Home Inspirasi Pelajaran Kecil tentang Kemandirian

Pelajaran Kecil tentang Kemandirian

257
SHARE
Sumber foto ilustrasi: Kaskus.co.id)

Saya pulang agak siang, Selasa, 17 April 2018. Sengaja. Sebab, anak-anak mau langsung pulang ke rumah. Bukan ke tempat Tante Rilis seperti hari-hari biasanya. Hari itu, Tante Rilis antar putri semata wayangnya ke sekolah Rock Star di Bintaro Exchange, Bintaro.

Sementara mami tidak bisa menunggu saya sampai rumah. Ada tugas yang tidak bisa ditinggal, sehingga ia harus berangkat lebih pagi ke kantor. Padahal biasanya, kalau Tante Rilis berhalangan, saya dan mami harus gantian menjaga. Ia berangkat ke kantor kalau saya sudah tiba di rumah. Hari ini, kebiasaan tersebut tidak berlaku. Sejak tidak ada asisten rumah tangga, saya dan mami memang sudah terbiasa berbagi tugas dalam semua urusan, termasuk menjaga anak-anak.

Kali ini, kami mau melatih anak-anak mandiri alias belajar tinggal sendiri tanpa ditunggui dan dijaga. Karena itu, sejak kemarin, saya sudah bilang Carrol untuk langsung pulang ke rumah. Buka sendiri gerbang dan pintu. Sesampai di rumah segera kunci pintu dari dalam. Jangan layani tamu siapa pun yang tidak dikenal. Raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan kecemasan. Takut harus mengurus diri sendiri. Sebaliknya Enrique terlihat sumringah. Tanpa beban karena sang kakak harus bertanggung jawab atasnya.

Hari itu, pagi sebelum berangkat sekolah, saya memastikan kunci rumah tidak ketinggalan. Benar, sudah ada dalam saku tas sekolah Carrol. Saat pulang sekolah tiba, mereka diantar Om Eka, yang biasa jemput pulang sekolah, langsung ke rumah pukul 12.30. Sementara saya baru berangkat dari kantor pukul 12.00.

Jam satu lewat lima menit, saya sudah sampai di gerbang kluster. Tidak langsung ke rumah, tapi berhenti sejenak di depan apotek K-24 karena tidak ingin tiba lebih dulu di rumah. Sebab dari kemarin niatnya adalah membiarkan mereka mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Kemudian whatts app mami minta telepon anak-anak untuk memastikan keberadaan mereka. Setelah dipastikan sudah di rumah, saya nyalakan lagi motor dan langsung masuk rumah. Benar. Bocah-bocah sudah di dalam, dan pintu terkunci. Dua kali saya mengetuk sebelum akhirnya dibuka Carrol.

Ujian pertama lulus. Ujian kemandirian bagi anak usia sembilan dan tujuh tahun. Carrol bisa buka pagar dan pintu rumah serta tinggal sendiri. Mengambil makanan juga sendiri. Baju-baju kotor langsung simpan di tempat cucian.

Keesokan harinya, Carrol malah minta saya tidak perlu pulang cepat lagi. Saya menyanggupi. Kebetulan Rabu, 18 April 2018 Tante Rilis membuka kembali “tempat penitipan anak”. Namun, anak-anak tetap diminta pulang ke rumah. Hasilnya, mereka sempat ke rumah tantenya sebelum pulang ke rumah sendiri dan mengulangi aktivitas kemarin. Hanya saja setelah siap buku sekolah, mereka kembali ke rumah tantenya untuk tidur siang.

Lalu Kamis 19 April 2018 adalah hari ketiga mereka ditinggal. Hari ini tantenya kembali menutup “tempat penitipan anak”. Carrol dan Enrique langsung pulang ke rumah. Saya baru pulang dari kantor setelah mereka berada di rumah.

Sebenarnya, apa yang kami lakukan hanya meniru tetangga yang melatih anak-anaknya mandiri sejak kecil, termasuk tinggal sendiri saat orang tua kerja. Latihan ini sangat bagus dan membantu ketika mengalami masalah dengan asisten rumah tangga.

Kenangan
Tiba-tiba pikiran saya melayang jauh ke kampung ketika masih kanak-kanak seusia mereka pada 1980-an. Jangankan hanya tinggal sendiri, saya sudah jadi “tulang punggung” membantu orang tua. Mulai dari cari kayu bakar bersama teman-teman ke hutan, menanak nasi, timba air, tumbuk padi, dan momong adik-adik. Semua dikerjakan. Kadang kebebasan masa kanak-kanak terampas karena pekerjaan rumah tangga.

Praktik seperti ini jamak. Anak seusia pada keluarga-keluarga lain sekampung juga seperti itu. Sejak kecil sudah dilibatkan dalam pekerjaan rumah tangga. Semua dilakukan dengan ceria. Ternyata latihan-latihan kecil dan sederhana seperti ini membuat anak-anak dari kampung sangat mandiri dan pemberani. Mereka tidak takut menghadapi apa pun. Saking beraninya, ada yang merantau tanpa modal sedikit pun, termasuk bekal pengetahuan. Pokoknya berangkat saja, meninggalkan kampung halaman. Apa yang akan terjadi di sana tidak perlu dipikirkan. Ada pula yang saking beraninya lalu memilih menjadi tenaga kerja di luar negeri secara ilegal.

Saya kemudian teringat tulisan Profesor Renhald Kasali tentang bagaimana ia melatih mahasiswa di Universitas Indonesia untuk mandiri dan keluar dari zona nyaman sebagaimana diceritakan dalam tulisan ini. Ia menugaskan mahasiswa pergi keluar negeri yang tidak berbahasa melayu seperti Malaysia, Singapura, dan Brunai Darusalam. Para mahasiswa ini dilarang mendapat bantuan dari teman-teman, kerabat dan sanak keluarga, serta orang tua.

Hasilnya mencengangkan. Para mahasiswa pulang membawa beragam kisah menarik, termasuk tentang bagaimana tersesat di negeri orang. Berbagai cerita ini kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku ringan yang mungkin saja bisa menginspirasi banyak orang. Jejaknya bisa ditemukan di sini.

Saya bayangkan, kalau para mahasiswa ini adalah “anak-anak mama” dan tidak dilatih mandiri sejak kecil, pasti panik bukan kepalang ketika diceburkan ke negara lain. Apalagi kalau sampai tersesat di sebuah negara yang warganya sulit berbahasa Inggris seperti pengalaman saya tersesat di Rio de Janeiro saat liputan Piala Dunia 2014. Kalau mau tahu kisah tersesat saya itu, baca saja tulisan ini: Tersesat dan Terpaksa Menginap di Hotel Mesum. Jadi, pendidikan kemandirian sangat perlu diajarkan sejak dini. (Alex Madji)