Home Buku Nilai Plus Budiman Sudjatmiko

Nilai Plus Budiman Sudjatmiko

1880
0
SHARE
Buku "Anak-Anak Revolusi" karya Budiman Sudjatmiko (Foto: Ciarciar)

Budiman Sudjatmiko pernah menjadi “bintang”, setelah meletus peristiwa 27 Juli 1996 di Jakarta. Peristiwa ini kemudian mengatarnya ke balik jeruji penjara. Dia dituduh sebagai kambing hitam kerusuhan perebutan kantor PDI di Jl Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat. Setelah reformasi, nama Budiman tenggelam dan baru muncul lagi ketika masuk parlemen dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Pada akhir 2013, nama ini baru menjadi “heboh” kembali karena menulis buku “Anak-anak Revolusi” terbitan Gramedia Pustaka Utama. Disebut Heboh karena buku ini lalu menjadi best seller.

Buku ini sesungguhnya otobiografi yang dikemas dalam bentuk novel. Sehingga meski setebal lebih dari 400 halaman, dia tetap enak dibaca dan tidak perlu mengernyitkan dahi untuk memahaminya . Anda juga tidak perlu butuh waktu banyak untuk menyelesaikannya. Sangat ringan. Meski demikian, kesan ilmiahnya ada karena terdapat cukup banyak catatan kaki.

Membaca buku ini membuat saya terkagum-kagum pada tokoh utamanya yaitu Budiman Sudjatmiko. Sama kagumnya saya pada tokoh revolusioner Kuba asal Argentina, Che Guevara. Mahasiswa kedokteran di sebuah perguruan tinggi Argentina itu mengalami kegelisahan di negaranya sehingga dia berkelana hingga terdampar di Kuba dan ikut berjuang bersama Fidel Castro di negara itu. Mereka akhirnya sukses menggulingkan pemerintahan otoriter.

Mengapa saya kagum pada Budiman? Karena ternyata dia dilahirkan menjadi orang yang terus gelisah. Gelisah akan ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya. Hebatnya, kegelisahan ini sudah ada dan hidup sejak masih kanak-kanak. Kegelisahan ini kemudian melahirkan hasrat “memberontak” dari dalam untuk mengubah keadaan, bagaikan magma yang harus segera dimuntahkan dari perut bumi.

Bakat ini sudah mewujud ketika dia masih duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Bogor, Jawa Barat. Gara-gara aktivitas “bawa tanah”-nya, dia harus berurusan dengan pihak berwajib dan cukup memusingkan orang tuanya. Bakat ini semakin menjadi-jadi ketika mengenyam pendidikan SMA di Yogyakarta dan kemudian kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM). Gara-gara ingin memperjuangkan keadilan, demokrasi, serta kebebasan berserikat dan berkumpul, dia terpaksa meninggalkan kuliah formal di UGM hanya setelah satu tahun berjalan. Dia lebih memilih “kuliah” bersama petani, buruh, dan masyarakat tertindas di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Jatuh Cinta di Penjara
Keterlibatan dan pemberdayaan masyarakat terpinggirkan inilah yang membuatnya sering kali berurusan dengan aparat keamanan dan bahkan pernah disiksa ketika berhasil ditangkap tentara di Surabaya saat hendak mengorganisir petani yang mengalami konflik tanah dengan TNI Angkatan Laut di Jawa Timur. Setelah ditangkap mereka disiksa. Mengerikan.

Ketika pemerintah masih membatasi jumlah partai politik, Budiman berani mendirikan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Di tangan dia PRD menjadi begitu hebat dan menggetarkan penguasa Orde Baru. Tetapi karena ini pula dia harus mendekam di penjara. Partai diberangus, Budiman dan kawan-kawan ditangkap, diadili, dan ditahan.

Setelah angin reformasi, sesuatu yang diperjuangkan Budiman sejak lama, Budiman dan kawan-kawan pun dibebaskan Presiden BJ Habibie, yang meneruskan Pemerintahan Presiden Soeharto ketika itu, karena mereka termasuk kategori tahanan politik. Setelah menghirup udara bebas, Budiman yang berasal dari keluarga kelas menengah atas itu menempuh pendidikan formal di Inggris. Bersamaan dengan itu namanya pun sayup-sayup terdengar.

Kesan lain yang sangat kuat dari buku ini adalah bahwa Budiman seorang kutu buku. Sejak kecil dia sudah melahap buku-buku berat. Buku-buku yang belum cocok untuk anak seusianya dilahap habis. Kebiasaan itu terpelihara hingga masuk penjara dan kini. Dia pencinta buku tulen dan memiliki referensi buku yang sangat hebat dan kuat. Hal itu terlihat dalam buku tersebut.

Gara-gara tekun membaca ini pula, Budiman sampai lupa atau bahkan tidak tahu pacaran. Ketika anak-anak seusianya asyik dengan “kisah kasih di sekolah”, Budiman asyik dengan dunianya sendiri yakni dunia buku, diskusi, dan gerakan. Budiman baru mengalami jatuh cinta dan mengungkapkan cintanya ketika di penjara pada usia 27 tahun. Dia jatuh cinta pada seorang relawan kemanusiaan yang rutin menghadiri persidangannya dan mengunjunginya di penjara. Untung, cinta ini tidak bertepuk sebelah tangan. Si gadis Katolik yang pada hari ulang tahunnya dihadiahi rosario oleh Budiman itu mau menerima cintanya. Bagian ini pun termasuk dalam kehebatan seorang Budiman Sudjatmiko.

Kata-kata kunci dalam perjuangan Budiman Sudjatmiko adalah selalu memiliki kegelisahan, fokus dan konsisten pada pilihannya sejak masih kanak-kanak. Dia juga yakin pada nilai-nilai yang menurutnya baik dan benar, dan karena itu dianut. Dia memperjuangkan nilai-nilai itu dengan mengorbankan segalanya, termasuk masa depannya sekalipun, termasuk soal kenikmatan cinta tadi. (Alex Madji)