Pandai Bersyukur, Inspirasi dari Seorang Sopir Taksi

Pandai Bersyukur, Inspirasi dari Seorang Sopir Taksi

3754
SHARE
Ilustrasi (Foto: Dapurpacu)

Inspirasi tidak hanya berasal dari para motivator hebat. Bukan pula monopoli orang-orang yang sudah sukses. Kadang orang-orang kecil, sekelas sopir taksi, juga menyimpan cerita yang bisa menginspirasi siapa pun. Itulah yang saya alami pada Selasa 10 Desember 2013 lalu.

Hari itu masih pagi buta. Jam 05.00 WIB. Saya harus segera ke Bandara Soekarno Hatta untuk selanjutnya terbang ke Balikpapan, Kalimantan Timur dan seterusnya ke Samarinda dengan perjalanan darat. Malam sebelumnya, saya memesan taksi, tapi “full booked”. Akhirnya, pagi itu saya harus diantar suami adik ipar saya, Benny Andhira, mencari taksi di Graha Raya atau Alam Sutera, Serpong, Tangerang.

Tapi baru tiba di Pasar Segar, Graha Bintaro, Tangerang Selatan, kami lihat taksi Blue Bird sedang mangkal seorang diri. Tak ada yang lain. Kami hampiri. Dikira sedang tidur, ternyata sang sopir taksi baru saja pulang mengantar tamu ke Bandara Soekarno Hatta. Begitu diminta antar kembali ke tujuan yang sama, dia menyanggupi.

Begitu duduk di kursi belakang, pak sopir langsung memperlihatkan keramahannya. Sepanjang jalan tidak pernah berhenti bercerita hingga taksi tiba di tempat tujuan. Dia berkisah tentang hidupnya yang penuh liku dan warna.

Asep. Begitu dia dipanggil. Asalnya dari Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Awalnya, Asep mengikuti program transmigrasi ke Bengkulu. Di sana dia lalu jatuh cinta pada seorang gadis Bengkulu yang kemudian dinikahinya. Setelah menikah, sang istri ternyata lebih suka tinggal di kampung halaman suaminya di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah daripada di Bengkulu. Maka mereka pun hijrah ke Muntilan pada pertengahan 1990-an. Tanah seluas dua hektar di lokasi transmigrasi dilego hanya dengan Rp 3 juta. Di Muntilan, mereka membajak sawah warisan orang tua Asep.

Setelah bekerja beberapa tahun, Asep bisa membeli sebuah mobil “pick up” bekas yang sudah sangat tua seharga Rp 7 juta. Mobil jompo ini dipakainya untuk mengangkut pasir muntahan dari Gunung Merapi. Pekerjaan mengangkut pasir dilakukan bersamaan dengan pekerjaan sebagai petani. Makin lama Asep bisa mengumpulkan uang hingga kemudian mampu membeli colt bekas seharga Rp 30 juta. Mobil ini juga dipakai untuk mengangkut pasir.

Dengan pekerjaan ini, Asep bisa menghidupi keluarganya dan membiayai sekolah keempat orang anaknya. Ya, hidup Asep sekeluarga cukup bahagia untuk ukuran kampungnya.

Tetapi semua itu sirna seketika, saat banjir lahar dingin menyapu kampung halamannya beberapa tahun lalu. Sejumlah kendaraan, termasuk coltnya dan beberapa kendaraan orang lain tersapu. Bahkan banjir yang sama menghancurkan sejumlah rumah. Beruntung, Asep hanya kehilangan mobil.

Bencana ini membuat perekenomian Asep guncang. Hanya mengandalkan bertani untuk menghidupi keempat orang anak dan istrinya, tentu tidak cukup. Dua tahun lalu dia memutuskan hijrah ke Jakarta. Di ibukota yang ganas ini, mula-mula bekerja sebagai kuli penjual soto di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Tapi dia tidak bertahan karena honor hariannya sangat kecil.

Jadi Sopir
Dia kemudian pindah profesi menjadi sopir pribadi. Sayang di sini dia juga hanya sebentar. Majikannya yang berasal dari Yogyakarta sering memarahinya karena selalu salah jalan. “Berangkat dari Bintaro ke tempat kerjanya di Cakung, tiap hari gonta ganti jalan. Ya gimana saya bisa hafal jalan,” tuturnya terkekeh.

Karena tak kuat dimarahi terus menerus, Asep pun meminta mundur. “Saya bilang, daripada saya menyusahkan bapak terus-terusan, lebih baik bapak mencari sopir lain yang lebih berpengalaman. Takutnya, kalau saya bertahan, Bapak malah tambah stress,” ujar dia mengenang kalimat untuk majikannya itu.

Sempat bingung karena tidak ada pekerjaan, suatu hari Asep maen ke BTC alias Bintaro Trade Center di Sektor tujuh. Di sana dia menyaksikan sekelompok sopir taksi Blue Bird sedang bercengkrama sambil minum kopi. “Dalam hati, saya berpikir, sopir taksi itu hebat kali ya. Hidupnya enak. Mereka gendut-gendut. Mereka sukses, pikir saya,” tuturnya.

Dia pun mencoba mendekat dan bertanya, apakah ada lowongan kerja sebagai sopir taksi. Sekelompok sopir tadi memintanya mendekati seorang pria botak dan gemuk yang, katanya, mengurus “seleksi” sopir taksi. Asep pun mendatanginya. “Kamu bisa nyetir,” tanya pria botak itu. “Bisa. Di kampung, jangankan mobil kecil ini, truk besar saja pernah saya bawa,” timpal Asep.

Asep pun disuruh menjalankan taksi yang berada di situ. Untuk tes pertama ini, dia lolos. Tapi, dia kemudian gagal karena tidak menguasai jalan-jalan Jakarta dan sekitarnya. “Tetapi, saya memohon-mohon agar diterima karena saya sangat membutuhkan pekerjaan. Permohonan dan keluh kesah saya itu pun membuahkan hasil. Saya diterima sebagai sopir taksi Blue Bird ini,” kisahnya.

Asep bertekad bekerja dengan sepenuh hati demi istri tercinta dan keempat anaknya. Dalam bekerja, Asep tidak hanya ingin memenuhi target minimal Rp 525.000 per hari. Dia selalu ingin melampaui target ini. Alhasil, dalam sehari Asep rata-rata bisa mengumpulkan Rp 800.000. Dengan penghasilan seperti itu, dia bisa bawa pulang ke rumah Rp 130.000 sampai Rp 150.000. Tetapi Asep tidak ingin bekerja sampai larut malam untuk meraih penghasilan seperti itu. Dia selalu bekerja dari jam 03.00 dini hari dan pulang ke kontrakannya di Bintaro pada pukul 18.00. Tidak pernah lebih. “Jarang saya pulang setelah mencapai target minimal. Meskipun, kalau lagi sepi, kadang memang pulang dengan target minimal. Tapi saya pernah bawa pulang Rp 1 juta, atau Rp 800.000,” lanjutnya bercerita.

Dengan penghasilan rata-rata seperti itu, Asep minimal menghasilkan Rp 2 juta per bulan. Setiap minggu dia mengirim Rp 500.000 ke kampung halamannya untuk membiayai hidup istri dan keempat anaknya. “Anak-anak saya kan butuh bayar uang sekolah, butuh jajan. Jadi sedapat mungkin kirim setiap minggu,” cerita dia lebih lanjut.

Penghasilan lebih di luar Rp 2 juta itu dipakai untuk membayar kontrakan rumah petak sebesar Rp 400.000 per bulan dan makan minum dia setiap hari di perantauan. Sisanya dipakai untuk biaya pulang kampung sekali dalam dua bulan untuk memenuhi rasa kangen dengan keluarganya.

Dari bekerja sebagai sopir taksi, Asep mendapat banyak pelajaran. “Orang selalu bilang, Jakarta itu kejam, orangnya jahat-jahat. Saya kok selalu bertemu dengan orang-orang baik. Tergantung kitanya. Saya selalu bertemu dengan tamu-tamu yang baik,” lanjutnya.

Meski hanya sebagai seorang sopir taksi dengan penghasilan kecil, Asep sangat bersyukur dengan apa yang dia dapat saat ini. Yang dia tidak habis pikir adalah mereka yang tidak pernah bersyukur atas apa yang mereka raih. Padahal, sekecil apa pun yang kita dapat, patut kita syukuri. Begitu pesan Asep. (Alex Madji)

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY