Home Inspirasi Pada Quantum Itu….

Pada Quantum Itu….

554
0
SHARE

Seorang teman saya, Julius Jera Rema atau yang dikenal dengan inisial JJR menuliskan pengalaman proses penyembuhannya di sebuah mailing list. Sebenarnya secara matematis, seharusnya JJR telah tiada. Tetapi nyawanya terselamatkan oleh seseorang bernama Dokter Heri Soewarno. Itulah mukjizat yang pernah dialami JJR dalam hidupnya. Pengalaman tersebut sudah saya tulis di blog ini.

Tetapi kali ini, JJR sendiri mengisahkan sebuah proses penyembuhannya. Sebuah dialog antara JJR dengan dokter Heri. Atas seijin dia, saya menerbitkan penuturannya tersebut di blog ini.

“Apa yang JJR tahu tentang prinsip dasar terapi (akupuntur) ini,” tanya dokter Heri, suatu ketika. Saya jawab, tidak tahu! Dia melanjutkan, “bagian apa dalam tubuh (badan) kita yang paling kecil?” Saya jawab, “sel!” “Anda adalah orang kesekian ribu yang salah menjawab,” kata dr Heri.

Kata dia, bagian terkecil dalam tubuh bukan sel! Di bawah sel masih ada molekul, di bawah molekul ada atom, di bawahnya ada proton, lalu newton, selanjutnya “quantum”. Newton hingga sel, itu “seeable” alias bisa dilihat, baik dengan mata telanjang juga microskop.

Lalu bagaimana dengan “quantum?” Ini yang menarik!! “Quantum itu mind,” kata dr Heri. Tak bisa dilihat tetapi “ada”. “Lha, apa itu “big master” (sapaan akrab saya untuk dr Heri),” tanya saya.

Begini: (dia justru menggunakan teori bahasa untuk menjelaskan). Dalam teori “semantik segitiga” bahasa, quantum hanya memenuhi prinsip segi dua. Jika “semantik segitiga” mensyaratkan tanda/lambang, konsep, dan referen atau objek, teori ini tidak bisa menjelaskan “quantum”. Sebab, quantum hanya mempunyai unsur tanda (q-u-a-n-t-u-m), serta konsep dalam pikiran yang disepakati sebagai quantum, tetapi tanpa referen. Tidak ada yang bisa dilihat (indra) sebagai referen/objek quantum karena makluk ini memang tidak bisa dilihat. “Dia ada, tapi tiada, tiada tapi ada hahhaha,” dr Heri terbahak, merespon kebingungan saya.

Lalu, apa urusannya dengan terapi ini? Saya balik bertanya. Jarum akupuntur ini dari aluminium, dr Heri mulai menjelaskan. Jenis logam ini bersenyawa dangan atom tubuh kita. Saat ditusuk ke tubuh, dia bertemu atom tubuh dan bersenyawa membentuk molekul tubuh. Molekul lalu bertemu nutrisi makanan, mereka membentuk sel tubuh. Selanjutnya, sel yang rusak dalam tubuh diganti sel baru melalui mekanisme organisme tubuh.

“Nah, tapi kan ada proton dan newton, serta quantum yang di bawah atom itu, kemana mereka? Apakah mereka tidak bersenyawa dengan atom dan molekul tubuh untuk membentuk sel tubuh,” saya lanjut bertanya.

“Pertanyaan bagus, “kata dr Heri. “Begini: prinsip kerja proton dan newton itu dua arah. Pertama, peka (respon) ke atas yakni ke atom, kedua, peka ke bawah yakni ke quantum. Kerja atom seperti yang saya jelaskan tadi. Tapi kerja quantum?? Karena quantum hanya “ada” dari “tiada”, “tiada” tapi “ada” maka saya boleh menyebutnya “mind”. Quantum ada pada “mind”, tetapi “mind” itu mensyaratkan “keyakinan” alias “belief/trust”! Menghadirkan quantum hanya bisa lewat “mind” yang diperkuat “belief”, jelas dr Heri lebih lanjut.

“Apa agamamu,” tanya dr heri. “Saya katolik”. Ya, apakah ada dalam agamamu sesuatu yang tidak kalian lihat tapi kalian percaya memberi pertolongan? saya jawab ada! “Namanya Roh Kudus”, kata saya sekenanya hahahhaaaa.

“Nah, good! Dalam teori terapi ini, saya menyebutnya quantum, dan JJR menyebutnya Roh Kudus. Itu sama, hanya kita menyebutnya berbeda,” kata dokter Heri.

Dia melanjutkan, “Ingat waktu pertama kali saya terapi JJR, saya katakan jarum ini hanya alat, yang menyembuhkan kamu itu “Yang Di Atas”. Karena itu saya minta kamu berdoa.

Secara teknik, jika kita mampu menghadirkan quantum dangan penuh keyakinan, maka bagian tubuh yang paling peka adalah proton dan newton. Keduanya segera merespon dan seketika bersenyawa dengan atom, lalu molekul, lalu sel. Demikian seterusnya.”

“Big master, ajari saya cara efektif menghadirkan quantum,” saya meminta. “Gampang, “kata dia. “Kamu sering-sering meditasi. Cara berdoa ini punya banyak manfaat. Secara spiritual bisa terkait langsung dengan quantum, tetapi secara fisik bisa menjaga keseimbangan psikis dan fisik. Hanya ada dua tempat yang bagus di bumi ini untuk meditasi. Anda ke gunung sekalian atau anda ke tepi pantai. Di dua tempat itu oksigen (o2) sangat bagus, tidak hanya kualitas tapi juga bobotnya.”

“Secara fisik, meditasi mensyaratkan hening. Hening memudahkan respon saraf, baik saraf sadar dalam tubuh maupun saraf tak sadar. Pusat saraf sadar adalah otak, baik otak kiri maupun otak kanan. Orientasi otak kiri (logis, matematis), otak kanan (seni, rasa, intuisi, juga nurani). Quantum dekat dengan otak kanan.”

“Pusat saraf tidak sadar adalah sum-sum tulang belakang. Ada 2 jenis sarah tak sadar yakni saraf simpatetik dan saraf parasimpatetik. Saraf tak sadar ini yangg menggerakkan irama jantung, ginjal, limpah, hati, dll. Secara mekanik, jika ada respon pada otak kanan yang menyenangkan, pesan itu langsung ditangkap saraf parasimpatetik (tak sadar) untuk selanjutnya memberi sinyal pada jantung. Seketika irama jantung lebih pelan, smooth, dan seseorang merasa lebih cool, tentram. Tak heran jika kondisi ini yang diharapkan seseorang dalam mengambil keputusan penting. Jika ini yg terjadi, seseorang itu akan mengatakan,” jelas de Heri panjang lebar.

“Saya bersyukur karena memutuskan sesuatu berdasarkan kata hati, suara hati (nurani),” gumam saya dalam hati. Padahal, secara fisik yang disebut kata hati itu adalah pekerjaan otak kanan. Demikian juga jika pesan dari otak kanan adalah sebaliknya, maka sinyal itu langsung ditangkap saraf simpatetik. Dampaknya otomatis berlawanan dengan parasimpatetik. Kacau, stress, marah marah, dll.

Secara spiritual, meditasi itu jalan masuk menghadirkan quantum (roh kudus). Yang tampak abstrak ini ternyata bisa dijelaskan secara konkrit dalam teori Dokter Heri.

“Jika Anda, melalui “mind” dengan penuh keyakinan mengharapkan quantum agar ada, maka dia ada. Untuk memastikan “ada”nya yang abstrak itu, ternyata bisa secara konkrit dikonfirmasi melalui perpaduan saraf sadar dan saraf tak sadar sekaligus. Ada banyak feel yang bisa dipakai, tetapi yg gampang adalah rasakan irama jantungmu, jika lebih pelan, teratur, dan anda tentram, itu pekerjaan quantum,” kata dr Heri.

Tak heran, jika dr Heri terus berharap saya rajin meditasi. Meski, untuk mencapai keseimbangan seperti yang diharapkan, masih jauh dari ideal. Apalagi, meditasi dengan orientasi luar biasa yakni quantum itu tadi. Itu sungguh sebuah perjuangan yang tak boleh lelah.

Saya bersyukur bisa bertemu dokter budhis ini yang tampak lebih katolik dari saya hahahaa. Saya makin kagum aja hehehee.

Dalam termangu, aku hanya bisa berbisik dalam hati, “akhhh, dr Heri mau suruh saya berdoa aja muternya jauh amat, pake teori atom proton sgala hahahaaa”…..tetapi, kenapa penjelasannya logis dan bisa saya trima?? Lebih dari itu saya adalah orang yang langsung mendapat manfaatnya……??
Terserahlah, hanya Tuhan dan dr Heri yang tau….

Thanks Tuhan, thanks dokter Heri…..

Begitulah penuturan JJR tentang dialognya dengan dr Heri. Atas saran Sang Master, JJR pun rutin bermeditasi di pertapaan Romo Yohanes Indrakusuma di Lembah Karmel Ocarm, Cipanas, Jawa Barat. Penuturan ini pun ditulisanya dari sana, di tengah-tengah keheningan meditasinya, merasakan kuantum yang ada tapi tak nyata. (Alex Madji)

Foto: Julius Jera Rema atau JJR dengan kaca mata hitam yang menjadi ciri khasnya. (Foto: Alex Madji)