Home Inspirasi Pelajaran Penting dari Perceraian Ahok-Vero

Pelajaran Penting dari Perceraian Ahok-Vero

1110
SHARE
Sumber Foto: Tribunnews.com

Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Rabu 4 April 2018 mengesahkan perceraian mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan Veronica Tan. “Menyatakan perkawinan antara penggugat dan tergugat berdasarkan kutipan akta perkawinan tertanggal 17 September 1997 putus karena perceraian dengan segala akibat hukumnya,” kata hakim Sutadji membaca putusan cerai Ahok-Vero di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat sebagaimana dikutip berbagai media.

Majelis hakim juga menetapkan Ahok mendapat hak asuh terhadap Nathania Berniece Zhong dan Daud Albeenner Purnama, dua anak Ahok-Vero, yang masih berada di bawah umur.

Putusan ini mungkin saja menyakitkan dan tidak bisa diterima oleh mereka yang mengagungkan dan mengelu-elukan keduanya. Tapi apa mau dikata, perceraian sudah terjadi.

Majelis hakim mengungkapkan, penyebab Ahok menggugat cerai Veronica Tan adalah adanya orang ketiga bernama Julianto Tio atau yang diberi nama sandi Medan Elang oleh Veronica. Dialah yang disebut Ahok sebagai “good friend” Vero dan memiliki hubungan istimewa dengan laki-laki tersebut.

Sejak pertama kali berita Ahok menggugat cerai Veronica Tan, nama Julianto Tio sudah ramai beredar di media sosial. Ia disebut-sebut sebagai mantan pacar Vero saat remaja di Medan sebelum akhirnya memutuskan menikah dengan Ahok. Hanya saja, tidak ada keterangan resmi dari Vero dan Julianto Tio terkait gosip tersebut.

Sumber Foto: Tribunnews.com

Saya tidak ingin masuk terlalu jauh ke masalah rumah tangga Ahok-Vero. Cuma ingin memetik pelajaran dari kasus mereka sebagai figur publik. Yang paling benderang, berdasarkan putusan hakim, penyebab perceraian Ahok-Vero adalah perselingkuhan. Ahok menggugat cerai Vero karena CLBK alias cinta lama bersemi kembali.

Karena itu, bagi Anda dan saya, berhati-hatilah dalam berhubungan dengan para mantan. Kalau tidak bisa mengendalikan diri lebih baik jangan membuka komunikasi dengan para mantan. Biarkan romantika masa lalu cukup menjadi kenangan dan harus tutup buku saat menikah dengan pasangan pilihan paling akhir.

Buku tersebut tidak boleh diintip lagi, apalagi dibuka. Sebab sekali dibuka, semua memori masa silam akan kembali. Suasana itu akan makin hidup ketika kondisi rumah tangga tidak nyaman karena berbagai persoalan lain.

Jadi, intinya, tidak perlu bermain api dengan mencari lagi jejak para mantan pacar atau jangan kepo dengan kondisi dan keadaan mereka kini. Biarkan mereka berjalan dengan urusannya dan kita urus diri sendiri dan keluarga. Atau, kita boleh saja berkomunikasi dengan mantan, asal dipastikan tidak melibatkan ‘rasa yang pernah ada’.

Pelajaran lain yang bisa dipetik dari kasus Ahok-Vero adalah, meminjam bahasa para agamawan, pentingnya “pertobatan”. Siapa pun bisa jatuh, tetapi sikap paling penting adalah selalu ada kerinduan untuk kembali dan tidak mengulangi kesalahan yang sama alias bertobat.

Kalau melihat bunyi putusan hakim, sepertinya Vero mengabaikan sikap ini. Sebab, sekali lagi berdasarkan pertimbangan hakim, Ahok sudah beberapa kali mengingatkan Vero untuk menghentikan komunikasi dengan “good friend”-nya. Pihak lain, seperti pendeta juga dilibatkan untuk menyampaikan hal yang sama. Namun, semua sia-sia. Sayang sekali, versi Vero terkait hal ini sangat minim informasi.

Seandainya saja ada sikap tobat yang permanen maka Ahok juga dituntut untuk memberi maaf atas kekhilafan pasangannya. Hanya dengan begitu, hubungan suami istri bisa berbalik.

Sumber Foto: Liputan6.com

Hanya memang, yang tidak terungkap di persidangan adalah kenapa Vero selingkuh. Apakah karena semata-mata terkenang romantisme masa remaja atau ada persoalan lain di pihak Ahok. Bila Ahok juga punya masalah maka ia seyogyanya berbenah. Tidak bisa hanya menuntut satu pihak sementara ia sendiri enggan menjalankan “tuntutan” (kalau ada) pasangannya. Mungkin saja selingkuh itu adalah pemberontakan terakhir Vero terhadap Ahok yang juga tidak memenuhi tuntutan Vero. Dengan kata lain, buang jauh-jauh sikap egoisme dan mau menang sendiri.

Yang tidak kalah penting adalah menjaga komunikasi. Komunikasi dengan pasangan harus berjalan bagus untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Persoalan apa pun dalam rumah akan terselesaikan dengan baik kalau komunikasi juga bagus. Catatannya, libatkan hati dalam berkomunikasi. Bukan hanya kepala. Sebab ada hal yang tidak logis, tapi masih bisa diterima oleh hati.

Hanya repotnya saat ini, orang lebih banyak bercakap dengan orang lain di luar rumah lewat berbagai media sosial dan mengabaikan orang yang sedang bersamanya. Pemandangan seperti itu jamak di temukan di tempat umum. Orang boleh saja duduk dalam satu meja tapi masing-masing sibuk dengan telepon pintar. Khawatirnya, apa yang terjadi di mal-mal itu juga terjadi di rumah. Akhirnya, komunikasi itu lama-lama akan redup dan pada saatnya mati.

Sebenarnya, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kasus perceraian Ahok-Vero. Apa yang saya sampaikan di atas juga berdasarkan pengalaman saya dalam menjalani hidup rumah tangga. Anda bisa tambahkan sendiri berdasarkan pengalaman hidup rumah tangga masing-masing. (Alex Madji)