Home Gagasan Orde Baru Jilid Dua

Orde Baru Jilid Dua

989
SHARE
Capres Partai Gerindra, Prabowo Subianto (Foto: Tempo.com)

Senin, 5 Mei 2014, Aburizal Bakrie alias Ical bertandang ke kediaman Prabowo Subianto di Sentul, Bogor, Jawa Barat. Tidak main-main, Ical datang dengan helikopter memperlihatkan kelasnya sebagai orang kaya. Borjuis. Dilengkapi pula dengan penerimaan di sebuah hunian eksklusif yang bak istana kerajaan tempo dulu.

Sebelum dan sesudah kunjungan ini, media ramai memberitakan bahwa Prabowo akan diduetkan dengan Ical pada pemilu presiden dan wakil presiden (pilpres) 9 Juli mendatang, meski kedua tokoh itu menegaskan belum ada kesepakatan. Partai Gerindra yang menurut hitung cepat berbagai lembaga survei hanya meraih 12 persen suara pemilu legislatif menyodorkan Prabowo sebagai calon presiden (capres), sedangkan Golkar yang meraih 15 persen suara hanya menempatkan Ical sebagai calon wakil presiden (cawapres).

Tetapi bukan konstelasi koalisi itu yang ingin saya mau katakan. Saya hanya ingin mengungkapkan bahwa dengan bergabungnya Golkar dengan Gerindra/Prabowo maka sempurnalah kekuatan Orde Baru berkumpul pada satu kutub pada Pilpres nanti dan siap-siap merebut kembali kekuasaan. Mereka akan melawan kekuatan reformis yang diwakili PDI Perjuangan dengan capres Joko Widodo atau Jokowi

Disebut demikian karena Golkar adalah mesin politik utama Orde Baru. Golkar yang dikendalikan Soeharto menjadi instrumen politik guna melanggengkan kekuasaan otoritarian Soeharto selama 32 tahun berkuasa.

Adapun Prabowo adalah salah satu jenderal yang paling dekat dengan Seoharto. Dia adalah mantan menantu sang jenderal bintang lima itu. Sebagai menantu, karier militernya pun melejit tajam meninggalkan teman-teman seangkatannya dan menempati posisi kunci mulai Danjen Kopassus hingga Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

Ciri utama kekuasaan Orde Baru adalah otoritarian, korupsi, kolusi, dan nepotisme. Siapa yang melawan pemerintah dihabisi dengan cara apa pun. Maka menjelang akhir-akhir kekuasaan Soeharto, Prabowo adalah pembela Soeharto nomor wahid. Selain karena menantu juga karena posisinya di militer Indonesia.

Kasus penculikan pada periode 1997-1998 adalah program menghabiskan kelompok-kelompok yang merongrong kekuasaan Soeharto yang ingin menjadi presiden seumur hidup. Prabowo adalah pelaku utama penculikan para aktivis itu, yang hingga saat ini 12 di antaranya belum diketahui nasibnya. Karena kasus ini pula dia dipecat dari dinas milter.

Tetapi sebelum itu, setelah mertuanya akhirnya lengser ke prabon, Prabowo memperlihatkan syahwat kekuasannya yang sangat tinggi.  Tak lama setelah BJ Habibie diangkat sebagai presiden, Prabowo mau melakukan kudeta militer. Prabowo yang ketika itu sebagai Pangkostrad sudah menempatkan pasukan dan peralatan berat militer di Monumen Nasional (Monas) dengan moncong senjata diarahkan ke Istana, kantor Habibie. Upaya kudeta Habibie berhasil diredam antara lain oleh Sintong Pandjaitan dan niat jahat itu tak sampai terwujud. Maka sejarah Indonesia yang tidak pernah melakukan kudeta militer pun terjaga keperawanannya.

Nafsu kekuasaan itu belum juga padam hingga saat ini. Bedanya, sekarang dibungkus dengan sarung demokrasi melalui pemilu. Tetapi melihat performa Prabowo selama kampanye pemilu legislatif 2014, terkesan kuat karakter Prabowo sebagai seorang pensiunan jenderal tulen. Dia tegas dan pemberani. Tetapi pada saat bersamaan, ketegasan dan keberanian itu ditampilkan secara over acting. Akibatnya muncul persepsi, bahkan ketakutan, bahwa Prabowo ini akan menjadi seperti pemimpin Nazi Jerman, Adolf Hitler.

Di media sosial, pernah ada sebuah postingan yang menyejajarkan gaya fasis Adolf Hitler dengan Prabowo. Maka, tidak heran, muncul pula kekhawatiran bahwa bila Prabowo sebagai Presiden maka Indonesia akan kembali ke otoritarianisme Soeharto. Kekhawatiran itu semakin nyata ketika Golkar ingin menyokong Prabowo pada Pilpres nanti. Maka, saudara-saudara bersiaplah menyambut kembali kembalinya kekuatan Orde Baru Jilid II. (Alex Madji)