bahan yang saya bawakan. Juga bukan isi tema lain yang disajikan pemimpin redaksi SHALOM, Emanuel Dapa Loka. Saya mau berkisah tentang peserta kursus tersebut.

    Dari sekitar 30 orang yang mengikuti kegiatan ini, ada yang masih remaja, orang muda, ada pula yang paruh baya. Beberapa sudah berumur. Bahkan masuk kategori kakek nenek. Dari sudut usia, mereka sangat heterogen, tapi homogen dalam hal keingintahuan tentang bagaimana bisa menulis. Hal itu terlihat dari antusiasme yang begitu tinggi. Juga sangat aktif. Tidak mengantuk sepanjang kursus berlangsung. Padahal, kegiatan ini diadakan pada jam-jam berat, pukul 13.00-17.00. Waktunya untuk BBS alias bobo-bobo siang. Keaktifan mereka juga ditunjukkan dengan keseringan bertanya.

    Ada satu peserta yang datang bersama putri dan cucu laki-lakinya yang sudah dewasa. Namanya, Luciana Saragih. Setelah acara, saya dan Eman memanggilnya, opung. Ia termasuk yang banyak bertanya. Setiap diberi kesempatan di akhir sub tema, ia selalu angkat tangan. Macam-macam hal yang ditanyakan. Mulai dari soal pemilihan narasumber berita, bagaimana media lain bisa menjadi sumber renungan tertulisnya untuk kemudian dibagikan ke orang, sampai bagaimana ia bisa mengirim tulisan ke media.

    Di awal sesi, ia bercerita bahwa ia sering melakukan pelayanan di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kebetulan juga menantunya berasal dari sana. Tepatnya Maumere. Lalu bertanya, apakah yang dilakukakannya itu bisa menjadi bahan berita. Saya bilang, sangat bisa. Apalagi kalau menemukan fakta bahwa di sana masih ada begitu banyak anak yang mengalami busung lapar. Fakta tersebut sudah menjadi berita.

    Aktivitas dalam kursus singkat jurnalistik di Gedung Shekinah, Jakarta, Sabtu, 7 April 2018 (Foto: Eman Dapa Loka)

    Satu peserta lainnya, seorang pria yang juga sudah berumur dan masuk kategori kakek, tidak kalah aktifnya. Saat saya sampaikan, “Ketika menulis berita, kita menggunakan rumus piramida terbalik. Yang penting-penting ditempatkan di atas, diikuti data-data/fakta pendukung dan kutipan, data-data tambahan. Paling akhir adalah hal-hal yang tidak terlalu penting.” Si bapak tadi malah bilang, “Kalau saya, kesimpulan dari sebuah pertemuan, misalnya, saya taruh paling bawah. Nama-nama peserta ditempatkan di bawah teras berita.” Terjadi sedikit debat yang berujung pada derai tawa peserta lain.

    Beberapa peserta yang lebih muda juga tidak kalah aktif seperti Mas Thomas dari Paroki Matraman. Banyak hal yang mereka ajukan, seperti bagaimana membuat kutipan dan soal penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Intinya, ya mereka, terutama para lansia itu sangat antusias dan aktif.

    Malah beberapa orang muda, termasuk cucu si opung yang duduk dekat pintu, hanya menjadi pendengar setia. Memang tidak mengantuk, tetapi juga tidak mengajukan pertanyaan seperti neneknya.

    Idealnya, orang-orang muda lebih gesit dan ingin tahu lebih banyak dari orang tua, seperti si Opung dan kakek tadi. Jangan sampai anak-anak muda kalah dari mereka dalam mempelajari sesuatu yang baru, termasuk dalam dunia tulis menulis, termasuk jurnalistik. (Alex Madji)