Home Umum Nikah Yuk…

Nikah Yuk…

1153
0
SHARE
Foto: Istimewa

Sabtu, 4 Juni 2016 lalu, teman lama saya baru menikah. Usianya se-saya. Kepala empat. Semula, saya mengira kawan ini takkan menikah karena sudah terlambat. Tapi fakta berkata lain. Ia mengakhiri masa lajang setelah teman-temannya rata-rata sudah memiliki dua anak. Termasuk saya.

Momen pernikahan ini lalu menjadi ajang reuni teman-teman yang pernah sama-sama guyup dalam sebuah kelompok koor di Jakarta. Beberapa di antara kami, termasuk saya, ikut bernyanyi pada pernikahan teman itu. Pikiran saya lalu terbang jauh ke masa silam saat hampir pada setiap hari Sabtu dan Minggu kami mengiringi pernikahan orang dengan atau tanpa bayaran. Happy.

Pada resepsi malam harinya, beberapa teman lama dari kelompok yang sama juga hadir. Kami bernostalgia. Pengalaman-pengalaman “gila” tahun 2000-an seakan hidup kembali. Semua tenggelam dalam gelak tawa. Kami bahagia bersama teman yang baru menemukan tulang rusuknya dalam usia hampir setengah abad.

Namun setelah itu, tiba-tiba pikiran saya melayang ke teman lain yang mengakhiri kehidupan rumah tangganya beberapa tahun silam. Alasannya macam-macam. Tapi dari sekian banyak alasan itu, saya menyimpulkan bahwa mereka tidak cukup rendah hati satu sama lain. Mereka tidak mau saling memaafkan. Tidak ingin saling memahami. Inginnya dipahami.

Mereka tidak mau berkompromi dengan pasangannya. Maunya menang sendiri. Setiap masalah muncul, meski kecil, selalu berakhir dengan percekcokan. Maka, dari pada hidup dalam satu atap dengan kondisi seperti itu, lebih baik tinggal terpisah. Sepintas, ini sebuah jalan keluar. Tapi senyatanya bukan. Justru pilihan ini menimbulkan masalah baru. Terutama soal bagaimana mengurus dan memelihara hubungan dan ikatan batin dengan anak.

Halah…, saya kok malah berkhotbah. Intinya, ya itu tadi. Karibku ini memilih pisah. Padahal, kalau mereka mau sedikit rendah hati untuk saling mendengar dan melakukan apa yang baik dan bagus bagi kehidupan rumah tangga mereka, saya yakin masalah-masalah itu bisa teratasi. Hanya mau atau tidak. Tapi, kita tinggalkan persoalan teman ini. Sebab kita bicara pun juga tak menyelesaikan masalah mereka.

Karib saya yang lain, cewek cantik belum menikah. Umurnya sudah cukup. Secara ekonomi sangat mapan. Punya pacar dengan rentang usia yang lumayan. Juga sangat-sangat mapan. Tapi keduanya sama-sama belum berani mengambil keputusan untuk segera meresmikan hubungan mereka. Sahabat saya ini khawatir terus. Pertanyaan dasarnya, apakah dengan menikah ia akan bahagia.

Saya pernah balik bertanya dengan pertanyaan yang sama kepada dia. Jawabannya, ia yakin akan bahagia. Seketika itu juga saya mengusulkan kepadanya untuk segera menikahi kekasihnya. Sebab kebahagiaan itulah yang kita kejar di dunia ini. Tapi ia masih dilingkupi rasa kekhawatiran lain. Terutama karena keduanya beda agama. Ia takut kehilangan imannya. Sebab sang pacar tidak mau menikah secara agama karib saya ini. Apalagi mengikut agamanya.

Sahabat saya juga tidak mau mengorbankan imannya hanya untuk menikah dengan pujaan hatinya dan menuruti agama sang kekasih. Ia cukup fanatik, batin saya. “Lebih baik saya tidak menikah daripada kehilangan kebahagiaan kekal. Saya sudah berjuang menjalani agama saya sejak dibabtis dewasa. Masa, saya mengorbankannya hanya untuk kebahagiaan di dunia ini,” ujarnya sengit.

Padahal, saya mengusulkan ia tetap menikahi kekasihnya tanpa harus kehilangan iman. Gereja cukup “bermurah hati” dengan memberikan dispensasi untuk menikah beda gereja dan beda agama. Tentu dengan sejumlah syarat tertulis. Asalkan ia bisa memastikan bahwa pernikahan itu akan membahagiakannya. Ia menolak usulan saya tersebut. Saya dicapnya sebagai penyebar ajaran sesat.

Di ujung percakapan kami sama-sama terbahak. Saya membatin, mungkin teman ini memang bahagia dalam kesendiriannya. Dan semoga sahabat saya yang baru saja menikah bahagia dengan pernikahannya sambil belajar dari sahabat lain tadi yang perkawinannya melewati onak dan duri. (Alex Madji)